Kamis, 12 Juni 2014

KPK Beri Rekomendasi Penyelenggaraan Haji

KPK Beri Rekomendasi Penyelenggaraan Haji

Ahlannawawi: ~ Jakarta, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberikan sejumlah rekomendasi kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terkait penyelenggaraan haji di kementerian tersebut.

"Secara spesifik kami ada rekomendasi mengenai penyelenggarana haji yaitu pertama saat ini adalah momentum untuk perbaikan terkait dengan revisi Undang-undang penyelenggaraan haji," kata Wakil Ketua KPK
Busryro Muqoddas dalam konferensi pers di gedung KPK Jakarta.

Konferensi pers tersebut dilaksanakan pasca pertemuan antara Menag Lukman Hakim
Saifuddin yang ditemani dengan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kemenag Abdul Jamin dengan jajaran pimpinan KPK yaitu Busyro Muqoddas dan
Bambang Widjojanto.

"Versi kami berdasarkan kajian-kajian deputi pencegahan maka diperlukan ada pemisahan
fungsi regulator dengan fungsi operator atau pelaksana," ungkap Busryo.

Selama ini, Kementerian Agama berfungsi sebagai pembuat aturan (regulator) sekaligus penyelenggara ibadah haji.

"Kedua, pentingnya penyelesaian peraturan atau aspek-aspek regulasi yang terkait penyelenggaraan ibadah haji berikut aturan pelaksanaanya," tambah Busyro.

Rekomendasi ketiga adalah untuk melakukan standarisasi komponen "indirect cost" haji dan kepatuhan pelaksanaannya. "Indirect cost" adalah setoran awal dari jamaah untuk biaya penyelenggaraan ibadah haji yang digunakan untuk membiayai operasional haji, service fee, hingga pengadaan kendaraan operasional petugas haji yang rentan penyimpangan.

"Yang terakhir adalah tentang kuota haji supaya bisa ditransparanasi. Tekanannya, kuota haji adalah menjadi hak utama dari calon jamaah ibadah haji sehingga ketika ada calon yang pada saatnya berangkat berhalangan karena meninggal atau masalah kesehatan, kursi-kursi yang kosong dikembalikan kepada jamaah haji yang sebelumnya sudah mengantri, bisa dibagi rata kepada calon-calon di daerah-daerah. Tentu ini terkait dengan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) di sana," jelas Busyro.

Busryo menjelaskan bahwa KPK pada 2008 telah melakukan kajian-kajian tentang sistem di Kemenag.

"Kala itu sudah ada 44 saran yang sudah disampaikan pimpinan KPK jilid 2. Dari 44 saran tersebut kami sudah sampaikan masih ada beberapa yang ditindaklajuti temasuk di sektor yang terkait dengan penyelenggaraan haji," tambah Busryo.

Dari 44 rekomendasi tersebut, sudah ada 29 butir yang sudah dilaksanakan sedangkan 15
butir lain masih dalam pelaksanaan atau penyempurnaan.

"Posisi KPK adalah perbaikan sistem, kami siap mengawal dan ada kesepakatan dari masing-masing. Kami optimis dengan Pak Menteri yang baru meski waktu jabatannya kurang dari 4 bulan," ungkap Busyro.

Lukman dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin (9/6), menggantikan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali yang ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penyelenggaraan haji 2012-2013 pada 22 Mei 2014.
(antara/mukafi niam)

Sumber: http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,52611-lang,id-c,nasional-t,KPK+Beri+Rekomendasi+Penyelenggaraan+Haji-.phpx

Kisah singkat nyai Ayu junti dengan ki Dampu awang

Kisah singkat nyai Ayu junti dengan ki Dampu awang.

Ahlannawawi: ~ "Nyai ayu junti mengadakan Sayembara dan Ki Dampu awang berhasil memenangi sayembara yang di buat nyai ayu junti. Namun nyai ayu junti tidak juga mau di nikahi ki Dampu awang, karena nyai tidak ada rasa cinta kepadanya."

Singkat cerita: "Kemudian ki Dampu memaksa nyai untuk mau dinikahinya, tetapi nyai tetap tidak mau. lalu keduanya bertarung. Nyai ayu junti berubah menjadi seekor kera. Sebenarnya nyai ayu junti merasa kewalahan bertarung dengan ki Dampu awang. Tetapi nyai belum saja mencintai ki Dampu awang."

"Pertarungan pun berlangsung, Kemudian ki Dampu awang berubah menjadi seekor macan, keduanya terus bertarung (saling menyerang)."

"Ki Dampu awang memang sakti, sehingga nyai sulit untuk mengalahkan ki Dampu awang."

Catatan: "artikel ini di buat dari budaya sandiwara"

Redaksi: elang

Syuriyah Wajah Lama, Tanfidziyah Ragam Latar Belakang

PCNU JEMBER
Syuriyah Wajah Lama, Tanfidziyah
Ragam Latar Belakang

Jember, Para Pengurus Cabang Nandlatul Ulam (PCNU) Jember periode 2014-2019, Senin
malam (9/6) diperkenalkan kepada warga NU di sela-sela pengajian Aswaja di halaman kantor NU Jember, JL. Imam Bonjol, Kaliwates.

Mereka adalah hasil Konfercab NU awal Juni lalu yang menahbiskan kembali KH. Abdullah Syamsul Arifin dan KH. Muhyiddin Abdusshomad sebagai nahkoda NU Jember.

Dalam sambutannya, KH. Abdullah Syamsul Arifin menegaskan bahwa NU bukan parpol, tapi siapapun pengurus parpol bisa menjadi pengurus NU asalkan mau mengabdi untuk NU.

“Saya pikir, mereka adalah kader-kader terbaik NU, yang bisa bekerja untuk kemajuan NU,” tukas Gus A’ab, sapaan akrabnya.

Dari rilis daftar nama PCNU terbaru di jajaran syuriyah masih didominasi wajah-wajah lama. Cuma ada rotasi posisi, misalnya di kursi katib ditampati oleh DR. MN. Harisuddin, M.Fil.I.  Dosen STAIN sekaligus Wakil Sekretris Yayasan Pendidikan NU ini, menggantikan KH. Hamid Hidir.

Sedangkan di jajaran tanfidziyah lebih beragam latar belakangnya, misalnya beberapa tokoh parpol masuk. Ada Moch. Eksan, S.Ag (Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Jember) masuk di jajaran wakil sekretaris, H. Karimullah (Partai Golkar) menjadi wakil bendahara. Demikian juga H. Miftahul Ulum (Ketua DPC PKB Kabupaten Jember) masih bertahan di kursi wakil ketua.

Selain itu, ada dua profesional yang juga masuk di deretan pengurus baru. Yaitu DR. Widodo, MH. (Dekan Fakultas Hukum, Universitas Jember) dan dr. H. Abdur Rouf (Kepala Puskesmas Mayang). Keduanya didapuk menjadi wakil sekretaris dan bendahara. ( aryudi a razaq/abdullah alawi)

Sumber: http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,52622-lang,id-t,Syuriyah+Wajah+Lama++Tanfidziyah+Ragam+Latar+Belakang-.phpx

Memuliakan dan menganggungkan Nabi Muhammad. Shollallohu 'Alaihi Wa Sallama

Memuliakan dan menganggungkan Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wa Sallama

Ahlannawawi: ~ Menurut Buya Yahya: "Hadirkan makna Syukur yang sesungguhnya, dan setelah itu tambahlah dengan janji 'bahwa kita akan terus melaksanakan perayaan sampai dicabutnya nyawa kita oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hingga sampai kita bertemu dengan Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wa Sallama"

Kemudian beliau berkata: "Ini keyakinan yang harus kita hadirkan, karena merayakan maulid Nabi adalah merayakan Nabi Muhammad. Kalau orang tidak faham makna ini, maka dia harus faham tentang Nabi Muhammad, yang tidak kenal makna ini, maka ia tidak kenal Nabi Muhammad"

"Nabi Muhammad adalah paling mulianya Nabi. Nabi Muhammad paling agungnya Nabi. Maka semua ada urusan sangkut pautnya dengan Nabi Muhammad. Maka hal itu paling baiknya segala sesuatu."

Beliau berkata: Jika Nabi kita adalah "Nabi paling mulia, maka kita menjadi umat yang paling mulia." karena Nabi Muhammad adalah Nabi yang paling mulia, maka ketahuilah "Keluarga Beliau adalah sebaik baik keluarga, dan kalau kita pengen tahu sahabat yang paling baik adalah sahabatnya Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam"

Kalau kita pengen tahu cara berpakaian yang paling bagus adalah cara berpakaiannya Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam. Kalau kita pengen tahu cara berjalan paling bagus adalah cara berjalannya Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam. Kalau pengen tahu cara tidur yang paling bagus adalah cara tidurnya Nabi Muhammad SAW" ujarnya

Kata beliau: Kalau ada orang ngomong berani berkata "cara berjalanku lebih bagus dengan cara berjalannya Nabi Muhammad" Ya keluar dari Iman. Kalau ada orang berani berkata "cara berpakaianku lebih bagus dengan cara berpakaiannya Nabi Muhammad" keluar dari Iman. Semua yang ada dengan sangkut pautnya dengan Nabi Muhammad, maka itu adalah sebaik baiknya segala sesuatu. Cara makan yang paling bagus adalah cara makannya Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wa Sallama"

Beliau pun berkata: Pertanyaannya "kelahiran yang paling bagus kelahirannya siapa? Nabi Muhammad. Kalau orang tidak memahami makna ini keluar dari Iman. Jadi kalau ada orang mengatakan "kelahiran Nabi Muhammad ma sama dengan kita, tak ada bedanya" hei dia tidak kenal Nabi Muhammad. (Sesungguhnya) Kelahiran yang paling mulia adalah kelahiran Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wa Sallama."

"Maka syukurilah syukurilah syukurilah, karena saat ini anda masih di pilih oleh Allah menjadi hamba hamba yang senang untuk menganggungkan kelahiran Nabi Muhammad." katanya

Kata beliau: "Maka (barangsiapa) yang menganggungkan cara berjalannya Nabi Muhammad (berarti) menganggungkan Nabi Muhammad, yang menganggungkan cara tidurnya Nabi Muhammad (berarti) menganggungkan Nabi Muhammad, yang menganggungkan cara berpakaian Nabi Muhammad (berarti) menganggungkan Nabi Muhammad, menganggungkan kelahiran Nabi Muhammad, tidak lain menganggungkan Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wa Sallama."

Catatan: Artikel ini adalah Tausiyahnya Buya Yahya, yang ​dibuat​ melalui Mp3 yang berjudul "Memuliakan dan Mencintai Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wa Sallama"

Redaksi: elang

Rabu, 11 Juni 2014

Warga Jemurwonosari Surabaya Jaga Tradisi Ziarah Wali

Warga Jemurwonosari Surabaya Jaga Tradisi Ziarah Wali

Ahlannawawi: ~ Surabaya, Hasil survei Alvara Research Center yang dirilis NU Online (5/6/14) “Mayoritas muslim kota mengaku Nahdliyin dan mempraktikkan ritual keagamaan seperti tahlilan 81,5%, Mauludan 89,2%, qunut subuh 77,3%. Namun untuk ziarah kubur hanya 48,7% yang mengaku menjalankannya,”.

Tradisi Nahdliyin yang terakhir khusus kota Surabaya bisa jadi tidak hanya 48,7%. Hal ini bisa dilihat di daerah Kelurahan Jemurwonosari Surabaya, di sana hampir mayoritas Nahdliyin sering melakukan ziarah ke makam para wali, apalagi di Surabaya ada makam wali terkenal, Sunan Ampel dan Sunan Bungkul. Seperti pengakuan Hartono warga Jemurwonosori yang sudah sering melakukan ziarah makam para wali, bahkan juga pernah menjadi ketua rombongan.

“Yang lebih istimewa kegiatan ziarah makam wali yang baru saja dilakukan 6-8 Juni lalu, disamping ziarah ke makam para wali mulai dari Surabaya sampai Kudus, kami berjumlah 60 orang juga ziarah ke makan para ulama/kiai dan study religi di beberapa pondok pesantren,” ungkap Hartono.

Tradisi seperti ini kata peserta ziarah Sampurno, hati ini terasa sejuk yang tidak hanya dirasakan saat ziarah saja, tapi juga saat study religi di pesantren. Di antaranya saat di Pesantren “Raudlatut Thullab” Wonosari Tempuran Magelang, Pesantren Putri “Al-Hidayat” Salaman Magelang dan Pesantren “Sunan Pandanaran” Sleman Yogyakarta. Di samping bisa ziarah ke makam pendiri pesantren, juga bisa sowan ke pengasuhnya yang meneruskan kepemimipan pesantren sekaligus bisa bertatap muka dan mendengarkan taushiyahnya yang berisi informasi kepesantrenan dan ilmu agama.

“Di sini juga bisa melihat langsung wajah-wajah kiai, ibu nyai, para santri yang penuh optimis, ramah-ramah dan hormat kepada para tamu,” katanya.

Tradisi ziarah seperti ini memang baru kali ini dilakukan. Itupun setelah jamaah yasin tahlil ”Al-Islah” yang kami ikuti menjadi ”Jam’iyyah” Al-Islah. Artinya setelah terbentuk kepengurusan mulai dari pelindung, penasehat, ketua, sekretaris, bendahara dan pengurus-pengurus lain sesuai kebutuhan. Sehingga program kegiatannya benar-benar terencana dan bisa dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti untuk peningkatan amal ibadah maupun kebersamaan antarwarga/tetangga.

Program kegiatan Jam’iyyah Al-Islah, kata Ketua Jam’iyyah Didik Pramono, di antaranya kegiatan pokok Yasinan dan Tahlilan secara bergiliran di rumah-rumah para anggota setiap setengah bulan sekali pada hari Jum’at malam Sabtu, kajian agama atau majelis ta’lim yang diadakan juga setengah bulan sekali pada hari Jum’at malam Sabtu, istighotsah bersama setiap dua bulan sekali, Kegiatan PHBI atau Peringatan Hari-hari Besar Islam, memberikan santunan semampu dan secukupnya terhadap jamaah yang jatuh sakit atau meninggal dunia, dan Kegiatan ziarah para wali dan ulama serta study religi ke beberapa pondok pesantren. (ma’ruf asrori/mukafi niam)

Sumber: http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,52609-lang,id-c,daerah-t,Warga+Jemurwonosari+Surabaya+Jaga+Tradisi+Ziarah+Wali-.phpx
(Rabu, 11/06/2014 11:05)

Hukum Menggunakan Buku Primbon

Hukum Menggunakan Buku Primbon
Ahlannawawi

Assalamu'alaikum.Wr. Wb. Bapak Ustadz. Saya mau bertanya seputar adat atau kebiasaan seseorang yang menggunakan primbon, seperti: 1. Kalau mau membuka warung harus menunggu hari yang bagus (Kamis legi dll); 2. Jika mau menikahkan Anaknya menunggu atau ditepatkan dengan hari kelahirannya (padahal hari kelahirannya masih lama); 3. Apabila mau bangun rumah menanti hari yang Bagus (Rabu legi dll). Yang menjadi pertanyaan saya, Apakah ada pengajaran dalam kitab kuning dll dalam agama Islam terkait Topik tersebut?. Wassalamu'alaikum. Wr. Wrb. Terima Kasih. (Syaiful, Jawa Timur)

--

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bapak Syaiful yang kami hormati, Islam tidak mengajarkan tentang berpegang pada waktu tertentu entah itu jam, hari, bulan, atau pasaran (Pon, Wage, dll.) untuk memulai sesuatu yang baik. Islam mengajarkan agar membaca Basmalah untuk memulai pekerjaan yang baik kapanpun itu. Dalam sebuah hadits yang statusnya hasan lighairihi disebutkan:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله فهو أقطع-- رواه ابن حبان

Artinya: Setiap perbuatan baik yang tidak diawali dengan bismillah adalah terputus (HR. Ibn Hibban)

Dalam ajaran membaca basmalah ini terkandung maksud untuk selalu menggantungkan semuanya kepada Allah dan bahwa sesuatu terjadi hanya dengan seizin-Nya. Untuk itu kita harus selalu husnudz-dzon (berbaik sangka) kepada Allah SWT. Prasangka kita terhadap Allah akan kembali pada diri kita sendiri, begitulah yang disebutkan dalam salah satu hadits qudsi.

Kemudian, Apakah ada pengajaran dalam kitab kuning tentang primbon? Kalau tentang pasaran (wage, legi dll.) jelas tidak ada. Tapi, ada metode penentuan waktu tertentu untuk melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda seperti yang ditanyakan di atas.

Dalam khazanah keilmuan pesantren ada sebuah kitab Astrologi (ilmu perbintangan) yang ditulis oleh Ilmuwan muslim pada zaman Abbasiyah, Abu Ma’syar Al-Falaki. Beliau adalah murid Al-Kindi. Kitab yang beliau tulis berjudul seperti nama penulisnya sendiri, Abu Ma’syar Al-Falaki. Dulu, kitab tersebut banyak beredar di pesantren-pesantren salaf. Dalam kitab tersebut dijelaskan waktu-waktu tertentu, watak manusia yang lahir di waktu tertentu (seperti layaknya zodiak), dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya silahkan rujuk kitab tersebut.

Selanjutnya, yang terpenting menurut kami bukan masalah ada dan tidaknya kitab seperti itu, melainkan bagaimana kita menyikapi data-data yang disebutkan oleh penulis kitab yang dimaksud agar kita tetap berada pada jalan yang benar dalam keimanan. Kitab Astrologi seperti itu hanya boleh dijadikan sebagai data sementara untuk kita melakukan sesuatu, sedangkan hasil yang akan terjadi tetap kita serahkan pada Allah SWT, karena Allah SWT yang mempengaruhi segalanya. Jika kita menyikapi begitu, sebagian ulama memperbolehkan. Ini bisa kita lihat dalam kitab Ghayatu Talkhishi Al-Murad min Fatawi ibn Ziyad, Hamisy Bughyatul Mustarsyidin, hal. 206 ;

مسألة: إذا سأل رجل آخر: هل ليلة كذا أو يوم كذا يصلح للعقد أو النقلة؟ فلا يحتاج إلى جواب، لأن الشارع نهى عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجراً بليغاً، فلا عبرة بمن يفعله، وذكر ابن الفركاح عن الشافعي أنه إن كان المنجم يقول ويعتقد أنه لا يؤثر إلا الله، ولكن أجرى الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا، والمؤثر هو الله عز وجل، فهذا عندي لا بأس به، وحيث جاء الذم يحمل على من يعتقد تأثير النجوم وغيرها من المخلوقات

Artinya: Jika seorang bertanya kepada orang lain, apakah malam tertentu atau hari tertentu cocok untuk akad nikah atau pindah rumah? Maka tidak perlu dijawab, karena syariat melarang meyakini hal yang demikian itu bahkan sangat menentang orang yang melakukannya. Ibnul Farkah menyebutkan sebuah riwayat dari Imam Syafii bahwa jika ahli astrologi berkata dan meyakini bahwa yang mempengaruhi adalah Allah, dan Allah yang menjalankan kebiasaan bahwa terjadi demikian di hari demikian sedangkan yang mempengaruhi adalah Allah. Maka hal ini menurut saya tidak apa-apa, karena yang dicela apabila meyakini bahwa yang berpengaruh adalah nujum dan makhluk-makhluk (bukan Allah).
  
Bapak Syaiful yang baik, kita harus selalu menjaga keimanan kita. Waktu-waktu tertentu yang ada dalam primbon jangan sampai membuat keimanan kita berpaling kepada selain Allah SWT. Semua waktu itu baik asalkan digunakan untuk melakukan kebaikan, boleh digunakan untuk memperkuat kemantapan hati. Namun hendaknya kita selalu berbaik sangka kepada Allah SWT dan memulai melakukan segala hal yang baik dengan membaca basmalah. Semoga langkah-langkah kita dalam kehidupan ini selalu diridhoi oleh Allah SWT. Aaamiin…

والله أعلم بالصواب

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ihya’ Ulumuddin

Sumber: http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,59-id,52607-lang,id-c,bahtsul+masail-t,Hukum+Menggunakan+Buku+Primbon-.phpx
(Rabu, 11/06/2014 07:02)

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak

Ahlannawawi: ~ "Disadari atau tidak, Indonesia adalah lahan penyebaran petroreligiositas. Petroreligiositas adalah lahirnya transformasi keberagamaan negara-negara kaya minyak. Di dunia Islam, negara yang gencar menyebarkan petroreligiositas adalah Arab Saudi dan Iran. Arab Saudi dengan paham salafi-wahabinya dan Iran dengan syiahnya. Melalui dana miyak yang melimpah, mereka menyebarkan pahamnya ke seluruh dunia. Bahkan antar keduanya telah terjadi semacam kontestasi yang saling menegasikan."

Melalui kekuatan Rabitah Alam Islami dan buku-buku gratis yang dibagikan kepada para jamaah haji, arab Saudi menyebarkan pahamnya. Arab Saudi juga aktif memobilisasi dan mendanai gerakan jihad internasional seperti di Afghanistan waktu invasi Sovyet dan perang Bosnia. Iran pun juga sama. Mereka mengekspor Revolusi Islamnya ke seluruh dunia, salah satunya melalui organisasi Jamaah Dakwah. Iran juga berperan aktif di Irak, Afghanistan, Lebanon, Bahrain, Yaman  melalui  partai-partai dan milisi lokal.

Jihad pun tak lagi murni sebuah ibadah. Jihad internasional telah menjadi pertaruhan perebutan kuasa politik antara Iran dan Arab Saudi. Semasa perang Bosnia (1992-1995), ditemukan dua kelompok mujahidin internasional yang berafiliasi baik dengan Iran maupun Saudi. Ada mujahidin syiah bentukan Hezbollah dukungan Iran. Kesatuan mujahidin ini berasal dari kombinasi pejuang Palestina, Lebanon, syiah Afghan dan Iran. Di sisi lain, Arab Saudi melatih dan mendanai veteran perang Afghan dalam jihad di Bosnia. Poros mujahidin pro Saudi ini terdiri dari kombinasi para pejuang sunni Turki, Albania, Arab Saudi, Afghanistan dan sukarelawan Eropa.

Petroreligiositas juga merambah Indonesia. Bentuknya berupa transformasi pemikiran melalui buku-buku, yayasan, pesantren dan sekolah Islam yang berafiliasi dengan keduanya. Kaum Wahabi-Salafi juga pernah berjihad di Ambon. Salafi dan syiah juga saling berkontestasi dalam ruang religiositas Indonesia. keduanya saling berseteru dan menjadikan kaum sunni tanah air sebagai basis massa untuk diperebutkan.

NU dengan kekuatan basis massa tradisionalnya merupakan sasaran empuk gerakan petroreligiositas. Basis massa NU digerogori sedikit demi sedikit. Jika puluhan tahun lalu, basis NU di Jawa adalah sepenuhnya NU, kini tidak lagi. Di Madura, telah bersemi gerakan Syiah dan Salafi. Syiah dan salafi juga muncul dengan ambisius di basis terkuat NU mulai Bangil, Pekalongan, Jember, Bondowoso, Kediri, Jombang, Gresik, Banyuwangi, Cirebon dan Surabaya. 

Salafi dan syiah bergerak dengan dua titik. Pertama, ruang urban di perumahan-perumahan di kota, kedua di pedesaan terpencil. Ini merupakan taktik kaum petroreligiositas. Di perumahan-perumahan modern, kaum transnasional bisa dengan mudah mendapat kader. Sebab sosiologisnya karena ikatan warga penghuni perumahan relatif longgar. Warga perumahan pada dasarnya merupakan kalangan terpelajar kelas menengah keatas namun minim ilmu agama. Gerakan petroreligiositas dengan gigih berupaya merebut massa kalangan profesional. Mereka dengan bangga akan mengatakan ke hadapan publik bahwa kader dan simpatisannya merupakan kalangan terpeelajar dan profesional.

Kalangan awam di pedesaan terpencil juga merupakan sasaran empuk. Taktik yang dipakai mirip misionaris. Menyantuni kaum miskin sambil menyebarkan pahamnya. Baik di perumahan maupun kawasan terpencil NU relatif bergerak. Di perumahan kaum urban, NU relatif sulit didekati karena longgarnya basis soliditas antar warga. Kaum urban juga terkadang sinis terhadap para kiai dan ustadz NU yang dianggap konservatif dan tradisional. Di kawasan terpencil, NU terkena stigma sebagai pelindung kaum abangan. Posisi NU di kawasan terpencil kadang kalah gesit dengan ormas lokal Hidayatullah dan DDII. Dalam beberapa kasus sering dijumpai kalau gerakan Islam transnasional bisa berkembang karena memanfaatkan massa Islam modernis yang lebih dulu ada.

Bagi kalangan urban, para tokoh NU yang berstatus akademisi atau mereka yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi wajib didayagunakan. Kombinasi antara kiai salaf dengan kiai universitas wajib dilakukan demi dakwah di kota-kota. Tanpa dukungan akademisi, dakwah NU akan diminorkan kaum urban. Di desa terpencil, NU harus lebih kreatif dalam melindungi kaum abangan diantaranya dengan perbaikan syariat secara perlahan. Sebabnya, Kaum transnasional sering mendudukkan kaum abangan sebagai sasaran dakwah. Simpati terhadap Dakwah salafi-wahabi sebenarnya lebih banyak berasal dari kalangan abangan, bukan nahdliyyin. Kaum abanganlah penyumbang terbesar kader salafi-wahabi di Indonesia.

Petroreligiositas adalah fakta global abad ini. Meskipun terlihat kuat dan tangguh, namun petroreligiositas rapuh di dalam karena digerakkan berdasar uang. Petroreligiositas juga rapuh karena berdasar kombinasi antara dakwah dan politik.

Oleh Syarif Hidayat Santoso, alumni hubungan internasional FISIP UNEJ, warga NU Sumenep.

Dikutip: http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,52167-lang,id-c,kolom-t,NU+dan+Serangan+Paham+Keagamaan+Negara+Kaya+Minyak-.phpx
Terbitan: (Kamis, 22/05/2014 17:16)