Rabu, 11 Juni 2014

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Bid’ah

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Bid’ah

Ahlannawawi: Ada tradisi umat Islam di banyak negara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunai, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, dan lain sebagainya, untuk senantiasa melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti Peringatan Maulid Nabi SAW, peringatan Isra’ Mi’raj, peringatan Muharram, dan lain-lain.

Bagaimana sebenarnya aktifitas-aktifitas itu? Secara khusus, Nabi Muhammad SAW memang tidak pernah menyuruh hal-hal demikian. Karena tidak pernah menyuruh, maka secara spesial pula, hal ini tidak bisa dikatakan “masyru’” [disyariatkan], tetapi juga tidak bisa dikatakan berlawanan dengan teologi agama.

Yang perlu kita tekankan dalam memaknai aktifitas-aktifitas itu adalah “mengingat kembali hari kelahiran beliau –atau peristiwa-peristiwa penting lainnya– dalam rangka meresapi nilai-nilai dan hikmah yang terkandung pada kejadian itu”.

Misalnya, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Itu bisa kita jadikan sebagai bentuk “mengingat kembali diutusnya Muhammad SAW” sebagai Rasul. Jika dengan mengingat saja kita bisa mendapatkan semangat-semangat khusus dalam beragama, tentu ini akan mendapatkan pahala. Apalagi jika peringatan itu betul-betul dengan niat “sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW”.

Dalam Shahih Bukhari diceritakan, sebuah kisah yang menyangkut tentang Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah budak [perempuan] Abu Lahab [paman Nabi Muhammad [SAW]. Tsuwaibah memberikan kabar kepada Abu Lahab tentang kelahiran Muhammad [keponakannya], tepatnya hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah. Abu Lahab bersuka cita sekali dengan kelahiran beliau. Maka, dengan kegembiraan itu, Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah. Dalam riwayat disebutkan, bahwa setiap hari Senin, di akhirat nanti, siksa Abu Lahab akan dikurangi karena pada hari itu, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Abu Lahab turut bersuka cita. Kepastian akan hal ini tentu kita kembalikan kepada Allah SWT, yang paling berhak tentang urusan akhirat.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara seremonial sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, dimulai oleh Imam Shalahuddin Al-Ayyubi, komandan Perang Salib yang berhasil merebut Jerusalem dari orang-orang Kristen. Akhirnya, setelah terbukti bahwa kegiatan ini mampu membawa umat Islam untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW, menambah ketaqwaan dan keimanan, kegiatan ini pun berkembang ke seluruh wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia. Kita tidak perlu merisaukan aktifitas itu. Aktifitas apapun, jika akan menambah ketaqwaan kita, perlu kita lakukan.

Tentang pendapat Ulama dan Pemerintah Arab Saudi itu, memang benar, sebagaimana yang kami tulis di atas. Tetapi, jika kita ingin 100% seperti zaman Nabi Muhammad SAW, apapun yang ada di sekeliling kita, jelas tidak ada di zaman Nabi. Yang menjadi prinsip kita adalah esensi. Esensi dari suatu kegiatan itulah yang harus kita utamakan.

Nabi Muhammad SAW bersabda : ‘Barang siapa yang melahirkan aktifitas yang baik, maka baginya adalah pahala dan [juga mendapatkan] pahala orang yang turut melakukannya’ (Muslim dll). Makna ‘aktifitas yang baik’ –secara sederhananya–adalah aktifitas yang menjadikan kita bertambah iman kepada Allah SWT dan Nabi-Nabi-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW, dan lain-lainnya.

Masalah Bid’ah:
Ibnu Atsir dalam kitabnya “Annihayah fi Gharibil Hadist wal-Atsar” pada bab Bid’ah dan pada pembahasan hadist Umar tentang Qiyamullail (sholat malam) Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, bahwa bid’ah terbagi menjadi dua : bid’ah baik dan bid’ah sesat. Bid’ah yang bertentangan dengan perintah qur’an dan hadist disebut bid’ah sesat, sedangkan bid’ah yang sesuai dengan ketentuan umum ajaran agama dan mewujudkan tujuan dari syariah itu sendiri disebut bid’ah hasanah.

Ibnu Atsir menukil sebuah hadist Rasulullah “Barang siapa merintis jalan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang orang yang menjalankannya dan barang siapa merintis jalan sesat maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang menjalankannya”.

Rasulullah juga bersabda “Ikutilah kepada teladan yang diberikan oleh dua orang sahabatku Abu Bakar dan Umar”. Dalam kesempatan lain Rasulullah juga menyatakan “Setiap yang baru dalam agama adala Bid’ah”. Untuk mensinkronkan dua hadist tersebut adalah dengan pemahaman bahwa setiap tindakan yang jelas bertentangan dengan ajaran agama disebut “bid’ah”.

Izzuddin bin Abdussalam bahkan membuat kategori bid’ah sbb : 1) wajib seperti meletakkan dasar-dasar ilmu agama dan bahasa Arab yang belum ada pada zaman Rasulullah. Ini untuk menjaga dan melestarikan ajaran agama.Seperto kodifikasi al-Qur’an misalnya. 2) Bid’ah yang sunnah seperti mendirikan madrasah di masjid, atau halaqah-halaqah kajian keagamaan dan membaca al-Qur’an di dalam masjid. 3) Bid’ah yang haram seperti melagukan al-Qur’an hingga merubah arti aslinya, 4) Bid’ah Makruh seperti menghias masjid dengan gambar-gambar 5) Bid’ah yang halal, seperti bid’ah dalam tata cara pembagian daging Qurban dan lain sebagainya.

Syatibi dalam Muwafawat mengatakan bahwa bid’ah adalah tindakan yang diklaim mempunyai maslahah namun bertentangan dengan tujuan syariah. Amalan-amalan yang tidak ada nash dalam syariah, seperti sujud syukur menurut Imam Malik, berdoa bersama-sama setelah shalat fardlu, atau seperti puasa disertai dengan tanpa bicara seharian, atau meninggalkan makanan tertentu, maka ini harus dikaji dengan pertimbangan maslahat dan mafsadah menurut agama. Manakala ia mendatangkan maslahat dan terpuji secara agama, ia pun terpuji dan boleh dilaksanakan. Sebaliknya bila ia menimbulkan mafsadah, tidak boleh dilaksanakan.(2/585)

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa bid’ah terjadi hanya dalam masalah-masalah ibadah. Namun di sini juga ada kesulitan untuk membedakan mana amalan yang masuk dalam kategori masalah ibadah dan mana yang bukan. Memang agak rumit menentukan mana bid’ah yang baik dan tidak baik dan ini sering menimbulkan percekcokan dan perselisihan antara umat Islam, bahkan saling mengkafirkan.

Selayaknya kita tidak membesar-besarkan masalah seperti ini, karena kebanyakan kembalinya hanya kepada perbedaan cabang-cabang ajaran (furu’iyah). Kita diperbolehkan berbeda pendapat dalam masalah cabang agama karena ini masalah ijtihadiyah (hasil ijtihad ulama).
Sikap yang kurang terpuji dalam mensikapi masalah furu’iyah adalah menklaim dirinya dan pendapatnya yang paling benar.

—————
Tulisan ini sebelumnya adalah bagian dari kolom tanya jawab di situs Pesantren Virtual (PV). NU Jombang Online menyajikan bagian jawaban dari kolom tersebut, sehingga menjadi sebuah artikel yang enak dibaca.

Sumber: http://jombang.nu.or.id/peringatan-maulid-nabi-muhammad-saw-dan-bidah/
Terbitan: Oleh: M. Luthfi Thomafi (Pengasuh di Pesantren Virtual)

Hubungan NU Indonesia dan Afganistan Bersifat Teologis

Hubungan NU Indonesia dan Afganistan Bersifat Teologis

Ahlannawawi: Jakarta; Hubungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang baru saja didirikan di Afganistan dengan NU yang ada di Indonesia tidak bersifat struktural dan organisatoris. NU Afganistan bukan cabang istimewa NU (PCINU), namun organisasi baru yang didirikan oleh ulama setempat dan terinspirasi dari NU yang ada di Indonesia.

“Hubungan NU Indonesia dan Afganistan lebih bersifat teologis karena kita sama-sama menganut ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Dalam hal aqidah mereka juga menganut Al-Asy’ari dan Maturidi. Dalam hal fiqih mereka lebih condong ke Imam Hanafi sementara kita mayoritas Syafi’iyah,” kata Wakil Sekjen PBNU H Abdul Munim DZ kepada NU Online di Jakarta, Kamis (22/5).

Dijelaskan, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama atau PCINU didirikan dan beranggotakan warga Indonesia yang ada di luar negeri. Sementara NU Afganistan didirikan oleh ulama Afganistan sendiri dan akan disahkan oleh pemerintah setempat.

Seperti diwartakan, sejumlah ulama yang berafiliasi dengan Taliban pada 5 Mei 2014 lalu di kota Kabul membentuk organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di sana.  Sama seperti NU di Indonesia, organisasi yang baru dibentuk ini akan mengembangkan ajaran Islam yang toleran dan moderat, serta menyadarkan ulama dan masyarakat setempat tentang pentingnya persatuan serta saling menghargai antara satu dengan lainya.

Pembentukan NU di Afganistan merrupakan hasil pertemuan 20 ulama yang berasal dari propinsi Maidan Wardak, Propinsi Pansjir, Kota Kabul, Propinsi Parwan dan Propinsi Jalalabad. Diharapkan organisasi baru ini akan menjadi forum komunikasi antar ulama yang diterima oleh berbagai pihak yang tengah bertikai di Afghanistan.

Mun’im DZ membenarkan, pembentukan NU di Afganistan itu merupakan tindak lanjut dari beberapa kali kunjungan delegasi NU ke Afganistan dan dibalas kunjungan ulama Afganistan ke Indonesia. Di Indonesia bahkan para ulama Afganistan diajak berkeliling ke beberapa pesantren.

“Di pesantren itu mereka merasa terharu menyaksikan anak-anak santri menjalankan amaliyah Aswaja. Mereka ingin mengembalikan suasana seperti itu karena di sana sudah hampir hilang akibat perang selama 32 tahun,” kata Mun’im yang menjadi bagian dari “misi perdamaian” ke Afganistan itu bersama KH As’ad Said Ali, KH Saifuddin Amsir dan delegasi PBNU lainnya.

Beberapa tahun terakhir, dalam suasana perang, Afganistan diberondong paham-paham keislaman yang keras seperti Wahabi dan Ihwanul Muslimin. Pembentukan organisasi NU yang mengajarkan sikap keberagamaan yang tawassut (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran) diharapkan dapat menurunkan tensi konflik antar kelompok yang bertikai di Afganistan. PBNU juga telah memberikan beasiswa kepada 20 mahasiswa dari Afganistan yang mewakili beberapa provinsi di sana untuk kuliah di perguruan tinggi NU dan belajar banyak tentang Islam Indonesia.

Ditambahkan Mun’im, dalam waktu dekat organisasi NU Afganistan akan diresmikan. PBNU juga sudah menerima undangan dan akan hadir dalam peresmian itu. 
(A. Khoirul Anam)

Gambar: Dua ulama Afganistan saat berada di kantor PBNU, September 2013 lalu

Dikutip: http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,52164-lang,id-c,internasional-t,Hubungan+NU+Indonesia+dan+Afganistan+Bersifat+Teologis-.phpx
Terbitan: (Kamis, 22/05/2014 16:01)

Melestarikan Ide Gus Dur

Melestarikan Ide Gus Dur

Ahlannawawi: Konstitusi sudah berbicara secara gamblang tentang kehidupan beragama dan menjamin kebebasan beragama.

Selain sebagai politisi, Yenny Wahid juga dikenal sebagai aktivis Islam. Wajar bila dia paham seluk-beluk Islam dan pluralisme. Seperti halnya sang ayah, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terlahir dalam lingkungan keluarga Nakhdlatul Ulama (NU). Pola pikirnya pun tidak jauh dengan Gus Dur yang lebih mengedepankan Islam moderat, menghargai pluralism, dan pembawa damai. Bekalangan ini, Indonesia mengalami krisis pluralisme konflik sara terus menghantui kehidupan bernegara dan bangsa.

Bila kondisi seperti itu terus berlangsung bisa mengancam kelangsungan hidup bernegara. Menurut perempuan bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid ini, yang dibutuhkan saat ini adalah ketegasan pemerintah. Apakah pemerintah mau menegakan konstitusi atau tidak? Konstitusi sudah berbicara secara gamblang tentang kehidupan beragama dan menjamin kebebasan beragama. Selama masih percaya sama Tuhan, mereka punya tempat untuk hidup di Indonesia.

Yang tidak ada tempat di Indonesia hanya atheis. "Saya melihat, kenapa pluralisme memudar karena pemerintah tidak berani bertindak tegas terhadap kelompok anarki atau garis keras. Ketika mereka diberi ruang, mereka akan bertambah over acting," ujar perempuan kelahiran Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1874. Pembakaran kampung Ahmadiyah di Cisalada, Ciampea, Kabupaten Bogor misalnya, menurut Yenny ada yang menggerakkan.
Ia tidak percaya bahwa yang membakar adalah warga setempat. Hasil pengamatan yang ia lakukan menyebutkan bahwa warga setempat tidak membakar, yang membakar datang dari luar. "Warga Ahmadiyah di Bogor sudah cukup lama. Sudah bertahun-tahun. Begitu juga di daerah lain. Mereka di sini semenjak tahun 1950-an. Kalau mau ribut, seharusnya sejak dari dulu. Artinya, konfl ik ini disengaja. Ada sebuah kesengajaan.
Siapa yang melakukan itu saya tidak tahu," tambahnya. Diakui Yenny, ia sendiri tidak paham dan tidak setuju dengan ajaran Ahmadiyah yang mengatakan nabi akhir adalah Mirza Ghulam Ahmad. Baginya, nabi akhir tetap Nabi Muhammad. Meski demikian, bukan berarti melarang jamaah Ahmadiyah beragama. Warga Ahmadiyah punya hak menyakini apa yang mereka percaya.

Perkara benar atau tidak, itu urusan warga Ahmadiyah dengan Tuhan. "Kita ini bukan Tuhan atau malaikat. Kita tidak berhak mengeksekusi atas keyakinan mereka. Nabi Muhammad saja tidak bisa membuat pamannya masuk Islam. Apakah pamannya tersebut dieksekusi? Tidak. Malah pamannya melindungi Nabi Muhammad dalam mengembangkan ajaran Islam," ulas ibu satu anak ini. Masih kata Yenny, perbedaan aliran seperti ini tidak hanya ada dalam Islam.

Dalam dalam Kristen pun juga ada, tapi mereka tidak saling melakukan kekerasan satu sama lain. Perang yang mereka lakukan adalah perang meyakinkan orang. Kita harus sadar, warga Ahmadiyah adalah rakyat Indonesia dan bayar pajak. Makanya mereka berhak diperlakukan sebagai warga negara Indonesia untuk mendapatkan rasa aman dan bebas beribadah sesuai keyakinannya.
"Kecuali tidak bayar pajak dan mau mengikuti aturan, baru ditangkap." 

Dalam hal ini Yenny memberikan contoh tentang NU. Ia bercerita tentang perlakukan Wahabi di Arab Saudi terhadap warga NU. Oleh Wahabi, Islam NU dianggap Islam yang melenceng. Dulu waktu pergi haji - warga NU di larang berdoa karena haram. "Masa perlakuan seperti itu, juga diberlakukan pada Ahmadiyah?

Wahid Institute
Dari silsilah keluarga Yenny bukanlah anak pertama, ia anak kedua dari empat bersaudara. Namun secara talenta politik, ia punya bakat bisa melanjutkan estafet kepemimpinan Gus Dur. Sebelum mendampingi sang ayah sewaktu jadi presiden, Yenny sempat menjadi koresponden koran terbitan Australia, Th e Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne).

Ketika Gus Dur jadi Presiden, selain menjadi mata dan telinga bagi sang ayah, ia juga sering memberikan berbagai masukan tentang isu yang sedang hangat terjadi, baik di dalam maupun luar negeri. Ia mengakui bahwa mendampingi ayahnya tidaklah mudah. Perlu banyak kesabaran, pengertian dan cinta. Yenny juga kadang membacakan isi surat kabar untuk ayahnya meski terkadang beritanya termasuk berita buruk.

Yenny kini dipercaya menjabat direktur The Wahid Institute, sebuah lembaga kajian Islam dan kebudayaan yang diprakarsai Gus Dur bersama rekan-rekannya. Ketika ditemui di The Wahid Institute, pada sore hari, sarjana desain dan komunikasi visual dari Universitas Trisakti ini bercerita seputar visi dan misi lembaganya. Menurut Yenny, tujuan dirikanmya The Wahid Institute yakni ingin menyebarkan gagasan bahwa Islam adalah agama cinta damai dan toleran.

Yenny menambahkan, Islam sekarang ini sering disalahpahami sebagai agama yang penuh kekarasan. Itu lantaran ada sebagian umat yang menggunakan kekerasan. Ini harus diluruskan. "Kalau Islam mau menang sendiri, kenapa tidak dari dulu saja. Semenjak negara ini mau berdiri, langsung nyatakan Indonesia sebagai negara Islam. Tapi itukan tidak terjadi. Indonesia tetap negara republik dan tidak menggunakan Piagam Jakarta.
Masak kita harus mengikari sejarah dan menyingkirkan minoritas secara tidak baik. Kita boleh beda tapi jangan anarkis," jelasnya. Sisi lain yang menarik dari sosok Yenny adalah keterlibatannya dalam ranah politik yang sampai sekarang masih terus menjadi bahan berita. 

Terutama tentang islah dengan kubu Muhaimin Iskandar dalam tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Secara diplomasi Yenny menerangkan, islah adalah ajakan nan baik. Secara konsep islah adalah pertemuan antara dua orang yang sama-sama benar. Islah bisa saja terjadi apabila mengakui Gus Dur sebagai ketua dewan syuro. Memang ada yang mengatakan bahwa Gus Dur sudah tidak ada, tapi sosoknya tidak bisa disisihkan dari sejarah PKB.

Islah yang ditawarkan Muhaimin dasarnya adalah muktamar Ancol yang memecat Gus Dur. "Kalau mau islah dasarnya muktamar Semarang. Toh di sana Muhaimin juga diberi posisi. Buat saya itu harga mati. Ia mau beri jabatan setinggi apapun, kalau tidak ada pengakuan terhadap Gus Dur percuma, tidak akan saya terima. Saya tidak cari jabatan," tegas Yenny.
Sumber Berita: Koran Jakarta, Minggu, 24 Oktober 2010

Sumber: http://www.gusdur.net/Berita/Detail/?id=509/hl=id/Melestarikan_Ide_Gus_Dur
Terbitan: Senin, 25 Oktober 2010 13:45


Akbar Tandjung: Negara Tak Boleh Membiarkan Kekerasan Terhadap Kelompok yang Dianggap Berbeda

Akbar Tandjung: "Negara Tak Boleh Membiarkan Kekerasan Terhadap Kelompok yang Dianggap Berbeda"

Ahlannawawi: JAKARTA: Perbedaan pandangan atau keyakinan dari mainstream tidak bisa jadi alasan negara membiarkan warga negara mendapatkan kekerasan dari siapapun. Negara, menurutnya bahkan wajib menjamin keyakinan sekaligus melindungi setiap warga negara dari aksi-aksi kekerasan. Demikian disampaikan tokoh senior Golkar Akbar Tandjung di kediamannya di Jalan Purnawarman Jakarta Selatan, Jumat (15/10).
Pernyataan itu dilontarkanya ketika merespon peristiwa penyerangan terhadap rumah dan masjid milik warga di Kampung Cisalada, Desa Ciampea Udik, Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Mantan Ketua DPR RI ini juga mengaku sedih mendengar jika aksi itu juga menyebabkan puluhan al-Quran terbakar. "Al-Qurannya kan sama dengan yang dibaca muslim pada umumnya," tandasnya.
Akbar juga tak setuju jika kelompok keagamaan yang dianggap menyimpang oleh kelompok lain bisa langsung dibubarkan pemerintah. Selagi tidak melanggar konstitusi, tegasnya, negara tidak bisa membubarkan mereka. Dan itu bagian dari amanat yang ditegaskan undang-undang. Meski demikian ia juga menghormati masyarakat yang memiliki pandangan berbeda dan menilai bahwa kelompok tertentu dinilai menyimpang lalu melakukan tekanan-tekanan kepada negara. Tapi dalam kondisi seperti itu, negara tak boleh takut terhadap tekanan tersebut dan selalu berpegang pada konstitusi. "Sebab itulah prinsip kita bernagara katanya," katanya lagi. Negara, lanjutnya harus mampu melindiungi kelompok minoritas sekaligus menjaga kemajemukan bangsa.
Jumat pagi, the wahid Institute sengaja menyambangi kediaman lelaki kelahiran Sibolga, Sumatera Utara 65 tahun silam ini untuk mengorek dan berbagai pandangan serta pengalaman tentang sosok Gus Dur. "Gus Dur itu pejuang demokrasi dan toleransinya," tandas lelaki yang hari itu mengenakan batik. Kepada Wahid Institute, ia juga menceritakan beberapa pengalaman penting selama mengenal Gus Dur.
Akbar adalah salah satu tokoh yang menjadi narasumber untuk buku tentang Gus Dur yang rencananya diterbitkan menjelang haul (setahun kematian--red) Gus Dur pada Desember 2010. Buku itu akan berisi pengalaman banyak orang tentang sosok Gus Dur, mulai dari tokoh bangsa, tokoh agama, politisi, maupun kelompok marjinal. Selain Akbar beberapa narasumber yang berhasil diwawancarai adalah mantan Wapres RI Jusuf Kalla, musisi Iwan Fals, Ahmad Dhani, penyanyi dangdut Inul Daratista, dan selebritis serba bisa Dorce Gamalama  (AMDJ) []

Sumber: http://www.gusdur.net/Berita/Detail/?id=508/hl=id/Akbar_Tandjung_Negara_Tak_Boleh_Membiarkan_Kekerasan_Terhadap_Kelompok_Yang_Dianggap_Berbeda
Terbitan: Senin, 18 Oktober 2010 12:50

Konjen AS: Gus Dur Lebih Dikenal Dibanding Indonesia

Konjen AS: Gus Dur Lebih Dikenal Dibanding Indonesia

Ahlannawawi: Jombang: "Konsul Jenderal(Konjen) Amerika Serikat (AS) Kristen F Bauer mengunjungi makam KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang ada di komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang, Kamis (4/11/2010). Menurutnya, di AS nama Gus Dur lebih dikenal daripada Indonesia."

Begitu datang di Tebuireng, perempuan yang berkantor di Surabaya ini langsung ditemui oleh pengasuh ponpes, KH Salahudin Wahid (Gus Solah). Selanjutnya, Kristen bertemu dengan ratusan santri pondok di aula setempat. Di tempat itu, perempuan yang baru tiga bulan menjabat ini berdialog seputar masalah pendidikan di pondok pesantren. Dialog berjalan cukup gayeng.

"Kita datang ke Tebuireng hanya untuk silaturahmi. Yakni melakukan study banding tentang pendidikan di pesantren. Selain itu, kami juga ingin melihat makam Gus Dur. Karena di AS, nama Gus Dur lebih terkenal dibanding Indonesia," kata Kristen menjelaskan.

Usai berdialog, Kristen yang ditemani Gus Solah, langsung menuju makam Gus Dur yang ada di belakang pondok. Selanjutnya, dua orang ini melakukan dialog secara intens di rumah induk. "Kunjungan ini tidak ada kaitannya dengan rencana kedatangan presiden Barrack Obama ke Indonesia. Ini hanya silaturahmi," kata Gus Solah menjawab pertanyaan wartawan.

Kunjungan itu, kata Gus Solah, lebih pada soal pendidikan. Pasalnya, ia pernah mengusulkan ke Konjen agar ada pertukaran pelajar AS dengan pondok pesantren. Sehingga, pengetahuan AS tentang Islam itu tidak setengah-tengah. "Bahkan kalau perlu, pelajar AS itu kita suruh mondok di Al Mukmin, Ngruki. Dengan begitu tidak ada tudingan miring terhadap pondok pesantren,"pungkasnya. [suf/but]
Sumber Berita: www.beritajatim.com (Kamis, 4 November 2010)
Reporter : Yusuf Wibisono

Dikutip: Gus Dur Net
Terbitan: Jum'at, 05 November 2010 11:28

Kenangan tentang Gus Dur Dari Inul hingga kyai Nur

Kenangan tentang Gus Dur
Dari Inul hingga kyai Nur

Ahlannawawi: Tiba-tiba saja perempuan itu tak mampu membendung air matanya. Suara jadi terbata-bata dan tak lancar menceritakan sebuah pengalaman yang dianggap paling berharga dalam hidupnya. Peristiwanya terjadi sekitar dua tahun lalu.

Perempuan berusia 31 tahun itu betul-betul merasakan kehilangan mendalam begitu mengingat kembali bagaimana sosok KH. Abdurrahman Wahid-akrab disapa Gus Dur-memberikan ‘pesan hidup' di atas mobilnya yang sengaja disiapkannya untuk menjemput dan membawa Gus Dur ke Pasuruan Jawa Timur. Saat itu sebuah acara untuk warga kampung digelar. Dan mantan ketua PBNU itu diundang memberikan taushiyah. Perempuan itu masih ingat betul apa yang diwejangkan Gus Dur hingga detail dalam bahasa Jawa Timuran. Apa yang dikatakan Gus Dur perempuan itu hafal.

"kon nyanyi neng nggone Jakarta, celengono duitmu (kamu nyanyi di jakarta, uangnya ditabung)," kata Ainur Rokhimah, sapaan akrab penyanyi dangdut dan goyang ngebor Inul Daratista menirukan Gus Dur sambil terisak. Isakannya berkali-kali terdengar sembari mengulang kata-kata Gus Dur tentang anjurannya untuk selalu menjaga diri dan menyisihkan hartanya bagi kemanfaatan orang lain. Yang juga terbersit kuat di benak Inul, Gus Dur menyarankan agar ia sekali-kali menyanyikan lagu kasidah. "Jangan Dangdut saja," kata Gus Dur seperti ditirukan Inul.

"Alhamdulillah itu sudah terwujud," katanya sembari menunjukkan sebuah kaset bertema religi di antara tumpukkan kaset dan foto penghargaannya dalam sebuah almari tak jauh dari tempatnya duduk. Isteri Adam Suseno itu belakangan memang kesampaian membuat album religi (kasidah).

Inul kemudian melanjutkan cerita bagaimana Gus Dur membela dirinya. Dari ceritanya kepada kami di kediamannya di Kawasan Pondok Indah Jalan Kartika Utama PT. 27, Jakarta Selata, Senin (27/9) sore itu mengesankan bahwa pembelaan Gus Dur terhadap dirinya-terutama terkait kasusnya dengan H.

Rhoma Irama di panggung hiburan-itu betul-betul menjadi jalan yang sangat berarti bagi kehidupan Inul selanjutnya. Seolah Inul ingin menyampaikan bahwa pembelaan Gus Dur terhadap dirinya itu bukan semata pembelaan seorang Gus Dur kepada seorang Inul semata, namun lebih dari itu. Di sana ada pesan untuk bangsa ini agar selalu menghargai hak-hak orang lain terutama yang terkait dengan kebebasan berekspresi, ada penegakan hukum, dan tentu kaidah-kaidah demokrasi yang berpatokan kepada Undang-undang dasar 1945.

Kesedihan mendalam nyatanya tak hanya dialami Inul seorang. Di tengah ribuan santrinya di wilayah Jakarta Barat, Kyai yang sempat menduduki kursi DPR RI Fraksi PKB periode 1999-2004 ini juga merasakan kesedihan mendalam begitu mengingat seorang Gus Dur dan jasa-jasanya pada bangsa ini.

Ketika ditemui di rumahnya di komplek Pondok Pesantren Assiddiqiyah, Jalan Surya sarana 6C Kedoya Utara Kebonjeruk Jakarta Senin (27/9) malam, kyai yang mempunyai nama Nur Muhammad Iskandar Al-Barsani bercerita banyak soal kisahnya mengenal Gus Dur. Bahkan ketika kami langsung membuka pertanyaan dengan soal meninggalnya Gus Dur, kedua mata kyai Nur perlahan berkaca-kaca, sejenak Ia menghentikan ceritanya.

Malam itu kami datang bertiga, saya, Alamsyah M. Dja'far salah seorang rekan staf Wahid yang terlibat juga dalam penerbitan buku Gus Dur dan Muntaat, driver yang setia mengantar kami kemana-mana.

Kyai yang sempat malam melintang di jagat politik ini menyampaikan penyesalannya, karena sesaat sebelum meninggalnya Gus Dur, Ia sejatinya diminta untuk bertemu empat mata dengan Gus Dur. "Saya ditelepon oleh yang nungguin Gus Dur, jam 5 (2 jam sebelum meninggalnya Gus Dur 18.45). Gus Dur mengharap saya ke Rumah sakit," cerita kyai Nur.

Namun sial, kemacetan dari daerah Tangerang menuju RSCM saat itu membuat dirinya gagal memenuhi permintaan Gus Dur tersebut. Penantian Kyai Nur di tengah kemacetan justru berujung kabar yang cukup mengagetkan. "Saya ditelepon wartawan, bahwa Gus Dur meninggal," papar kyai Nur dengan suara berat, mengingat keinginan yang tak kesampaian bertemu untuk terakhir kali. 

Bagi pimpinan pondok pesantren Assiddiqiyyah ini, Gus Dur adalah orang yang mau mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang lain. Orang yang tidak pernah melihat sekat antara yang kaya dan yang miskin. Orang yang telah menjadi saksi bahwa ‘man tawadha ‘arufia'. "Barang siapa yang merendahkan dirinya, maka ia akan diangkat oleh Allah Swt," ujarnya melafalkan sebuah hadis.
Pengorbanan Gus Dur untuk kepentingan orang lain ini memang betul-betul dirasakan semua kalangan. Tidak hanya Inul yang tersandung kasus ‘goyangan ngebornya'. Tak kurang, pentolan Grup musik Dewa19, Ahmad Dhani juga merasakan betapa perlindungan Gus Dur sangat ia rasakan. Terutama saat kasus yang menimpa grup ini terkait dengan lambang grup Dewa19. Tentu perlindungan itu bukan sekadar sikap berbeda atau (apalagi) mencari popularitas. "Gus Dur tahu mana yang benar, mana yang nggak,"tegas Dhani ketika diwawancarai di kediamannya Jalan Pinang Mas III kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan, Minggu (19/9) siang.

Keikhlasan Gus Dur dalam membela grup musiknya ini yang membuat Dhani trenyuh bahkan tersentil kelenjar lakrimal-nya hingga Ia sesenggukan di depan pusara Gus Dur saat Ia ziarah ke komplek pemakaman Pesantren Tebuireng bersama ketiga anaknya Al, El dan Dul, Jum'at (8/1), seperti dikabarkan www.liputan6.com.

Inul, kyai Nur dan juga Dhani mungkin hanya sekian sosok manusia yang sejatinya punya pemikiran masing-masing yang tentu berbeda. Mereka hanya melampirkan pesan yang sangat perspektifal dari sisi pekerja seni dan tokoh masyarakat. Kita boleh sepakat, boleh juga tidak. Namun, yang perlu di catat bahwa pengorbanan Gus Dur untuk kemanusiaan, keikhlasan Gus Dur membela kebenaran, keberanian Gus Dur membela kaum lemah, serta tawadhu'-nya atau kesederhanaannya dalam bersikap menjadi cermin yang pas untuk kita teladani. Biarlah kepergian Gus Dur bak jasad yang tenggelam ditelan bumi, namun ruh perjuangannya akan tetap menjadi spirit yang hidup bagi kita semua.
(oleh: wiwit r fatkhurrahman)

Sumber: GUS DUR Net
Terbitan: Rabu, 13 Oktober 2010 14:10

Strategi Membangun Media Dakwah Islam Online

Strategi Membangun Media Dakwah Islam Online

Ahlannawawi: ~ Perkembangan media on line sungguh luar biasa. Pengguna internet di dunia  berjumlah  2,5 milyar, untuk indonesia    107  juta tahun 2014. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2015 nanti, pengguna internet di Indonesia meningkat menjadi 139 juta.

Perkembangan pengguna internet yang kian membengkak itu seiring pertumbuhan pesat pengguna handphone dan tablet . Lonjakan pengguna internet mobil 30 persen pada tahun 2014. Dan trendnya terus meningkat.

Saat ini, 40 persen penduduk bumi terhubung internet. Dengan harga perangkat mobile yang kian murah, bisa diperkirakan bahwa dalam hitungan tahun ke depan, seluruh penduduk bumi akan connected (terhubungkan).

Pengguna yang luar biasa besar ini, dengan tingkat pertumbuhan yang pesat, menjadikan internet sebagai penghubung yang efektif dan murah. Namun, dari besarnya jumlah pengguna internet, tidak banyak yang memanfaatkan betul untuk kepentingan dirinya. Disinilah arti strategis media dakwah mengisi dunia internet dengan informasi yang bermanfaat.

Keunggulan Berdakwah Lewat Media On line
Media on line hanyalah sarana untuk mencapai sesuatu. Dalam perspektif dakwah Islam Aswaja, media on line dijadikan sarana untuk menyebarkan ajaran Islam Aswaja dan meningkatkan keilmuan pengguna internet atas nilai-nilai Islam. Sama seperti berdakwah secara off line.

Yang perlu dipahami benar oleh para pendakwah adalah ada banyak keunggulan  keunggulan berdakwah secara on line yaitu:
Menjangkau segmen yang luas (baca : global) dan tidak mengenal waktu
Menjangkau segmen yang dituju sesuai yang ditargetkan, apakah anak-anak, remaja, wanita, orang tua, keluarga, dan sebagainya
Berlangsung terus-menerus selama materi dakwah masih tersimpan di server. Pendakwah hanya perlu satu kali menulis atau memposting materi dakwah
Bisa bersifat interaktif dan individual dimana sasaran dakwah bisa bertanya dan menelusuri materi dakwah lebih dalam sesuai yang diinginkan serta mengulang materi dakwah seperti membawa ulang, mendengar ulang rekaman ceramah atau melihat ulang tayangan video.
Tahapan Membangun Media Dakwah On line
Internet adalah samudera informasi. Dan kita menginginkan informasi yang kita tulis akan tersampaikan ke sasaran dakwah yang kita tuju. Orang mencari informasi di internet melalui mesin pencari. Ada 90 % pengguna internet memakai mesin pencari, seperti google.com , yahoo.com, dan sebagainya.

Mesin pencari google.com (dan variannya menurut negara, seperti google.co.id ) lah yang banyak digunakan. Karenanya informasi yang ingin kita sampaikan ke sasaran dakwah harus friendly dengan metode kerja mesin pencari google. Digunakan google sebagai patokan karena saat ini google-lah yang merajai dunia internet.

1.Riset Konten / Materi Dakwah
Konten (atau materi ) dalam hal ini materi dakwah yang disukai oleh mesin pencari adalah materi yang spesifik. Misalkan, khusus mengenai tauhid, khusus mengenai wanita, khusus mengenai zakat, dan sebagainya.

Riset ini konten bisa berdasarkan :
Isu hangat yang masih diperdebatkan mengenai prinsip-prinsip Islam. Jadi materi dakwah berpijak dari “ berbagai pandangan mengenai Islam” (sebagai primer) sebagai titik masuk konten,  lalu masuk ke materi aswaja (sebagai sekunder)
Uraian mengenai Islam Aswaja, baik tauhid, fiqh, muamalah, dan sebagainya (sebagai primer), lalu (bisa diberi tambahan) penjelasan mengenai perbedaan dengan pandangan islam yang lain (sebagai sekunder)
2. Riset Sasaran Dakwah
Setelah kita memilih konten, tahap selanjutnya adalah menentukan sasaran dakwah. Pada segmen apa, konten / materi dakwah yang kita buat diperuntukkan. Sasaran dakwah bisa dikelompokkan dalm kategori :
Usia
Jenis kelamin
Suku dzn bangsa
Bahasa
Pengguna perangkat : komputer desktop, laptop, tablet, smartphone
Perangkat yang tersedia untuk riset di atas sudah disediakan oleh google. Atau perusahaan on line yang mengkhususkan diri dalam pelacakan kata-kata kunci untuk subyek tertentu.

3. Membuat Media Dakwah On line
Setelah melakukan 2 tahapan di atas yaitu riset konten dan riset sasaran dakwah, tahap selanjutnya adalah mengelola konten dalam hal ini adalah membuat media dakwah on line.

Ada 3 bentuk dakwah on line yang penulis nilai efektif yaitu pembuatan website, melalui jejaring sosial seperti facebook dan media pengunggah video seperti youtube.

3.1. Pembuatan website
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan website.
Buatlah nama website yang spesifik yang mencerminkan isi konten. (karena google menyukai nama website yang spesifik)
Tentukan jenis font dan tata letak website yang friendly
Jenis website yang disukai pembaca adalah yang isinya mudah dicerna karenanya ilustrasi melalui gambar sangatlah penting
Pengguna website menyukai website yang interaktif dimana mereka mudah untuk bertanya dan mendapatkan informasi lebih dalam. Website yang menyediakan menu chat ataupuh grup diskusi sangat disarankan.
Pengguna website juga menyukai website yang bukan hanya mereka bisa membaca tetapi juga mendengar dan menonton. Website yang menyediakan streaming radio, rekaman mp3, dan rekaman video sangat disarankan
3.2. Membangun Jejaring Sosial
Perkembangan jejaring social sangatlah pesat. Jejaring sosial memberikan sentuhan yang berbeda dengan website. Selain itu, jejaring social seperti facebook ternyata sangat friendly dengan mesin pencari google.

Media dakwah melalui jejaring sosial , seperti facebook,penulis nilai sangat efektif karena metode penyebarannya lebih cepat. Apalagi pengguna facebook sudah mencapai 1,3 milyar orang.

Saat ini beragam aliran Islam menggunakan facebook untuk menyebarkan ajarannya. Tidak jarang, berita yang diunggah di status facebook bersifat provokatif dan memanipulasi berita.

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangan jika menggunakan media sosial.
Buat nama yang sesuai dengan konten isi dakwah misalkan “Mengenal Islam Aswaja “
Isi konten atau status dengan isi yang berbobot dengan bahaya yang bersifat persuasif, karena akan mengundang diskusi atau respon pembaca
Isi status dengan bahasa yang menyejukkan, tidak provokatif dan isi yang akurat atau tidak manipulatif
Status yang aktual, misalkan menyangkut berita terkini, cenderung mendapatkan respon hangat dari pembaca
Tanggapi setiap respon pembaca / teman/ anggota grup dengan bahasa yang positif dan menyejukkan
Rutin mengupdate status sehingga tetap menggaet pembaca yang fanatik
3.3. Media dakwah On line melalui media penggunggah video
Youtube adalah media penggunggah video yang amat populer. Pencarian video di Youtube-pun mendapatkan tempat yang utama dari mesin pencari google. Unggalahlah video di Youtube yang berisi video-video dakwah.

Ada beberapa saran untuk ini :
Berilah nama / judul video yang sesuai dengan isi konten
Nama video diusahakan mengundang pemirsa untuk terus aktif melihat atau mengunduh video
Tanggapi dengan bahaya yang positif setiap komentar dari video yang kita unggah.

4. Evaluasi Hasil Dakwah          
Seberapa besar keberhasilan dakwah dengan cara diatas sesuai dengan segmen dakwah yang menjadi sasaran dapat dilihat dari jumlah kunjungan, lama kunjungan, kuantitas dan kualitas respon yang ada.

Jika kunjungan tidak sesuai yang kita harapkan maka perlu dilakukan evaluasi mengenai bentuk media dakwah on line kita dan isi kontennya. Misalkan, lay out website yang tidak friendly, kurangnya ilustrasi gambar, dan sebagainya.

Jika kunjungan sesuai dengan yang kita harapkan, maka ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

1. Follow up/tindak lanjuti
Bentuk yang bisa dilakukan misalkan melakukan pelatihan off line atau on line  seperti  pengajian intensif.

2. Buat kompilasi berupa ebook , ceramah audio atau video dari pertanyaan yang banyak diutarakan oleh pembaca.

Catatan Penutup
Evalusi hasil dakwah online harus dilakukan secara rutin. Hal ini dikarenakan perkembangan metode kerja mesin pencari yang terus dinamis dan pergeseran bentuk pengguna perangkat online.

Dimana ke depan, perangkat mobile, seperti tablet-lah yang akan mendominasi pengguna internet. Karenanya bentuk media dakwah harus disesuaikan dengan jenis perangkat yang dipergunakan oleh sasaran dakwah.

Oleh: Taufiq / Cyber Dakwah Team

Dikutip: MMN
Terbitan: Wednesday, 21 May 2014

Sumber: Cyberdakwah