Minggu, 30 Maret 2014

Al-Habib Abdul Qadir bin Alwy Assegaf

Al-Habib Abdul Qadir bin
Alwy Assegaf
Angin Segar dari Kota Tuban
Auliya’ ini dikenal banyak
membawa angin segar bagi umat,
terutama di kota Tuban dan
sekitarnya. Para auliya’ di
jamannya banyak memuji dan
mengagungkan beliau.
Sosok Habib Abdul Qadir dalam
kesehariannya dikenal sebagai
pribadi yang ramah tamah, murah
senyum dan dermawan. Semua
orang yang mengenalnya, pasti
akan mencintainya. Tidak heran
bila para auliya’ di jamannya
banyak memuji dan mengagungkan
beliau. Salah satunya, Habib
Abdullah bin Muhsin Al-Attas,
beliau selalu mengunjungi semasa
hidup mau pun sesudah wafatnya.
Wali Kramat dari Empang, Bogor itu
bersyair dengan pujian,”Telah
bertiup angin segar dari Kota
Tuban….” Auliya lain yang sering
mengunjunginya adalah Habib
Ahmad bin Abdullah Alattas,
Pekalongan dan Habib Abdul Qadir
bin Quthban.
Habib Abdul Qadir bin Alwy As-
Segaf dilahirkan di Seiwun pada
tahun 1241 H. Sejak kecil ia telah
dididik secara khusus oleh paman
beliau, Habib Abdurrahman bin Ali
Assegaf. Oleh sang paman, Habib
Abdul Qadir selalu diajak berziarah
ke tempat-tempat yang jauh dari
tempat tinggalnya di Seiwun.
Dalam berziarah ke tempat para
auliya’, ia pun pernah menyaksikan
kejadian yang menakjubkan
hatinya, yakni saat berziarah ke
makam Syaikh Umar Ba
Makhramah. Dimana, Habib
Abdurrahman ketika di dalam kubah
makam Syaikh Umar Ba
Makhramah, tiba-tiba Syaikh Umar
bangun dari kuburnya dan
bercakap-cakap dengan Habib
Umar. Habib Abdul Qadir
menyaksikan kejadian itu secara
yaqadzah (terjaga, bukan melalui
mimpi).
Habib Abdul Qadir dikenal sejak
usia remaja berteman akrab
dengan Habib Ali bin Muhammad
Al-Habsyi (Sahibul Maulid Simthud
Durar) dan Habib Abdullah bin Ali
Al-Hadad (Bangil). Bahkan di akhir
umur Habib Abdullah Al-Hadad
pernah berkirim surat kepada Habib
Abdul Qadir yang diantaranya
berisi,”Sesungguhnya jiwa-jiwa itu
saling terpaut.” Tidak lama setelah
itu Habib Abdullah bin Ali Al-Hadad
wafat, 27 hari kemudian Habib
Abdul Qadir juga wafat. Beliau juga
mempunyai hubungan yang
istimewa dengan Habib Muhammad
bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya) dan
Habib Muhammad bin Ahmad Al-
Mukhdar (Bondowoso).
Kedekatan hubungan Habib Abdul
Qadir dengan Habib Muhammad bin
Idrus Al-Habsyi tidak lepas dari
kejadian menimpa Habib
Muhammad yang sering kali tidak
bisa menguasai diri ketika
kedatangan hal’ (keadaan luar
biasa yang meliputi seseorang yang
datang dari Allah SWT). Dalam
keadaan seperti itu Habib
Muhammad tidak tahu apa yang
terjadi di sekitarnya.
Suatu saat Habib Muhammad
kedatangan hal' ketika sedang
berjalan, kebetulan saat itu Habib
Abdul Qadir sedang berada di
dekatnya. Melihat keadaan Habib
Muhammad yang hampir tidak
sadarkan diri, Habib Abdul Qadir
segera menyadarkannya, sehingga
Habib Muhammad pun sadar dan
melihat Habib Abdul Qadir telah
berada di depannya. Mereka berdua
akhirnya berpelukan,”Ini adalah
sebaik-baik obat,” kata Habib
Muhammad dengan raut wajah
yang gembira. Sejak itulah,
hubungan Habib Muhammad bin
Idrus Al-Habsyi dan Habib Abdul
Qadir semakin erat dan saking
dekatnya, Habib Muhammad
menyatakan bahwa menceritakan
tentang keadaaan Habib Abdul
Qadir lebih manis dari madu.
Kecintaan itu juga oleh Habib
Muhammad bin Idrus Al-Habsyi
diungkapkan dalam syair:
Wahai malam yang penuh cahaya/
Semua permintaan telah terkabul/
Hari ini aku datang ke Tuban di
awal bulan/
Putra Alwi yang kucintai/
Kelezatannya tiada bandingan/
Dia lah pintu masuk dan pintu
keluar kita/
Obat bagi yang kena segala
penyakit/
Dari hatinya memancar rahasia
sempurna/
Semoga dengan berkahnya, dosa
dan salah kita diampuni//
Karomah Habib Abdul Qadir
Habib Abdul qadir juga termasyhur
karena karomahnya. Pernah suatu
ketika Habib Abdul Qadir dalam
perjalanan pulang dari haji bersama
rombongan dengan
mempergunakan perahu. Ternyata
perahu yang dinaikinya berlubang,
air pun masuk menerobos dengan
deras ke dalam
perahu. Rombongan jamaah haji
pun panik, dan segera
mengurasnya. Celakanya, air bukan
semakin habis, tapi semakin
banyak, hingga kapal hampir
tenggelam. Keringat dan air laut
berpadu membasahi pakaian yang
dikenakan mereka yang tengah
berusaha dengan keras menguras
air dalam perahu. Para jamaah dan
penumpang lain bingung, kalang
kabut dan menangis karena putus
asa.
Melihat hal itu Habib Abdul Qadir
segera masuk ke dalam bagasi
kapal beserta dua isterinya. Setelah
menutup pintu beliau berdoa sambil
mengangkat tangannya memohon
kepada Allah. Tiba-tiba datanglah
empat orang lelaki yang telah
berdiri di hadapannya, kemudian
salah satunya menepuk
punggungnya. “Hai Abdul Qadir!
Aku Umar al-Muhdar,” katanya
sambil memperkenalkan tiga orang
yang ada disebelahnya,”Ini
kakekmu, Ali bin Alwy bin Al-Faqih
Al-Muqaddam. Itu kakekmu,
Abdurrahman Assegaf dan yang itu
Syaikh Abu Bakar bin
Salim.” (beliau-beliau terkenal ahl
Dark, Wali penolong yang cepat
pertolongannya jika diminta
pertolongan)
Setelah itu lelaki tersebut menyuruh
Habib Abdul Qadir menguras air
dan keempat lelaki asing itu pun
lalu menghilang.
“Apakah kalian melihat empat
orang tadi?” tanya Habib Abdul
Qadir kepada kedua isterinya.
“Tidak,” jawab mereka.
Habib Abdul Qadir segera keluar
dan menyuruh para penumpang
untuk menguras kembali air laut
yang masuk ke dalam perahu. Tak
berapa lama kemudian, perahu
besar itu sudah tidak berisi air lagi.
Ternyata lubang tadi telah lenyap,
papan-papannya tertutup rapat
seakan tak pernah terjadi apa-apa
sebelumnya.
Dikisahkan pula, suatu malam
Habib Abdul Qadir bermimpi, dalam
mimpinya ia bertemu Nabi SAW
tengah menuntun Habib Hasan bin
Soleh Al-Bahr Al-Jufri. Lalu Nabi
SAW menyuruhnya membaca Doa
Khidir AS sebanyak 50 kali setiap
pagi dan sore. Habib Abdul Qadir
merasa bilangan itu terlalu banyak.
Ia ingin agar Habib Hasan
memintakan keringanan untuknya,
belum sempat diutarakan, Nabi
SAW bersabda, “Bacalah sebanyak
lima kali saja, tetapi pahalanya
tetap 50.” Gambaran ini persis
seperti lafadz barjanji ketika
mengisahkan Isra’ Mi’raj. Seketika
itu, Habib Abdul Qadir terjaga dari
tidurnya dan membaca doa Nabi
Khidir dari awal sampai akhir,
padahal dia belum pernah tahu doa
tersebut sebelumnya.
Ia lalu mencari teks doa itu dan
menemukannya di kitab Maslakul
Qarib, tetapi di sana ada tambahan
dan pengurangan. Sampai akhirnya
ia menemukan teks yang sama
persis di kitab Ihya’ juz 4 dalam
bab Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Imam Ghozali menyebutkan faedah
dan pahala yang sangat banyak
dalam doa ini. Jelaslah bahwa itu
termasuk salah satu karamah
Habib Abdul Qadir, sebab ia hafal
doa yang cukup panjang hanya
dengan dituntun Nabi Muhammad
SAW.
Dalam khasanah dunia pesantren,
cara menghafal demikian disebut
ilmu paled! atau apal pisan
langsung wuled (sekali dengar
langsung hafal).
Ketika ia sakit di akhir umurnya,
salah seorang putranya yang
bernama Umar mengusahakan
kesembuhan dengan cara
bersedekah atau yang lainnya.
Ketika Habib Abdul Qadir tahu, ia
langsung berkata,”Jangan
merepotkan diri, karena Malaikat
Maut sudah dua atau tiga kali
mendatangiku.”
Dalam sakit itu pula ia sering
menyambut kedatangan ahlil ghaib
di tengah malam dan berbincang-
bincang dengan mereka. Kejadian
tersebut berlangsung hampir setiap
malam, sampai suatu saat
ditemukan secarik kertas di
dekatnya yang bertuliskan syair,
“Telah datang pada kami, Shohibul
Waqt, Khidir dan Ilyas. Mereka
memberiku kabar gembira seraya
berkata, ‘Kau dapatkan hadiah
serta pakaian. Jangan takut!
Jangan khawatir dengan kejahatan
orang yang dengki, serta syaitan’.”
Tidak lama setelah itu, ia
meninggalkan alam yang fana ini
tepatnya pada tanggal 13 Rabiul
Awal 1331 H (1912 M). Jasadnya
yang suci kemudian dimakamkan di
pemakaman Bejagung, Tuban. Haul
Habib Abdul Qadir biasanya
diperingati pada bulan Sya’ban di Jl
Pemuda, Tuban.

Sumber; https://sites.google.com/site/pustakapejaten/manaqib-biografi/6-habaib-nusantara/al-habib-abdul-qadir-bin-alwy-assegaf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar