Tampilkan postingan dengan label nuonline. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nuonline. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 April 2014

Metode Astrofotografi Diusulkan Jembatani Hisab-Rukyat

Metode Astrofotografi Diusulkan Jembatani Hisab-Rukyat

Surabaya: Ketua Umum MUI Din Syamsuddin menilai metode Astrofotografi bisa menjadi "jembatan" atau jalan tengah bagi hisab (perhitungan matematis) dan rukyat (melihat bulan sabit secara kasat mata) dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal (Idul Fitri).

"Astrofotografi (astronomi terekam secara foto/video) itu jalan keluar terbaik, asalkan umat mau menerima rukyat bil ilmi (rukyat secara iptek) itu," katanya pada pembukaan workshop Jalan Tengah Hisab-Rukyat Melalui Teknik Astrofotografi di Surabaya, Sabtu.

Dalam workshop yang dibuka Mendikbud Mohammad Nuh dan dihadiri pakar Astrofotografi kelas dunia dari Prancis, Thierry Legault, ia menjelaskan rukyat dalam Bahasa Arab sendiri bukan hanya berarti melihat secara kasat mata, namun melihat secara mengetahui.

"Jadi, rukyat itu bisa bil ilmi (dengan pengetahuan/iptek) dan metode astrofotografi itu hakekatnya merupakan rukyat bil ilmi juga," kata Din yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah itu dalam pembukaan workshop.

Dalam kesempatan itu, pakar Astrofotografi kelas dunia dari Prancis, Thierry Legault, menjelaskan alat astrofotografi itu bisa diprogram secara "computerized" untuk mengarah kepada objek tertentu, lalu alat itu akan mengikuti pergerakan objek sesuai keinginan pengguna alat.

"Karena itu, saya yakin tenggelamnya bulan sabit (hilal) hingga muncul kembali akan dapat direkam selama dua jam atau lebih dan hasilnya dapat disajikan dalam bentuk foto atau video, asalkan langit biru dan tidak ada mendung. Saya pernah bisa merekam bulan sabit seukuran 0,5 derajat dalam waktu beberapa detik saja," kata insinyur yang menjadi konsultan pesawat Boeing, Airbus dan Aerospace itu.

Hal itu dibenarkan Kepala Laboratorium Astronomi Bosscha, ITB, Dr Mahasena Putra. "Kondisi yang bagus untuk membidik benda-benda langit di Indonesia adalah NTB, Makassar, dan kawasan timur lainnya, sedangkan kawasan barat memang agak sulit, karena banyak hambatan, termasuk sering mendung," katanya.

Oleh karena itu, penulis buku Tasawuf Modern Agus Mustofa yang juga penggagas astrofotografi di Indonesia itu akan mengembangkan metode rukyat yang baru dan disebutnya "rukyat qobla ghurub" (RQG) atau rukyat sebelum maghrib dengan alat astrofotografi itu.

"Rencananya, kita akan menempatkan alat Astrofotografi pada 20 titik di Indonesia untuk melakukan rukyat pada 27 Juni 2014 guna menentukan awal Ramadhan 1435 Hijriyah. Kita sekarang masih memiliki enam alat itu dan sebentar lagi akan bertambah empat alat lagi, sisanya yang sepuluh alat lagi mungkin didukung Kemdikbud," katanya.

Untuk itulah, workshop astrofotografi itu akan dirangkai dengan pelatihan astrofotografi di Surabaya pada 27-28 April yang diikuti para ahli astrononomi/falaqiyah yang akan melakukan rukyat pada awal Ramadhan mendatang. (antara/mukafi niam)

Sumber: NU Online
Terbitan (Ahad, 27/04/2014 23:59)
By http://m.facebook.com/elang

Simak http://ellangbassasnawawi.blogspot.com
http://sendang-karangampel.blogspot.com
https://m.facebook.com/nahdlatululamaahlussunnahwaljamaah
https://m.facebook.com/Newsinformationindonesia
https://m.facebook.com/groups/732231473482366?ref=bookmark

Aktivis PMII Bantu Atasi Persoalan Petani Pamekasan


Aktivis PMII Bantu Atasi Persoalan Petani Pamekasan

Pamekasan: Tiga musim terakhir tanam tembakau, petani Madura terbilang gagal. Tak hanya itu, harganya juga anjlok. Petani hanya bisa gigit jari. Mereka kemudian beralih tanam padi, khususnya petani di wilayah selatan Kabupaten Pamekasan.

Tanaman padi bisa panen dua kali dalam semusim. Namun, sejauh ini petani masih berani tanam hanya sekali dalam semusim. Pola pikir seperti ini, mencoba diubah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan, Shohibul Muniri.

Pemuda yang juga pegiat Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) tersebut mengetengahkan terobosan agar para petani bisa mendapatkan hasil yang lebih besar dari tembakau. Yaitu, petani lebih memanfaatkan lahan basah dengan tanam padi.

Khususnya sektor selatan, Kabupaten Pamekasan. Meliputi daerah Pademawu, Desa Teja Barat,
Teja Timur, Betted, Laden, Jungcangcang, Panempan, Kangenan, Sumedangan, serta daerah basah lainnya.

"Di daerah tersebut, selama ini fakta yang ada ialah kualitas tembakau yang sangat rendah. Karenanya, dibutuhkan tanaman alternatif padi, yang keuntungannya melebihi daripada cocok tanam tembakau," terangnya kepada NU Online, Ahad (27/4).

Dikatakan, budidaya padi sebagai alternatif, hasilnya lebih besar. Wilayah selatan lebih memungkinkan untuk tanam 2 kali dalam semusim.

Pihaknya berharap, masyarakat tidak ragu lagi memanfaatkan tanaman alternatif padi, untuk meningkatkan perekonomian mereka. Sejauh ini, masyarakat ragu dan khawatir tidak mendapatkan pasar untuk menjual hasil panen gabah.

"Padahal sebenarnya lebih mudah pasarannya, dan sifatnya tahan lama daripada tembakau," ujarnya meyakinkan.

Sektor pertanian gabah atau padi, menjanjikan keuntungan besar bagi petani. Petani diyakini lebih diuntungkan dengan kenaikan harga pangan. Utamanya tiap Bulan Oktober sampai akhir tahun.

"Untuk hasil panen, jangan kebingunan. Kami siap menampung atau membeli hasil panen tersebut. Di samping itu, dinas yang menangani pertanian dan ketahanan pangan, diharapkan agar proaktif untuk mengawal terhadap terobosan ini," harap Sohibul.

Sejauh ini, Sohibul coba membuktikan terobosan tanaman tembakau ke padi. Atas hal itu, pihaknya berharap agar Dinas Pertanian serta Dinas Kantor Ketahanan Pangan bisa mengapresiasi terobosannya. Minimanl, dinas terkait mengirim petugas penyuluh lapangan (PPL) guna mengkroscek ke lapangan sekaligus menyurvey apa yang dilakukan petani.

Bertanam tembakau, selama ini dihadapkan pada cuaca yang tidak menentu. Dan cuaca yang tidak menentu tersebut, bagi tanaman padi, sama sekali tidak merugikan.

Tak hanya itu, masih menurut Sohibul, logika perbandingan harga juga menjadi pertimbangan utama. Kalau tembakau 6000 pohon hanya bisa menghasilkan Rp 3-4 juta. Itu pun belum dipotong biaya operasional.

"Sementara untuk 6000 pohon tanaman padi, sangat memungkinkan dapat penghasilan Rp 5-6 juta. Untuk operasionalnya pun lebih murah dan tidak seribet tembakau," paparnya.

Pernyataan Sohibul tersebut tidak sekadar wacana. Ia telah membuktikannya. Sekitar sudah 3 tahun dia berjuang sendirian. Dengan penuh semangat, dia tanam padi di Desa Teja Timur, Kota/Kabupaten Pamekasan.

Namun, perjuangan selama 3 tahun tersebut, tidak akan berakhir dengan sia-sia. Karena pada tahun sekarang dampak yang diperjuangkan dapat dirasakan dengan adanya perubahan dari beberapa desa yang siap untuk melakukan perubahan pola tanam; dari tembakau menuju tanaman padi.

"Upaya ini tidak lain berujuan agar petani hari ini mengubah pola pikir supaya beralih pada sektor pertanian padi," terangnya.

Ditargetkan, tahun 2014, Kabupaten Pamekasan diharapkan sedikitnya 250 hektar lahan sawah bisa tertanami padi. Muaranya, sektor lahan sawah secara keseluruhan nantinya bisa berubah atau merata pada sektor tanaman padi.

"Kalau di wilayah pantura ke tebu, daerah selatan padi. Jadi imbang dan stabil. Sektor
ketahanan pangan, nantinya mampu melakukan vultuasi terhadap penekanan harga besar apabila terjadi suatu kenaikan. Sehingga, budidaya tanam padi dua kali ini mampu memberikan penekanan terhadap sektor pangan yang ada di Pamekasan," tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online
Terbitan (Ahad, 27/04/2014 19:02)
By http://m.facebook.com/elang

Simak http://ellangbassasnawawi.blogspot.com
http://sendang-karangampel.blogspot.com
https://m.facebook.com/nahdlatululamaahlussunnahwaljamaah
https://m.facebook.com/Newsinformationindonesia
https://m.facebook.com/groups/732231473482366?ref=bookmark

HARLAH KE-80 GP ANSOR GP Ansor Way Kanan Gelar Lomba Baca Puisi Humo


HARLAH KE-80 GP ANSOR
GP Ansor Way Kanan Gelar Lomba Baca Puisi Humor

Way Kanan: Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Way
Kanan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Way Kanan,
Lampung menggelar lomba puisi humor pada Sabtu
(26/4).
Sekretaris panitia, Heri Amanudin, di Blambangan Umpu,
Ahad (27/4) mengatakan, Dua pelajar SMAN 1
Negarabatin memenangi lomba itu. Juara 1 diraih nomor
urut 28, dengan nilai 1.155 dari SMAN 1 Negarabatin.
Lalu juara 2 nomor urut 88, meraih nilai 1.105 juga diraih
sekolah itu.
Dewan juri diketuai aktivis teater dan pendiri komunitas
Dongeng Dakocan, Iin Mutmainah juga menetapkan
nomor urut 76 SMKN 1 Baradatu menjadi juara juara 2
sehubungan meraih nilai 1.080.
Lantas, Heri menambahkan, juara harapan 1 nomor urut
80, meraih nilai 1.020, pelajar MA Ma'arif Bumi Mulya
Pakuanratu."Kemudian juara harapan 2 nomor urut 12,
dengan nilai 1.065 dari MA Guppi Bumiagung, dan juara
harapan 3 nomor urut 10 nilai 1.060 SMAN 1 Blambangan
Umpu," ujar Heri menjelaskan.
Puisi-puisi humor dilombakan di Nuwa Adat Kabupaten
Way Kanan pada Sabtu (26/4) merupakan karya-karya
penyair Remy Silado, seperti Anjing, Celaka 13, Bisnis
Paman, Jerit Sandal Jepit, Di Blok Apa? Tanda Tanya
Hari Esok, Papi Mewanti Anak.
"Sajak-sajak tersebut tidak perlu didedah dan
diinterprestasikan dengan rumit karena bahasa
digunakan ialah bahasa keseharian, namun isinya
berbobot," kata Heri.
Aspek dinilai meliputi intonasi, ekspresi, gesture dan
penguasaan panggung. "Perlombaan digelar untuk
memperingati HUT Ansor ke 80 tahun, HUT Way Kanan ke
15 tahun dan Hardiknas 2014, dibuka oleh Kepala Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Gino Vanollie didampingi
Ketua PC GP Ansor Supri Iswan," tutur Heri pula.
Ketua Dewan Juri perlombaan itu Iin Mutmainah
mengapresiasi perlombaan yang jarang dilakukan di Way
Kanan tersebut.
"Antusias peserta bagus, dari 110 peserta hanya sekitar
lima yang batal ikut. Saya berharap kegiatan semacam
ini sering dilakukan. Saran saya, Ansor nanti membuat
perlombaan baca puisi lagi, namun materinya yang
reportoar, seperti sajak-sajak WS Rendra," kata Iin.
(Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Sumber NU Online
Terbitan (Ahad, 27/04/2014 20:05)

Peringati Harlah, Fatayat NU Pakistan Gelar Diskusi Keindonesiaan

Peringati Harlah, Fatayat NU Pakistan Gelar Diskusi Keindonesiaan

Islamabad, NU Online
Dalam rangka merayakan hari lahir atau Harlah Fatayat
NU ke-64, komunitas Fatayat NU Islamabad menggelar
acara diskusi keindonesiaan bekerjasama dengan
Departemen Keilmuwan Perhimpunan Pelajar dan
Mahasiswa Indonesia (PPMI) Pakistan di kediaman Otto
Ghani di Sector F-8/1 House 28 Islamabad, Sabtu (26/4)
sore waktu setempat.
Suasana cuaca Pakistan yang mulai panas rupanya tidak
menyurutkan semangat panitia dan hadirin karena tema
yang diangkat adalah seputar peran wanita dalam
konteks Islam Nusantara. Hadir sebagai pembicara, Siti
Marina (Ahli Madya Pariwisata dan Sarjana Ilmu Politik,
Universitas Indonesia) yang membawakan tema
merefleksikan peran wanita dalam sejarah pada konteks
Enterpreneurship. Dan pembicara kedua adalah Lia
Kholifah yang mengangkat tema peran wanita dalam
strategi dakwah kekinian.
Dalam pemaparannya, Lia Kholifah yang juga aktivis
keilmuwan di Fatayat NU Pakistan tersebut menegaskan
bahwa dalam agama, wanita itu memiliki tiga aspek
tugas terpenting yakni tugas alamiah, tugas manziliyah
(domestic duty) , dan tugas kemasyarakatan ( social duty)
.
Ketiga peran tersebut mempunyai korelasi erat satu
sama lain, ibarat man behind the scene, seorang ibu
mempunyai peran penting yang memang kadang tak
terlalu nampak kerjanya, tapi hasilnya bisa terlihat pada
bagaimana kualitas keturunannya, bagaimana hasil
support pada suaminya, dan bagaimana interaksinya
pada masyarakat.
Islam memuliakan wanita dengan batasan-batasan yang
ada memang untuk mempunyai peran ini, dan wanita
dituntut untuk tetap bisa berjalan proporsional.
“Batasan-batasan yang diberikan Al-Qur’an pada wanita
bukanlah untuk mengikat ruang gerak, justru inilah
posisi wanita, menjadi tokoh di balik layar untuk
kesuksesan suami, kesuksesan keturunan menjadi
pribadi berkualitas, dan kesuksesan jalur dakwah di
masyarakat, ingatlah pada pepatah al ummu madrosatul
uulaa , ibu adalah sekolah yang pertama. Konotasi ini
menunjukkan urgensi peran wanita,” tegasnya.
Sebagai contoh konkrit peranan seorang wanita sebagai
Istri ialah Khadijah RA sebagai istri baginda Rasulullah
SAW. Karena wanita merupakan sosok yang berarti di
balik kesuksesan seorang pria. Untuk memenuhi support
ini, wanita perlu dibekali nalar keilmuwan dan intelektual
yang tinggi. “ Waroo’a kulli rojulin adzhiim imro’atun
soolihatun,” ujarnya.
Adapun bilamana seorang wanita berkenan untuk
mengabdikan dirinya pada masyarakat umum bukanlah
sebuah masalah selama kewajiban primer sudah
terlaksana dan izin dari suami sudah didapatkannya.
Sementara Siti Marina yang membawakan topik peran
wanita dalam enterpreneurship menegaskan bahwa
dalam era globalisasi yang kompetitif ini, kemampuan
membaca kesempatan adalah hal penting yang ranah
tren ekonomi global. Seperti yang diungkapkan Ibu Lia,
ibu Marina juga menegaskan dalam kodratnya sebagai
wanita, tidak membatasi wanita untuk menjadi sosok
pebisnis dan tentunya melihat porsi-porsi yang
ditentukan dan melihat skala prioritas.
Pada sesi tanya jawab, Ahyani Billah seorang peserta
yang juga perwakilan dari PIP PKS Pakistan menanyakan
tentang kiat memilih sekolah yang tepat untuk anak,
berangkat dari ketakutan pada isu kekerasan seksual
yang ramai terjadi di tanah air belakangan ini.
“Kita sepatutnya selektif, dengan mengumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya tentang sekolah-sekolah,
memang banyak sekolah dengan isu dan kasus-kasus
tersebut, tapi tidak sedikit juga sekolah-sekolah di tanah
air yang baik. Pendidikan pesantren juga sekarang-
sekarang ini sudah komprehensif silabusnya, bisa jadi
pilihan,” jawab Lia.
Ditanya tentang isu kesetaraan gender, Lia menjawab
bahwa dalam agama, wanita sudah ada porsinya, namun
ada beberapa lini yang memungkinkan wanita
mendapatkan hak yang sesuai dengan laki-laki,
sepanjang tidak melenceng dari aturan syar’i. Mariana,
yang akrab dipanggil bu Nana juga menambahkan bahwa
wanita sah-sah saja menjalani aktivitas serupa dengan
laki-laki dalam karir, tapi tentunya melihat kapasitasnya
juga sebagai ibu rumah tangga, jangan sampai di luar
dia unggul tapi kualitas anak dan kinerja suami tak
didukung.
Ahmad Badruddin, Rais Syuriyah PCINU Pakistan
menuturkan bahwa local wisdom nusantara menghargai
eksistensi wanita, dari sejak Islam datang, kultur
nusantara meletakkan wanita dalam posisi yang
dimuliakan, tidak seperti kultur Arab yang kental dengan
nuansa patriarki. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya
peran wanita dalam berbagai bidang di tanah air.
“Jadi ya..sebaiknya wanita Indonesia bangga dan
menghargai tradisinya sendiri, tidak perlu lah
mengadopsi budaya kearabanyang berlebihan dan
mengikat dan kebablasan mengisolir ruang geraknya.
Kartini hanyalah simbol salah satu pejuan hak-hak
intelektual pada wanita, banyak lagi pejuang yang lain,
jadi kita refleksikan saja semangat itu pada konteks saat
ini,” tambahnya. Ia juga memberikan apresiasi yang
besar kepada fatayat NU Pakistan yang sukses aktiv
menghidupkan nuansa keilmuwan dan keagamaan di
Pakistan.
Dalam closing statement yang disampaikan oleh
pembicara, Lia menuturkan, “Kita memang tidak boleh
memimpin, tapi kita bisa mensupport seorang pemimpin,
kita bisa mendidik calon pemimpin, dan melahirkan
generasi pemimpin,” ujarnya, disambut riuh tepuk tangan
antusias para hadirin.
Nana melanjutkan, “Menjadi wirausaha harus ada niat
dab kemauan yang kuat jangan pantang menyerah, untuk
muslimah harus tetap dalam koridor Islam dengan tidak
melupakan kodrat sebagai seorang istri dan seorang ibu,
semoga menginspirasi kawan-kawan sekalian untuk
terus mencoba,” tambahnya.
Ditanya tentang kesannya pada acara tersebut, ketua
Tanfiziyah PCINU Pakistan Firman Arifandi menegaskan,
“Fatayat NU yang dinahkodai bu Fina Fandini dan
saudari Ummi Salamah sudah berhasil menghidupkan
hak-hak intelektual untuk kalangan wanita, misi
selanjutnya memasarkan Islam nusantara yang tasamuh,”
ujarnya, singkat.
Acara yang berlangsung 2 jam itu sangat hidup dan sarat
diskusi keilmuwan. Antusias dari WNI dan mahasiswa
yang hadir untuk tanya jawab sehingga sesi tanya
jawabpun ditambah oleh saudari Muna selaku
moderator.
Hadir dalam acara tersebut sejumlah warga Indonesia di
Pakistan, sejumlah staf KBRI, dan juga sekitar 50 orang
Mahasiswa yang terhimpun dalam PPMI. Tak kalah
meriahnya, hadir juga ketua PIP-PKS Pakistan saudara
Muhammad Irfan Abdul Aziz, ketua Muhammadiyah
Pakistan saudara Hatta Fahamsyah, perwakilan dari
PERSIS cab Pakistan bapak Ahmad Faruki, dan ketua
perhimpunan masyarakat Pasundan di Pakistan saudara
Zulfikr. Acara ditutup dengan potong kue untuk simbolik
harlah Fatayat NU. (Red: Anam)

Sumber: NU Online
Terbitan (Ahad, 27/04/2014 13:40)

Sabtu, 26 April 2014

Percaya Siksa Kubur dan Rupa Munkar Nakir?

Percaya Siksa Kubur dan Rupa Munkar Nakir?

Alam kubur bagaikan ruang penantian. Ruang yang penghubung antara alam dunia dan alam akhirat.

Di sanalah manusia menunggu hari penghitungan (penghitungan amal) sembari pengenalan alam lain setelah alam dunia. Di alam kubur inilah manusia akan berjumpa dengan dua malaikat yang menanyakan hal-hal keimanan.

Malaikat itu datang setelah para pengantar jenazah kembali ke rumah masing-masing.

Anas bin Malik pernah memberitakan kepada para sahabat bahwa Rasulullah saw bersabda:
ﺇﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺍﺫﺍ ﻭﺿﻊ ﻓﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻭﺗﻮﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﺍﺻﺤﺎﺑﻪ ﺇﻧﻪ
ﻟﻴﺴﻤﻊ ﻗﺮﻥ ﻧﻌﺎﻟﻬﻢ ﺍﺗﺎﻩ ﻣﻠﻜﺎﻥ ﻓﻴﻘﻌﺪﺍﻧﻪ ﻓﻴﻘﻮﻻﻥ
ﻣﺎﻛﻨﺖ ﺗﻘﻮﻝ ﻓﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻧﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ
ﻓﻴﻘﻮﻟﻪ ﺍﻧﻈﺮ ﺍﻟﻰ ﻣﻘﻌﺪﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻗﺪ ﺍﺑﺪﻟﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ
ﻣﻘﻌﺪﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻣﺎ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﻭﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﻓﻴﻘﺎﻝ ﻟﻪ
ﻣﺎﻛﻨﺖ ﺗﻘﻮﻝ ﻓﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﺟﻞ؟ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﻻ ﺍﺩﺭﻯ ﻛﻨﺖ
ﺍﻗﻮﻝ ﻣﺎﻳﻘﻮﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻴﻘﺎﻝ ﻻﺩﺭﻳﺖ ﻭﻻﺗﻠﻴﺖ ﻭﻳﻀﺮﺏ
ﺑﻤﻄﺎﺭﻕ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺪ ﺿﺮﺑﺔ ﻓﻴﺼﻴﺢ ﺻﻴﺤﺔ ﻳﺴﻤﻌﻬﺎ ﻣﻦ
ﻳﻠﻴﻪ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺜﻘﻠﻴﻦ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ )
Sesungguhnya jika seseorang telah diletakkan di dalam kuburnya lalu telah berpaling darinya teman-temannya dimana ia masih dengar suara jejak sandalnya, datanglah kepadanya dua malaikat yang mendudukkannya lalu berkata kepadanya “apa yang pernah kau katakan kepada laki-laki yang bernama Muhammad?”.

Jika orang itu seorang mu’min maka dia akan menjawab sesungguhnya lelaki bernama Muhammad saw adalah hamba Allah Swt dan Rasulnya” maka malaikat itu akan berkata padanya lihatlah Allah telah mengganti tempat dudukmu dari api neraka menjadi surga. Dan diperhatikanlah kedua tempat duduk itu.

Dan begitupun jika (jenazah itu) orang munafik dan kaifr maka akan ditanya juga “apa yang pernah kau katakan kepada laki-laki ini (yang bernama Muhammad)?” maka jawabnya “aku tak tahu, aku ucapkan apa yang dikatan orang-orang.

Malaikatpun bertanya kembali “apakah engkau tidak mengerti atau tidak membaca?” .

Dan dipukullah ia dengan gada besi satu pukulan, maka ia menjerit, dan tak ada satupunn pengantar yang mendengarnya kecuali jin dan manusia khusus.

Mengenai gambaran kedua malaikat yang datang ini dalam hadits lain diterangkan dari Abu Hurairah:
ﺍﺳﻮﺩﺍﻥ ﺍﺯﺭﻗﺎﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﻻﺣﺪﻫﻤﺎ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻭﻟﻼﺧﺮ ﺍﻟﻨﻜﻴﺮ
Yang hitam dan biru keduanya,yang satu dipanggil Munkar dan yang lain dipanggil Nakir.

Dalam hadist lain yang termaktub dalam kitab Austahnya Imam at-Tabharany, Abu Hurairah
meriwayatkan:
ﺍﻋﻴﻨﻬﻤﺎ ﻣﺜﻞ ﻗﺪﻭﺭ ﺍﻟﻨﺤﺎﺱ ﻭﺍﻧﻴﺎﺑﻬﻤﺎ ﻣﺜﻞ ﺻﻴﺎﺻﻰ
ﺍﻟﺒﻘﺮ ﻭﺍﺻﻮﺗﻬﻤﺎ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺮﻋﺪ
Mata keduanya seperti belanga tembaga, taring keduanya seperti tanduk sapi dan suaranya seperti halilintar.

Demikianlah bahwasanyya ni’mat dan sisika kubur sungguh benar-benar adanya dan termasuk bagian dari masalah aqidah. Syiakh Ibrahim Allaqani menerangkan dalam Jauhartut Tauhid dengan sebuha nadhaman:
ﺳﺆﺍﻟﻨﺎ ﺛﻢ ﻋﺬﺍﺏ ﺍﻟﻘﺒﺮ * ﻧﻌﻴﻤﻪ ﻭﺍﺟﺐ ﻛﺒﻌﺚ
ﺍﻟﺤﺸﺮ
Ditanya kita soal adzab dan nimat kubur, adalah wajib seperti halnya kebangkitaan dari kubur untuk dikumpulkan.

Sumber: nu.online
Terbitan: (Jumat, 25/04/2014 16:00)

Masa Depan Pendidikan Indonesia Pasca Pilpres 2014

Masa Depan Pendidikan Indonesia Pasca Pilpres 2014!
Ellang

Ada berapa jumlah guru yang masih hidup? itu pertanyaan Kaisar Jepang setelah Jepang
dijatuhi bom atom pada Perang Dunia II, tidak bertanya berapa jumlah tentara dan jenderal
yang meninggal dan selamat. Kaisar Jepang tahu bahwa untuk bangkit kembali membangun
negaranya setelah luluh lantak akibat perang ialah dengan pertama kali membangun
manusianya. Maka dalam hal ini pendidikan menjadi hal yang menjadi prioritas yang harus
diperhatikan. Itulah yang menjadikan Jepang begitu cepat bangkit dalam kurung waktu
singkat sehingga mampu menjadi negara yang maju.

Pendidikan adalah urusan mendasar suatu bangsa yang tidak bisa dianggap sebelah mata
dan tidak mendapat perhatian penuh. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Daoed Joesoef mengatakan, “Ketahanan dan kekuatan suatu bangsa terletak pada bidang
pendidikan, pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Tidak ada bangsa
yang maju yang tidak didukung pendidikan yang kuat, dan jika ingin menjadi negara yang
kuat, maju dan disegani dunia internasional, maka Indonesia harus menjadikan pendidikan
sebagai bidang unggulan. Saat ini 53 persen penduduk Indonesia yang bekerja hanya
berijazakan tamat SD dan yang bertitelkan sarjana hanya 9 persen. Dari sisi kuantitas,
penduduk Indonesia menempati urutan ke empat tapi dari sisi kualitas hanya menempati
urutan ke 124 dari 187 negara. Sebuah data angka-angka kualitas manusia bangsa ini yg
harus kita renungkan.

Beberapa minggu lalu Kita telah melalui satu babakan penting dalam agenda bernegara yaitu
Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) masa bakti 2014-2019 untuk memilih para anggota wakil
rakyat di DPR/MPR dan tinggal berhitung beberapa minggu ke depan kita akan memilih
Presiden baru secara langsung untuk memimpin kemana arah bangsa ini bergerak.
Kepada mereka inilah tumpuan harapan rakyat ini akan dititipkan untuk perbaikan kondisi
bangsa menjadi lebih baik. Namun yang patut disesalkan ialah sampai sekarang tak satupun
dari mereka yang mampu menjanjikan harapan
perbaikan pengelolaan pendidikan yang berkualitas pada kampanye-kampanye yang lalu, yang ada hanya kampanye narsistik
kosong tanpa visi yang jelas.
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

Aktifitas politik cenderung identik dengan aktifitas kepemimpinan komunitas kelompok bangsa. Idealnya orang yang terpanggil untuk berpolitik, maka aktifitas politiknya adalah memimpin, mengarahkan dan mengawal demi kemajuan dan kesejahtraan bangsanya.

Menjadi politisi seharusnya didasari oleh keterpanggilan dan tanggung jawab untuk memperbaiki bangsa dan negara untuk menjadi lebih baik tanpa melihat latar belakangnya. Itulah sebabnya seorang dokter seperti Mahathir Muhammad ikut berkiprah dalam politik.

Demikian pula sosok Megawati yang sebagai ibu rumah tangga, Wiranto, Susilo bambang Yudhoyono dan Prabowo dari militer, Jusuf Kalla, Surya Paloh, Hary Tanoe, Abu Rizal Bakrie dan Jokowi dari saudagar, dan Abdurrahman Wahid, Hidayat Nur Wahid dari kalangan aktifis dakwah Islam.

Lalu apa kaitan politik dan pendidikan? politik dan pendidikan merupakan dua elemen penting dalam sistem negara. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, keduanya sangat berperan dalam pembentukan karakter dan perilaku manusia.

Di beberapa negara, instrumen pendidikan dijadikan sebagai lembaga penguatan ideologi dan orientasi negara terhadap rakyatnya.

Dalam ungkapan yang banyak dikutip terkait dengan relasi politik dan pendidikan, adalah ungkapan Abernethy dan Coombe education and politics are inextricably linked (pendidikan dan politik terikat tanpa bias dipisahkan).

Menurut Dale kontrol negara terhadap pendidikan umunnya dilakukan melalui empat cara.

Pertama , sistem pendidkan diatur secara legal. Kedua , sistem pendidikan dijalankan sebagai birokrasi, menekankan ketaatan pada aturan dan objektivitas. Ketiga, penerapan wajib pendidikan ( compulsory education ).

Keempat, reproduksi politik dan ekonomi yang berlangsung di sekolah berlangsung dalam
konteks tertentu.

Dale menambahkan bahwa perangkat negara dalam bidang pendidikan, seperti sekolah dan administrasi pendidikan memiliki efek tersendiri terhadap pola, proses, dan praktik pendidikan.

Dalam sejarah perpolitikan Islam pun, pendidikan juga erat kaitannya dengan politik.

Hal tersebut nampak dalam bagaimana usaha negara menjadikan lembaga pendidikan dalam hal ini madrasah dan mesjid sebagai salah satu media konstalasi politik. Peranan yang dimainkan oleh masjid-masjid dan madrasah-madrasah dalam mengokohkan kekuasaan politik para penguasa Islam dapat dilihat dalam sejarah mengajarkan ideologi dan mazhab tertentu.

Di lain pihak, ketergantungan pada
aluran tangan para penguasa secara ekonomis, membuat lembaga-lembaga tersebut harus sejalan dengan nuansa politik yang berlaku.

Bagaimana dengan perjalanan sejarah politik dan pendidikan di Indonesia? secara sederhana bisa dibagi kedalam beberapa fase, pertama , fase pra kemerdekaan; pada fase ini lebih ditekankan pada penanaman nilai agama dan budaya kultur asli nusantara, pada fase ini banyak diisi dan dikontrol oleh pemuka adat dan tokoh agama. Kedua, fase perjuangan dan kemerdekaan.

Pada fase ini penyelenggaraan pendidikan di tanah air diwarnai oleh proses modernisasi dan pergumulan antara aktivitas pendidikan pemerintahan kolonial baik Belanda dan Jepang dengan aktivitas pendidikan kaum pribumi.

Di satu pihak, pemerintah kolonial berusaha menempuh segala cara untuk memastikan bahwa berbagai kegiatan pendidikan tidak bertentangan dengan kepentingan kolonialisme dan mencetak para pekerja yang dapat diekploitasi untuk mendukung misi sosial, politik, dan ekonomi pemerintah kolonial.

Ketiga, fase pasca kemerdekaan atau Orde Lama. Pada fase ini pendidikan lebih diorientasikan pada penguatan character building, nasionalisme, pembangunan fondasi ideologi negara dan pada fase ini dkontrol oleh para tokoh nasionalis.

Keempat, fase Orde Baru, fase ini pendidikan ditempatkan sebagai
instrument percepatan pembangunan ekonomi
negara dan Kelima, fase orde reformasi yang kurang lebih sudah berjalan selama 15 tahun fase ini pendidikan diorientasikan untuk bisa menyesuaikan dengan kondisi global dan semangat disentralisasi, sehingga muatan materi dan sistem pendidikan menekankan pada penguatan potensi local wisdom daerah
setempat. Fase ini pendidikan belum menemukan sistem yang pas dan masih
berusaha menemukan bentuk.

Saat ini kondisi pendidikan kita masih jauh tertinggal dari negara lain, baik dari sisi hasil
kualitas out put lulusan, pengelolaan dan sistemnya.
Berbagai masalah masalah timbul
tiada akhir. Kisruh UN, transparansi dan
korupsi dana pendidikan, merosotnya moral
pelajar dan pengelola pendidikan, kurikulum yang masih mencari bentuk dan kasus terupdate terakhir kontroversi keberadaan
sekolah-sekolah internasional yang dianggap tidak sejalan dengan semangat kebangsaan
dan cenderung eksklusif.
Membincangkan komposisi kepemimpinan
bangsa untuk Pilpres mendatang terkesan larut
hanya menilai dari hasil survey, popularitas,
tanpa melihat isi dari visi misi calon presiden.
Bahkan lucunya ada capres yang visi misinya
masih disusun oleh tim sukses bersangkutan
tapi sudah diprediksi akan memenangkan
pertarungan politik memperebutkan posisi
presiden hanyak karena faktor popularitas berdasarkan berbagai survey yang ada.

Presiden mendatang memiliki banyak pekerjaan
rumah (PR) yang harus diselesaikan, tidak
hanya pada persoalan infrastuktur, keamanan,
ekonomi, penegakan hukum tapi juga pada
sektor "pendidikan".
Presiden mendatang harus memiliki visi dan
komitmen untuk memperbaiki pendidikan agar
negara kita maju dan segera bisa bersaing
dengan negara lain.

Selama bangsa dan
pemimpinnya membicarakan pendidikan hanya
sambil lalu, selama pendidikan dianggap bukan
prioritas program utama pembangunan dan
pendidikan dianggap bukan persoalan
kepemimpinan nasional maka kita jangan
berharap persoalan bangsa ini segera berakhir.
Pendidikan adalah infrastruktur utama sebagai
penopang majunya suatu bangsa.
Khaerul Anam Harisah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama,
anam.ppipnu@gmail.com

By http://m.facebook.com/elang
Sumber: nu.online
Terbitan: (Jumat, 25/04/2014 09:01)
Oleh Khaerul Anam Harisah

Ternyata Mbah Wahab itu “Ngeyelan”

Ternyata Mbah Wahab itu “Ngeyelan”

Dekrit Presiden Soekarno Juli 1959 tidak saja meramaikan Indonesia yang umurnya belum genap lima belas tahun. Dekrit yang di antaranya berisi membubarkan DPR itu juga bikin geger di NU, yang waktu itu menjadi partai.

Mbah Bisri Syansuri ngotot agar NU tidak bergabung dengan DPR-GR bentukan Bung Karno.

Beliau berdalil bahwa pembubaran DPR hasil pilihan rakyat oleh Bung Karno tidak sah secara fiqih. Hukumnya haram masuk DPR-GR
yang main tunjuk itu, apalagi suara Masyumi dihilangkan.

“Bung Karno nggosob. Suara orang Islam jadi kecil karena Masyumi dicoret,” begitu kira-kira
kata Mbah Bisri, Wakil Rais Aam PBNU saat itu.

Sementara itu, Rois Aam PBNU, Mbah Wahab Chasbullah punya pikiran lain. Ia bersebrangan
dengan wakilnya yang juga iparnya itu.

“Sssst... jangan banter-banter, Kiai. Kita tidak bisa memastikan pencoretan Masyumi itu nggosob atau tidak. Yang pasti, kalau NU tidak masuk DPR-GR, suara orang Islam makin tidak terwakili,” Mbah Wahab menjelaskan dengan kalem.

“Lalu kalau masuk bagaimana?” tanya Mbah Bisri. Mbah Wahab menjawab, juga dengan
kalem, “Masuk saja dulu. Nanti kalau mau keluar sih gampang.” Mbah Bisri diam saja, tidak puas, tapi sepertinya mengaku dalilnya
patah. Pendek kata, akhirnya beliau mengikuti keputusan Mbah Wahab. Tapi, tugas Mbah Wahab belum selesai. Ia harus menghadapi Kiai Abdul Jalil dari Kudus. Seperti Mbah Bisri, awalnya Kiai Jalil juga tidak sepahaman NU harus masuk DPR-GR. Tapi tak seperti Mbah Wahab yang ofensif, Kiai Jalil hanya bertanya tentang keabsahan DPR-GR. Ia terkesan hati-hati, mungkin segan dengan Mbah Wahab. “Apa hukumnya masuk DPR-GR?” kira-kira begitu soal Kiai Jalil. Jawaban Mbah Wahab justru ketus, mungkin tahu dirinya di atas angin.

“Sampeyan ikut saya saja, Kiai Jalil. Kitab sampeyan itu cuma cetakan Kudus. Ndak imbang berdebat DPR-GR dengan saya. Kitab saya cetakan luar negeri,” jawab Mbah wahab tanpa tedeng aling-aling. Emmm.. Ternyata Mbah Wahab ‘ngeyelaan’ ya? Mboten nopo-nopo,Mbah. Ngeyelane Panjenengan penting.

Sumber: nu.online
Terbitan: (Jumat, 25/04/2014 03:00)
Oleh (Hamzah Sahal)

Jumat, 25 April 2014

PBNU Luncurkan Kartanu, Daftar Cukup via SMS

PBNU Luncurkan Kartanu, Daftar Cukup via SMS

Ellang

Jakarta: Sebagai amanat Muktamar ke-32 NU yang berlangsung di Makassar Maret 2010 lalu berupa pendataan dan pengembangan system administrasi warga NU, kelembagaan dan asset NU, maka PBNU meluncurkan program Kartanu secara nasional.

Peluncuran Kartanu ini dilakukan di Jakarta, yang dihadiri oleh para pengurus NU Wilayah dari sebagian besar PWNU se-Indonesia. Jum’at malam (1/10).

Proses pendaftaran Kartanu yang baru sangat mudah dan cepat, warga NU cukup mengirimkan SMS yang selanjutnya data akan diproses dan diverifikasi kebenarannya. Selanjutnya, akan dicetak kartu sementara sebelum kartu yang sebenarnya jadi.

Dengan biaya pendaftaran sebesar 35.000 rupiah, Kartanu Multifungsi ini sekaligus dapat berfungsi sebagai kartu kas yang bisa diisi uang dan diambil di ATM, kasir bank, internet banking, pembayaran pulsa, PLN, Telkom dan lainya.

Selain itu, mereka yang resmi menjadi anggota NU secara otomatis akan mendapatkan santunan kecelakaan berupa biaya pengobatan maksimal 500.000 per tahun dan biaya kecacatan permanent maksimal 5 juta rupiah.

Dalam program hasil kerjasama dengan PT Vobe ini, juga tersedia layanan asuransi eksklusif berupa asuransi risiko demam berdarah, rawat inatp, asuransi kecelakaan yang ebih luas, asuransi kendaraan dan asuransi rumah tinggal.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj berharap dengan pembuatan Kartanu ini, administrasi keanggotaan warga NU semakin baik dan dapat meningkatkan ukhuwah sesame warga NU dan selanjutnya dapat meningkatkan kesejahteraan, baik lahir maupun batin.

“Kartanu juga akan dimuati dengan informasi-informasi komprehensif baik untuk tujuan organisasi maupun untuk tujuan transaksi ekonomi sehari-harai adan lebih mendorong warga NU untuk lebih meningkatkan daya dan upayanya dalam membangun masyarakat yang mulia dan bermartabat dan baradab dalam arangka baldatun thoyyibatun warobbun ghofur, sesuai dengan akidah ahlusunnah wal jamaah,” katanya. (mkf)

Sumber: NU online
Terbitan: (Sabtu, 02/10/2010 10:06)

HARLAH Ke-64 FATAYAT NU

HARLAH Ke-64 FATAYAT NU
Ini 10 Agenda Politik Perempuan Untuk Presiden RI Mendatang

Jakarta: Dalam dinamika perpolitikan saat ini, perempuan mempunyai peran dan fungsi yang sangat signifikan dalam menentukan suksesi kepemimpinan ke depan.

Porsi sebanyak 30% kuota perempuan di dalam parlemen menunjukan bahwa peran politik perempuan begitu penting dalam ikut membangun bangsa. Sebab itu, Kaukus Perempuan Politik Indonesia telah menyusun 10 agenda politik yang perlu direalisasikan Presiden RI mendatang.

Demikian ditegaskan oleh kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Ratu Dian Hatifah yang didaulat menjadi narasumber dalam diskusi panel peringatan Harlah ke-64 Fatayat NU di Aula Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (24/4) sore.

“Dari perempuan, yang perlu direalisasikan oleh Presiden mendatang, pertama yaitu mengenai pemenuhan hak kesehatan perempuan secara menyeluruh. Kedua, pemenuhan hak pendidikan perempuan,” kata perempuan yang juga Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia ini.

Yang ketiga, lanjut Dian yang merupakan mantan ketua umum IPPNU ini, Presiden mendatang harus dapat menghentikan kekerasan terhadap perempuan yang selama ini kerap terjadi dari berbagai level umur. Kemudian keempat, penghentian pemiskinan terhadap perempuan melalui keadilan sosial. Kelima, kata Dian, perlindungan penuh terhadap perempuan dari berbagai konflik sosial dan bencana alam yang sering terjadi di masyarakat kita.

Selanjutnya keenam, masih Dian, pemimpin ke depan harus dapat memberikan pekerjaan yang layak bagi perempuan sehingga tak melulu menjadi TKW ke luar negeri. Ketujuh, kebebasan berpikir dalam berbagai bidang, kemudian kedelapan yaitu perkuat hak politik perempuan, selanjutnya kesembilan adalah penghapusan produk-produk hukum yang diskriminatif terhadap perempuan, dan terakhir yaitu penghentian korupsi secara hingga ke akar-akarnya.

“Saya juga meminta kepada kader-kader Fatayat NU dan seluruh perempuan Indonesia yang berhasil duduk di Parlemen mendatang untuk dapat mewujudkan agenda ini,” tandasnya.

Acara ini diawali sambutan Ketua PP Fatayat NU Hj Ida Fauziah, kemudian dilanjutkan dengan taushiyah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, selanjutnya dilengkapi dengan diskusi panel dengan narasumber Ninuk dari Komnas Perempuan, Ratu Dian dari Kaukus Perempuan Politik Indonesia, Erlinda dari Komisi Perlindunagan Anak Indonesia (KPAI), dan Ibu Yuda Irlang dari Aliansi Masyarakat Sipil untuk Perempuan dan Politik (Ansipol).
(Fathoni/Mukafi Niam)

Sumber: www.nu.or.id
Terbitan: (Kamis, 24/04/2014 22:10)

Kamis, 24 April 2014

Postingan Otomatis Dukungan dakwah NU Online dari Situs Web NU ke Facebook

POSTING OTOMATIS
Dukung dakwah NU Online
Ellang Bass

Sahabat-sahabat bisa share informasi dari NU Online di Facebook atau Twitter secara otomatis. Artinya, meski ditinggal tidur, sistem akan memposting sendiri link setiap artikel dari nu.or.id. Caranya? Gampang sekali:

1. Login terlebih dahulu di Facebook. Lalu buka Buka http://www.networkedblogs.com/. Klik "Get Started Now" kemudian "OKe", secara otomatis Anda miliki akun Networkedblogs yang terhubung dengan facebook.

2. Setelah itu, buka link http://www.networkedblogs.com/blog/nu-online lalu klik "Follow"

3. Klik "Sindication" yang berada di sebelah kiri. Akan muncul halaman, dan klik "Grant Permissions", dilanjutkan dengan klik "OKe" beberapa kali. Maka, Anda akan dibawa ke halaman Sindication

4. Klik "Add Facebook Target", dan tunggu beberapa saat. Maka, akan muncul halaman Sindication Target. Klik Add di bagian Facebook Profiles, Facebook Fan Pages, dan Facebook Groups.

Keterangan: Facebook Profiles: postingan NU Online akan secara otomatis terkirim di facebook Anda Facebook.

Fan Pages: postingan NU Online akan secera otomatis terkirim ke fanpage yang Anda kelola. (Jika Anda punya Fanpage Facebook).

Facebook Groups: postingan NU Online akan secara otomatis terkirim ke group yang Anda kelola (Jika Adan punya Group Facebook) Sampai disini, share otomatis ke facebook, fanpage dan group sudah selesai.

Ini penjelasan untuk facebook, jika ingin otomatis membagikan di Twitter, maka lakukan hal yang hampir sama. Selain NU Online, silakan juga share otomatis Muslim Media News (www.muslimedianews.com).

Yang masih bingung bisa lihat gambarnya di sini: http://www.muslimedianews.com/2013/09/dukung-media-islam-mmn-posting-otomatis.html

By https://m.facebook.com/elang
Sumber: Situs Resmi NU Online