Tampilkan postingan dengan label ahlannawawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ahlannawawi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2014

Inilah Keajaiban Alam pada Gus Dur ketika di Makkah

Inilah Keajaiban Alam pada Gus Dur ketika di Makkah

Jazirah Arab merupakan daerah yang tandus dan panas sehingga melakukan perjalanan yang melewati padang pasir merupakan sesuatu yang menyiksa yang menjadi perjuangan berat dan butuh persiapan fisik dan mental yang prima.

Salah satu tanda kenabian Muhammad adalah ketika ia mengikuti misi dagang dari Makkah ke Syam, sekarang daerah Damaskus, bersama pamannya Abu Thalib. Sepanjang perjalanan tersebut Muhammad selalu dinaungi oleh awan sehingga tidak kepanasan.

Gus Dur, tentu saja jangan dibandingkan dengan Nabi Muhammad, pernah mengalami fenomena keajaiban alam yang juga luar biasa ketika ia berada di Makkah untuk menjalankan ibadah haji tahun 1994 lalu.

Kiai Said Aqil Siroj yang mendampingi Gus Dur mengisahkan, waktu itu rombongan haji sudah ada di Arafah. Kemudian Gus Dur bertiga, dengan Kang Said dan Sulaiman, asisten pribadi Gus Dur, memisahkan diri menjauhi perkemahan untuk berdoa di suatu tempat.

Mereka bertiga berdzikir panjang ditengah udara gurun pasir yang panas sehingga keluar keringat yang banyak. Untungnya ada awan yang berada diatas mereka yang melindungi pancaran sinar matahari langsung.

Ditengah-tengah dzikir tersebut, tiba-tiba awan tersebut menyibak dan satu cahaya kecil menerobos langsung mengenai tubuh Gus Dur sementara dua orang yang mengiringinya tidak terkena sinar tersebut. Gus Dur yang memimpin dzikir meneruskan dzikirnya sementara mereka berdua hanya bisa saling berpandang mata sambil terdiam dan ternganga.

“Kelihatan sekali ada mego (awan) membuka, ada cahaya yang ke Gus Dur, ini saya tahu sendiri. Kalau diceritakan sulit, karena orang pasti tidak percaya,” kata Kang Said.

Tapi setelah kejadian tersebut, Kang Said tidak menanyakan masalah itu. Menurutnya, jika pun ditanya, Gus Dur pasti jawabnya ringan-ringan saja. (mkf)

Dikutip: NU ONLINE
:

GUS DUR WALI (48) Rahasia Tidur Gus Dur tapi Tetap Sadar

GUS DUR WALI (48)
Rahasia Tidur Gus Dur tapi Tetap Sadar

Jakarta: Soal Gus Dur ditengah-tengah acara dan ketika gilirannya bicara tetap bisa nyambung dalam konteks yang dibicarakan sebelumnya telah membuat heran banyak orang.

Berbagai analisis pun dilakukan, ada yang menganggap ini bukti ilmu linuwih dari Gus Dur sementara yang lain beralasan Gus Dur hanya menduga-duga arah pembicaraan sebelumnya, lalu menyambungkannya. Mereka beralasan ini hanya soal kecerdasan saja, tak ada hubungannya dengan sesuatu yang sifatnya supra natural, apalagi Gus Dur sudah tahu watak orang sehingga bisa memperkirakan arah pembicaraan, ditambah bacaannya banyak, sehingga klop.

Lalu bagaimana jika tema yang dibicarakan sebuah persoalan penting yang tak ada dalam wacana keilmuan, sebuah persoalan kongkrit yang harus dipecahkan bersama?

H Ahmad Bagdja, sekjen PBNU era Gus Dur juga memiliki kisah soal tidur Gus Dur ini ketika memenuhi undangan Wapres Try Sutrisno untuk dimintai masukan pendirian masjid agung Al Akbar Surabaya. Datang memenuhi undangan Rais Aam KH Ilyas Ruhiyat, Gus Dur, Bagdja dan KH Imron Hamzah, rais syuriyah PWNU Jatim.

Ketika Try Sutrisno sedang berbicara, ia melihat Gus Dur tertidur. Karena duduk bersebelahan, lalu Gus Dur dibangunkan, digerak-gerakkan tangannya. Lalu tapi Gus Dur berbisik, “Ya, saya denger kok”

“Tapi ketika giliran Gus Dur bicara, memang bisa nyambung,” kata Bagdja.

Dilain waktu setelah kejadian tersebut, Bagdja pun memberi saran kepada Gus Dur bagaimana agar ketika tertidur, posisi badannya tidak seperti orang yang sedang tidur, atau sebenarnya sedang mendengarkan, tetapi terlihat seperti orang sedang mengantuk, karena bisa membuat suasana tidak enak.

Tapi Gus Dur pun menjawab, “Ente ngak ngerti ilmunya, ada caranya. Ini persoalan membangun kesadaran saja, yang bisa dilatih.”

Ilmu ini, kata Gus Dur, penting untuk bisa istirahat kapan saja. Tidur bagi Gus Dur bukan berarti kehilangan kesadaran.

Sejauh ini, belum ada orang yang mewarisi ilmu Gus Dur yang satu ini dan kalau memang bisa dilatih, bagaimana prosesnya, Gus Dur tak menjelaskan.

“Kalau pun bisa, belum tentu ada yang berani tidur ditengah-tengah acara,” tandasnya.

Penulis: Mukafi Niam

Dikutip: NU ONLINE
Terbitan: (Rabu, 08/02/2012 09:14)

Menggali Jawaban Alternatif dari Gus Dur

Menggali Jawaban Alternatif dari Gus Dur

Judul: Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman, Warisan Pemikiran KH Abdurrahman Wahid
Penulis: Abdurrahman Wahid
Pengantar: Jakob Oetama
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Terbit: Januari 2010
Tebal: xviii+182, 15 x 23 cm
ISBN: 978-979-709-459-1
Peresensi: Mahbib Khoiron

Bahwa Gus Dur terkenal sebagai penebar kontroversi tidak bisa dipungkiri lagi. Namun apakah ia inkonsisten dalam tindakan dan ide-idenya, tentu harus didudukkan kembali. Greg Barton dalam sebuah tulisannya memuji Gus Dur sebagai figur terbaik yang senantiasa konsisten dalam pikiran-pikrannya. Kita lantas mafhum bahwa dalam diri seorang tokoh bisa saja menyimpan karakter ganda sekaligus: satu sisi ia konsisten tapi di sisi lain ia kontroversial.

Menelusuri alur pemikiran Gus Dur  merupakan kerja ilmiah tersendiri. Pasalnya, tokoh yang satu ini selain melintas, bermain, dan terlibat langsung dalam pelbagai diskursus, kini ia telah menjadi sebuah diskursus itu sendiri. Banyak jalan yang bisa dipakai untuk memahami kompleksitas tingkah laku politik dan gaya unik aktifitas Gus Dur lainnya. Di samping menengok historisitas perjalanan hidup Gus Dur, hal paling lumrah dan jamak dilakukan peneliti adalah membaca akar epistemologis dan jalan pikirannya melalui uraian-uraian tertulis yang tersebar dalam bermacam bentuk tulisan. Mengingat, Gus Dur sendiri terkenal sebagai penulis produktif bercakupan luas yang turut menyesaki ruang media nasional.

Pada titik ini, ikhtiar Kompas menerbitkan kembali kumpulan tulisan bertajuk “Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman” karya guru bangsa ini patut mendapat perhatian. Gus Dur dalam buku ini secara apik melakukan analisa wacana atas isu-isu agama, politik, sosial, demokrasi dan kepemimpinan yang dikontekstualisasikan dengan perkembangan kondisi di Tanah Air. Peran ini memang menjadi bagian tak terlepaskan dari dirinya. Kedudukannya yang terpandang, meniscayakannya untuk senantiasa mengangkat isu, berkomentar, mengkritisi bahkan menawarkan solusi atas sejumlah problem yang tengah dijalani.

Sebagaimana dalam epilog buku ini, salah satu kecerdasan Gus Dur adalah keinginannya untuk selalu mencari dataran-dataran baru yang bisa menjadi titik temu bagi berbagai perbedaan. Tetapi titik temu yang dimaksud bukanlah sesuatu yang final. Ia hanya sebagai sebuah tempat untuk titik tolak yang darinya dapat diupayakan jawaban-jawaban baru yang lebih kreatif.

Menaggapi pertanyaan publik tentang kemungkinan seorang nonmuslim menjadi presiden di Indonesia, Gus Dur dengan mantap menjawab bahwa hal demikian bisa saja terjadi, jika mengacu pada bunyi Undang-Undang Dasar 1945 (hlm. 73).

Gus Dur mengembalikan apa yang secara instrinsik terkandung dalam konstitusi ini dengan penuh kesadaran. Meskipun diyakini akan menimbulkan reaksi keras dan tudingan-tudingan miring terhadapnya. Hal ini tentu berbeda dengan tawaran jawaban para pemikir dan elite Islam pada umumnya, yang cenderung menggunakan pendekatan formalistik sehingga berimbas pada peminggiran golongan tertentu di negerinya sendiri. Dengan menghindari sikap yang disebutnya sebagai ‘pandangan picik’, Gus Dur lebih nyaman menggunakan pendekatan konstitusional. Menurutnya, yang terpenting adalah “kenyataan tertulis yang pada hakekatnya merupakan cermin dari komitmen bersama yang telah disepakati.” (hlm 77).

Term “komitmen bersama” di sini menjadi kata kunci bagi peleraian dua ketegangan antara kecenderungan normatif dari agama dan kebutuhan riil dalam kehidupan bernegara. Betapapun juga negara ini dalam kesejarahannya didirikan atas semangat pengorbanan bersama yang melintasi batasan ras, suku, dan agama. Pilihan untuk melandaskan diri pada asas Negara bernama UUD akan menjauhkan bangsa ini dari kesulitan-kesulitan jangka panjang. Bagi Gus Dur, tak perlu bersikap naif dengan menyembunyikan kepentingan politik golongan tertentu melalui rekayasa tafsir atas undang-undang. Bukankah bervisi jauh ke depan mewujudkan cita-cita kebaikan bersama lebih bermakna daripada bersikap subyektif terhadap kenyataan tertulis hanya karena mengikuti kepentingan ideologis pribadi yang bersifat sesaat?

Pelajaran berharga lain kita temukan pula saat Gus Dur membicarakan soal hubungan antarumat beragama. Kemampuan masyarakat heterogen yang terdiri dari aneka unsur etinis, bahasa ibu, budaya daerah dan agama untuk hidup berdampingan tanpa saling mengganggu seringkali memuaskan banyak orang. Rasa puas ini termasuk kewajaran sikap dari kenyataan betapa langkanya kedamaian yang terbentuk di tengah masyarakat yang sangat majemuk seperti bangsa kita ini. Namun, Gus Dur akan mempersoalkan rasa puas ini, kalau memang yang dikehendaki adalah suasana kebersamaan yang berkesudahan sampai di situ saja.

Gus Dur membuat pemilahan istilah yang menarik tentang hubungan antarumat beragama (hlm 14-18). Tentu berbeda antara saling menghormati dan saling memahami. Pada poin yang pertama ini masyarakat hidup bertetangga dengan baik yang hanya disifati oleh tata krama dan saling tenggang rasa secara lahiriah belaka. Pola hubungan “harmonis” ini tidak memiliki daya tahan yang ampuh terhadap berbagai tekanan yang datang dari perkembangan politik, ekonomi dan budaya. Kerukunan berada dalam kondisi rapuh karena sesungguhnya yang terjadi bukanlah suasana optimal dari kesalingpengertian, melainkan sekadar sangat kurangnya kesalahpahaman.

Bentuk ideal dari suasana kehidupan pluralistik adalah saling pengertian atau memahami. Dalam kesalingpengertian tersimpan rasa senasib dan sepenanggungan. Rasa yang kemudian lahir adalah persaudaraan yang kukuh, karena ia tumbuh bukan atas kepentingan supaya tidak terganggu belaka, melainkan atas dasar saling memiliki (sense of belonging). Dari sini saling mengormati akan terbentuk dengan sendirinya dalam kualitas yang utuh. Nah, Gus Dur menilai, masalah pokok dari hubungan antarumat beragama terletak pada kurangnya pengembangan saling pengertian ini yang semestinya dilakukan secara tulus dan berkelanjutan.

Sekelumit cara pandang ini menunjuk kepada konsistensinya memelihara kehidupan agar tetap manusiawi, yakni lepas dari kepicikan dan kepentingan ideologis apapun. Sebagaimana pula ulasannya seputar kepemimpinan politik. Presiden keempat republik ini menceritakan gaya leadership para pemimpin teladan yang banyak dikagumi rakyatnya, misalnya Gandhi dengan personal leader-nya, atau pendiri imperium Meiji Ieyazu Tokugawa dengan capaian-capaian prestisiusnya. Tak hanya gaya khas yang mereka tampilkan, tapi juga pola kepemimpinan yang mampu membawa hasil baik tanpa terlalu banyak menumpahkan darah akibat kekerasan (hlm 47-53).

Selaku cendikiawan, negarawan, pemimpin ormas, dan kiai, kontribusi Gus Dur dalam hal pemikiran cukuplah banyak. Pembicaraannya mengenai beragam isu bukan saja menujukan perhatiannya terhadap realitas yang dihadapi, melainkan juga menyediakan lahan baru bagi pencarian jawaban-jawaban alternatif. Kesan bunga rampai dan keterikatan sejarah spesifik dalam tulisan-tulisannya memang tak bisa dielakkan. Tapi itu bukan berarti relevansi dari gagasan-gagasannya lantas hilang dan terbuang. Bukankah pencarian tak berkesudahan melalui pertimbangan banyak unsur pemikiran adalah sikap yang bijak bagi bangsa yang sedang berproses ini?

* Peresensi adalah santri pesantren Ciganjur

Sumber: NU ONLINE
Terbitan: (Senin, 31/12/2012 18:44)

BUKTI KECERDASAN GUS DUR

BUKTI KECERDASAN GUS DUR

Suatu waktu ada seseorang yang mengadukan masalahnya kepada Gus Dur: “Gus, mohon solusinya, saya sedang punya masalah besar. Usaha saya bangkrut, anak-anak butuh biaya untuk sekolah mereka dan istri saya akhirnya minta cerai.”

Gus Dur balik nanya: “Kira-kira bisa diatasi apa tidak?”

Dijawab: “Insya Allah bisa Gus!”

“Ya sudah ndak usah dipikirkan lagi,” jawab Gus Dur tenang.

Di hari lainnya, datang juga seseorang yang juga mengadukan masalahnya kepada Gus Dur. Ia berkata: “Maaf Gus, saya sedang punya masalah sangat besar dan banyak. Usaha saya bangkrut, istri saya minggat, hutang saya bertumpuk-tumpuk, setiap hari saya hanya bisa ngumpet kalau ada penagih datang ke rumah. Kira-kira solusinya bagaimana Gus?”

Gus Dur pun balik nanya: “Kira-kira bisa diatasi apa tidak?”

Dijawab: “Tidak bisa Gus!”

Gus Dur pun menjawab:“Ya sudah ndak usah dipikirkan lagi.”

Kang Said mengatakan: “Inilah yang dimaksud dengan Minallah wa Ilallah wa Billah.”

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap

Dikutip http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2014/02/bukti-kecerdasan-gus-dur.html?m=1

Beberapa Pengalaman Van Bruinessen dengan Gus Dur

Beberapa Pengalaman Van Bruinessen dengan Gus Dur

Peneliti NU asal Belanda Martin van Bruinessen memiliki banyak pengalaman akan beberapa aspek luar biasa dari Gus Dur. Meskipun demikian, ia memaknainya sebagai bagian dari kecerdasan luar biasa yang dimiliki oleh Gus Dur.

“Gus Dur seorang yang sangat rasionalis, tetapi disisi lain, ia juga sangat percaya macam-macam hal yang tidak masuk akal secara bersamaan. Ia wali gaya Jawa, bukan gaya Timur Tengah, yang nyeleh, memiliki  ilmu ladunni, bisa mengetahui yang orang lain tidak tahu,” katanya ketika ditemui NU Online di gedung PBNU, Sabtu (20/5).

Dari beberapa kali diskusi yang dihadiri oleh Gus Dur, ia sering melihat Gus Dur tertidur, tetapi kemudian ia bangun sebenar dan melontarkan pertanyaan yang pas, yang lebih cerdas dari pertanyaan orang lain yang menyimak dengan tekun.

Suatu kali, ia juga pernah meminta Gus Dur untuk memberi kata pengantar buku yang ditulisnya. Waktu itu Gus Dur sudah buta, dan ia yakin, tidak ada orang yang membacakan buku tersebut untuk Gus Dur sebagai bahan dalam menulis kata pengantar, tetapi ia mampu menulis kata pengantar yang isinya persis seperti yang dimaksud dalam kandungan buku tersebut.

“Penjelasan saya, ia orang yang sangat cerdas, punya daya ingat luar biasa,” paparnya.

Sebagai gambaran atas kecerdasan Gus Dur, ia mengungkapkan, dalam kunjungannya ke berbagai pesantren di Jawa, Gus Dur bisa mengingat nama-nama yang ia datangi sampai hal-hal yang detail dan tidak pernah salah. Ia selalu dengan akrab menanyakan aspek keluarga dari para kiai sehingga hubungannya menjadi sangat intim dan pribadi

Bruinessen berpendapat, Gus Dur merupakan produk budaya masyarakat Jawa yang memang menyukai aspek mistis. Ketika mengalami kebutaan, Gus Dur semakin tertarik dengan alam gaib, yang mana ia merupakan bagian penting dari dunia tersebut.

“Saya bisa mengerti mengapa Gus Dur dianggap sebagai wali,” terangnya.

Keberadaan Gus Dur juga dianggap sebagai pelindung oleh kelompok minoritas. Mereka melihat Gus Dur sebagai orang yang sudah dianugerahi oleh tuhan kemampuan seperti itu. Ada sesuatu diluar kemanusiaan yang ada pada diri Gus Dur yang tidak dimiliki orang lain

Dalam masyarakat selalu ada kebutuhan yang lebih daripada manusia biasa, yang lebih dekat dengan Allah. Banyak orang berfikir Gus Dur seperti itu.

“Gus Dur bukan tanpa kesalahan dan kelemahan, tetap ia orang baik yang membawa kebaikan dan membawa berkah untuk orang banyak,” paparnya.

Saat menjelang reformasi ia bertemu dengan seorang China yang sangat percaya Gus Dur akan melindungi. Mereka sendiri tidak tahu Gus Dur sendiri adalah manusia yang meminpin ormas Islam terbesar di Indonesia.

Ia juga pernah bertemu seorang pendeta Katolik yang mengatakan, Gus Dur dianugerahi kelebihan yang luar biasa oleh Allah. Agama Katolik juga mengenal konsep kewalian.

Penulis: Mukafi Niam

Dikutip: http://ploso.net/beberapa-pengalaman-van-bruinessen-dengan-gus-dur.html

Posted by Redaksi on May 24, 2011

Mbah Ma’shum: Simpul Jejaring Ruhani

Mbah Ma’shum: Simpul Jejaring Ruhani

MA’SHUM LASEM

Kyai besar dan Wali Allah yang amat dihormati di kalangan umat Islam ini, yang biasa disapa Mbah Ma’shum, adalah salah satu dari dua “Gembong Kyai” asal Lasem selain Kyai Baidhowi Abdul Aziz. Beliau senantiasa menjalin silaturahmi, jujur, mengayomi, menghormati tamu dan teguh menjaga kebenaran. Seluruh hidupnya diabdikan kepada masyarakat, terutama kaum papa. Beliau bahkan menganggap pengabdian ini sebagai laku tarekatnya. Menurut Denys Lombard, ahli sejarah terkenal, “[Mbah Masum] adalah seorang guru (kyai) dari Lasem yang kurang dikenal di tingkat nasional, namun kematiannya pada tahun 1972 menimbulkan guncangan hebat dari satu ujung jaringan ke ujung jaringan lainnya.”
Nama aslinya adalah Muhammadun, diperkirakan lahir sekitar tahun 1870. Ayahnya bernama Ahmad, seorang saudagar. Dari jalur ayahnya, beliau masih punya hubungan darah dengan Sultan Minangkabau, dan silsilahnya bersambung hingga ke Rasulullah. Ibunya bernama Nyai Qosimah. Mbah Ma’shum punya dua saudara, yakni Nyai Zainab dan Nyai Malichah. Sejak kecil Mbah Ma’shum telah dikirim ke beberapa pesantren untuk mendalami ilmu agama, di antaranya kepada Kyai Nawawi Jepara, Kyai Ridhwan Semarang, Kyai Umar Harun Sarang, Kyai Abdus Salam Kajen, Kyai Idris Jamsasren Solo, Kyai Dimyati Termas, Kyai HASYIM ASY’ARI Jombang dan Kyai KHOLIL BANGKALAN. Di Mekah beliau berguru kepada Syekh Mahfudz al-Turmusi dari Termas. Tanda-tanda keutamaan Mbah Ma’shum telah diketahui secara kasyaf oleh Mbah Kholil Bangkalan, seorang wali Qutub yang amat masyhur. Dikisahkan, sehari sebelum kedatangan Mbah Ma’shum ke Bangkalan, Mbah Kholil menyuruh para santri membuat kurungan ayam. Kata Mbah Kholil, “Tolong aku dibuatkan kurungan ayam jago. Besok akan ada ayam jago dari tanah Jawa yang datang ke sini.” Begitu Mbah Ma’shum datang, yang saat itu usianya sekitar 20-an tahun, beliau langsung dimasukan ke kurungan ayam itu. Mbah Ma’shum disuruh oleh Mbah Kholil untuk mengajar kitab Alfiyah selama 40 hari. Yang aneh, pengajaran dilakukan oleh Mbah Ma’shum di sebuah kamar tanpa lampu, sedangkan santri-santrinya berada di luar. Mbah Ma’shum hanya 3 bulan di Bangkalan. Ketika hendak pulang, Mbah Kholil memanggilnya dan didoakan dengan doa sapujagad. Lalu, saat Mbah Ma’shum melangkah pergi beberapa meter, beliau dipanggil lagi oleh Mbah Kholil dan didoakan dengan doa yang sama. Hal ini terjadi berulang hingga 17 kali.
Mbah Ma’shum menikah dua kali – nama istri pertama ada beberapa versi, sedangkan istri kedua adalah Nyai Nuriyah. Putra pertama Mbah Ma’shum, Kyai Ali Ma’shum, kelak menjadi pemimpin Pesantren Munawwir Krapyak, Yogyakarta, dan menjadi salah satu tokoh NU yang terkenal di tingkat nasional.
Sejak muda Mbah Ma’shum sudah hidup zuhud. Beliau sempat menjadi pedagang baju hasil jahitan Nyai Nuri, juga berjualan nasi pecel, lampu petromak, sendok, garpu, konde dan peniti. Sembari berdagang beliau juga menyempatkan diri untuk mengajar umat dan secara rutin berkunjung ke Tebuireng untuk mengaji kepada Kyai Hasyim Asy’ari, walau dari segi usia Mbah Ma’shum lebih tua. Mbah Ma’shum berhenti berdagang setelah bermimpi bertemu Rasulullah beberapa kali, di mana Kanjeng Rasul menasihatinya agar meninggalkan perdagangan dan beralih menjadi pengajar umat. Mimpi itu terjadi di beberapa tempat – di stasiun Bojonegoro, saat antara tidur dan terjaga, beliau berjumpa Kanjeng Rasul yang memberinya nasihat La khayra illa fi nasyr al-ilmi (Tiada kebaikan kecuali menyebarkan ilmu). Beliau juga bermimpi bersalaman dengan Kanjeng Rasul, dan setelah bangun tangannya masih berbau wangi. Beliau juga bermimpi bertemu nabi sedang membawa daftar sumbangan untuk pembangunan pesantren, dan berpesan kepada Mbah Ma’shum, “Mengajarlah … dan segala kebutuhanmu Insya Allah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.” Ketika dikonsultasikan dengan Kyai Hasyim Asy’ari, yang biasa memanggil Mbah Ma’shum dengan sebutan Kangmas Ma’shum karena sudah amat akrab, mengatakan mimpi itu sudah jelas dan tak perlu lagi ditafsirkan. Setelah mimpi-mimpinya itulah beliau menetap di Lasem dan istiqamah mengajar. Sebelum mendirikan pesantren, beliau berziarah dulu ke beberapa makam Wali Allah, seperti makam Habib Ahmad ibn Abdullah ibn Tholib Alatas, Sapuro, Pekalongan. Menurut Mbah Ma’shum, saat berziarah pada malam Jum’at, Habib Ahmad Alatas menemuinya dan memimpin doa bersama. Setelah itu Mbah Ma’shum keliling kota meminta sumbangan, dan berhasil mendapatkan sejumlah uang yang dibutuhkan untuk membangun pesantren. Selain ke makam Habib Ahmad, beliau juga sering mendatangi haul Habib Ali Kwitang, Jakarta, dan ke makam Mbah Jejeruk (Sultan Mahmud) di Binangun Lasem. Setiap kali berziarah ke makam Mbah Jejeruk ini Mbah Ma’shum selalu membaca Shalawat Nariyah 4444 kali dalam sekali duduk. Mbah Ma’shum juga istiqamah mengamalkan doa Nurun Nubuwwah selepas shalat Subuh dan Ashar. Setelah beberapa lama mengembangkan pondok, pesantrennya kemudian dinamakan Pesantren al-Hidayat. Tetapi agresi Belanda tahun 1949 membuat Mbah Ma’shum harus mengungsi, dan pesantren mengalami masa vakum sampai situasi tenang dan aman kembali.
Mbah Ma’shum selama mengajar banyak berperan aktif langsung dalam pendidikan santrinya. Beliau juga memiliki kebiasaan mengajar beberapa kitab yang diajarkan terus-menerus berulang-ulang – artinya jika kitab itu khatam, maka akan dimulai lagi dari awal. Di antaranya adalah pelajaran al-Qur’an, Fathul Qarib, Fathul Wahhab, Jurumiyah, Alfiyah, al-Hikam ibn Athaillah, dan Ihya Ulumuddin. Mengenai kitab al-Hikam ini Mbah Ma’shum menyatakan bahwa beliau mengkhatamkannya sebanyak usia beliau. Mengenai Kitab Ihya, beliau berujar, “Saya khawatir kalau melihat santri yang belum pernah khatam kitab Ihya tapi sudah berani memberikan pengajaran kepada umat; yah, semoga saja dia selamat …” Fathul Wahhab juga dikhatamkan sebanyak usianya, sehingga beliau pernah berkata bahwa ilmu Fiqh telah ada di dalam dadanya. Ketika beliau sudah berusia lanjut, kebanyakan santri yang datang kepadanya umumnya punya tujuan utama tabarrukan, atau mengambil barokah spiritualnya. Dalam mengajar santri Mbah Ma’shum amat disiplin dan istiqamah, sebab istiqamah adalah lebih utama ketimbang seribu karamah. Beliau juga tak segan-segan menegur khatib Jum’at yang khotbahnya terlalu lama dengan cara bertepuk tangan. Banyak muridnya yang menjadi kyai besar, seperti Kyai Abdul Jalil Pasuruan, Kyai Abdullah Faqih Langitan, Kyai Ahmad Saikhu Jakarta, Kyai Bisri Mustofa Rembang, Kyai Fuad Hasyim Buntet Cirebon, dan masih banyak lagi.
Sebagai kyai NU beliau juga gigih berjuang mendukung membesarkan NU bersama kyai-kyai lainnya. Beliau amat mencintai organisasi ini, sehingga beliau menyatakan tidak ridho jika anak keturunannya tidak mengikuti NU. Bahkan Mbah Ma’shum sendiri selalu didatangi oleh banyak kyai jika ada urusan penting di tubuh NU untuk meminta nasihat dan doanya. Misalnya ketika hangat-hangatnya pembentukan Jam’iyyah Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah, Mbah Ma’shum termasuk yang setuju, dan bahkan menjadi salah satu “petinggi” organisasi tarekat itu, walaupun beliau sendiri tidak mengamalkan praktik-praktik tarekat. Menurutnya, “Saya sudah menggunakan tarekat langsung dari Kanjeng Nabi Muhammad, yakni berupa Hubb al-Fuqara wa al-Masakin (mencintai kaum fakir miskin). Selain itu banyak pula tokoh lain yang sowan kepada beliau guna meminta doa restu. Hal ini juga dilakukan oleh Profesor Kyai Haji Mukti Ali saat diangkat menjadi menteri agama. Mbah Ma’shum bersedia mendoakan Mukti Ali jika dia mau mengikuti sarannya, yang salah satunya menunjukkan kebesaran jiwanya: “Engkau jangan sekali-kali membenci NU. Sebab membenci NU sama dengan membenci aku karena NU itu saya yang mendirikan bersama-sama ulama lain. Tetapi engkau pun jangan membenci Muhamadiyyah. Jangan pula membenci PNI dan partai lain … Kau harus dapat berdiri di tengah-tengah dan berbuat adil terhadap mereka.” Ketika pecah huru-hara PKI Mbah Ma’shum terpaksa melakukan perjalanan dari kota ke kota, karena beliau termasuk tokoh yang diincar hendak dibunuh oleh PKI.
Mbah Ma’shum wafat pada 28 April 1972 (14 Robiul Awal 1392 H) jam 2 siang, setelah shalat Jum’at. Upacara pemakamannya dibanjiri massa yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Pemakamannya dihadiri oleh banyak tokoh ulama, petinggi partai politik dan pejabat pemerintah.
Karamah
Sebagaimana umumnya para Wali Allah, Mbah Ma’shum juga dikaruniai karamah. Beliau tahu kapan dirinya akan meninggal. Ketika Kyai Baidhowi wafat pada 11 Desember 1970, Mbah Ma’shum menyatakan bahwa 2 tahun lagi dirinya akan wafat – pernyataan ini menjadi kenyataan. Menurut seorang saksi, Mbah Ma’shum ketika di depan jenazah Mbah Baidhowi, beliau seperti berbicara dengan almarhum, dan berkata, “Ya, 2 tahun lagi saya akan menyusul.”
Karamah lainnya adalah firasat yang tajam, mengetahui isi pikiran orang. Ada satu kisah karamah lain yang menunjukkan ketinggian kedudukan spiritualnya. Dikisahkan bahwa suatu waktu seusai shalat Dhuha, beliau dipijiti oleh santrinya yang bernama Ahmad hingga tertidur. Mendadak di luar kamar terdengar ada tamu menyampaikan salam. Ada sembilan orang tamu berwajah habaib, duduk melingkar di ruang tamu. “Mbah Ma’shum ada?” tanya salah satu dari mereka. Oleh Ahmad dijawab masih tidur, sambil menawarkan untuk membangunkannya. “Tidak usah,” kata tamu itu. Lalu para tamu itu berbicara satu sama lain dengan bahasa yang aneh, kemudian mereka membaca shalawat lalu berpamitan. Begitu para tamu beranjak keluar, Mbah Ma’shum memanggil Ahmad. “Ada apa Mad?” Setelah dijelaskan, Mbah Ma’shum menyuruh Ahmad memanggil tamunya itu. Namun dalam waktu sesingkat itu para tamu itu sudah menghilang. Kemudian Mbah Ma’shum memberi tahu bahwa mereka adalah Wali Songo, dan yang berbicara tadi adalah Sunan Ampel. Setelah memberi tahu jati diri mereka, Mbah Ma’shum tidur lagi.

Mbah Ma’Shum juga terkenal dg sebutan Kyai Bulus yg artinya mengajar murid2nya tanpa di sertai keterangan2 yg di perlukan si Murid, Beliau hanya membaca Kitab dg memaknai perkalimat saja, itupun dg suara yg gak jelas (Nggremeng bahasa jawanya).
Yg penting di baca, faham gak faham ya silahkan, seakan Murid2 Beliau setelah di ajar di tinggalkan begitu saja, sama seperti Bulus (Kura2) yg bertelur di pantai di biarkan begitu saja tanpa di erami menetas sendiri.
Namun Anehnya Murid2 Beliau mempunyai kefahaman yg lebih dari ketika ngaji di selain Kyai yg satu ini.
Kisah lainnya adalah ketika Mbah Ma’shum kehabisan persediaan beras. Lalu Mbah Ma’shum memimpin istighasah dengan membaca petikan sajak dari syair al-Burdah –  Wahai makhluk paling mulia (Muhammad), aku tak ada tempat berlindung kecuali kepadamu pada peristiwa malapetaka besar – sebanyak (kurang lebih) 80 kali, dan dilanjutkan doa memohon rezeki … dan pada saat itu seorang peserta, Ibu Nadhiroh menyela, “Amin, mbah, [beras] 1 ton ..” Mbah Ma’shum membalas: “tidak 1 ton, tapi lebih.” Beberapa hari kemudian datang beberapa orang memberi beras yang banyak sekali. Karamah mendatangkan beras ini sering terjadi. Dalam riwayat lain diceritakan Mbah Ma’shum pada suatu pagi seusai mengajar Alfiyah memanggil 12 santrinya, mengajak mereka mengamini doanya. Doanya sederhana saja, tanpa mukadimah dan tanpa penutup: “Ya Allah gusti, saya minta beras …” Jam 11 siang datang becak mengantar beberapa karung beras. Pada karung itu tertulis nama alamatnya pengirim dari Banyuwangi. Suatu ketika Mbah Ma’shum mengunjungi alamat itu, dan ternyata alamat itu adalah sepetak kebun pisang di daerah pedalaman dan di situ masyarakatnya tidak ada yang kelebihan rezeki sama sekali.

Terbitan: Posted by: Mbah Lalar  8 July 2011

Senin, 28 April 2014

Madinah dan Indonesia

Madinah dan Indonesia

Nabi Muhammad SAW berada di Makkah selama 13 tahun untuk membangun komunitas yang militan. Beliau melakukan proses kaderisasi yang ketat dengan menggelorakan ukhuwah islamiyah. “Yang Islam saudara, yang bukan Islam bukan saudara.” Inilah generasi pertama Islam.

Setelah itu beliau pindah ke kota Yasrif (Madinah). Kota ini ternyata sangat majemuk. Penduduk Islam lokal namanya Ansor, para pendatang dinamakan Muhajirin, dan orang Yahudi di sana terdiri dari tiga suku besar. Masih ada juga golongan lainnya musyrik dalam jumlah kecil.

Setelah melihat masyarakat Yasrif yang majemuk, maka Nabi Muhammad tidak lagi menggunakan istilah ukhuwah Islamiyah, tetapi ukhuwah madaniyah, persaudaraan untuk seluruh penduduk. Semua sama kedudukannya dalam hukum, siapapun dia. Siapapun yang salah, tidak melihat sukunya harus dihukum. Demikian sebaliknya. Inilah yang dinamakan tamaddun. Maka Yasrif kemudian diubah namanya menjadi Madinah.

Ini artinya kota yang sudah menggunakan nilai-nilai universal. Dalam Piagam Madinah terdapat 47 pasal. Nabi bertemu dengan seluruh pimpinan suku dan kemudian sepakat mengelurakan kesepakatan Madinah. (Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah: 120-122).

Dari 47 point, tidak ada kata Islam. Tidak satupun mengutip Al-Qur’an. Prinsip-prinsip universal saja yang digunakan. Malah dalam poin 15 disebutkan semua agama diberi kebebasan menggunakan agamanya masing-masing. Terakhir dalam Piagam Madinah ini disebutkan bahwa kesepakatan ini untuk membela yang benar.

Ini bukan omong kosong, yang selanjutnya ditaruh di rak saja. Terbukti ketika ada orang Islam membunuh Yahudi, Nabi marah besar dan bersabda: “Barangsiapa yang membunuh orang non Muslim, maka ia berhadapan dengan saya. Saya pengacaranya,” begitulah kira-kira. Luar biasa Akhirnya Nabi terpaksa mencari para donor untuk menyumbang ahli waris Yahudi sebagai ganti ruginya. Ini bukan omong kosong.

Lagi, suatu saat ada janazah yang lewat, Nabi berdiri untuk menghormatinya. Sahabat mengingatkan, "ini jenazahnya orang Yahudi." Nabi mengatakan, ”Ya saya tahu ini jenazahnya orang Yahudi”.

Nah, Indonesia ini kondisinya seperti Madinah, ada sekian agama, sekian etnis, sekian budaya. Maka menurut Nahdlatul Ulama (NU), untuk menjaga persatuan, Islam ini kita amalkan, namun tidak kita konsititusikan, tidak kita legalformalkan. Kita mengamalkan Islam setiap waktu: sholat, puasa, zakat, haji, dan mempraktikkan akhlak Islami, sementara negara kita biarkan sebagai suatu kesatuan (NKRI).

Dulu ada KH Wahid Hasyim, salah satu dari anggota tim sembilan PPKI. Ia setuju penghapusan 9 kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan. Ia juga mengusulkan adanya Departemen Agama yang fungsinya khusus untuk membangun keagamaan, agar hidup rukun antara agama dan menjalankan agama masing-masing dengan baik.

A. Khoirul Anam

Dikutip NU ONLINE
Terbitan (Jumat, 01/06/2012 10:30)

Kasih Sayang Rasulullah pada Fakir Miskin


Kasih Sayang Rasulullah pada Fakir Miskin

Salah satu yang menonjol dari Rasulullah SAW adalah sikap beliau yang lemah lembut dan sangat berempati dengan fakir miskin. Sebagai seorang pemimpin, beliau sendiri mengesankan diri sebagai orang miskin. Sehari-hari beliau memakai pakaian katun atau wol yang sederhana, tinggal di rumah yang sederhana dan makan minum dengan hidangan yang sederhana pula.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah SAW kedatangan seorang tamu yang sedang risau. Setelah berjumpa dengan Rasulullah, tamu tersebut pun berkata: "Wahai utusan Allah, celakalah aku!" Serunya.

Mendengar keluh kesah tamunya tersebut Rasulullah pun kemudian bertanya: "Apakah gerangan yang membuatmu celaka?”

Orang itu kemudian menjawab: "Aku berhubungan (intim) dengan istriku di (di siang hari) bulan Ramadhan".

Mendengar pengakuan sang tamu Rasulullah pun bersabda: "Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?"

Orang tersebut menjawab: "Tidak".

Rasulullah bersabda: "Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?"

Orang itu pun menjawab, "Tidak".

Kemudian Rasulullah memerintahkan si tamu tersebut untuk duduk dan beliau pun duduk

Tak berselang lama, seorang sahabat yang mengirim satu bungkus berisi korma kepada Nabi. Rasulullah kemudian memberikan satu bungkus korma itu kepada tamu yang sedang duduk seraya bersabda: "Bersedekahlah!".

Tanpa diduga orang itu berkata "Wahai Rasulullah, tidak ada di antara dua kampung ini keluarga yang lebih miskin dari kami.”

Mendengar pengakuan si tamu tersebut Rasulullah pun tertawa hingga terlihat gigi seri beliau. Kemudian beliau bersabada: "Ambillah korma ini, dan  berilah makan keluargamu."

Kisah ini menunjukkan betapa besar belas kasih Rasulullah kepada kaum fakir dan miskin. 

Rasulullah SAW merupakan figur pemimpin yang layak untuk diteladani oleh setiap umat Islam. Dalam diri beliau memang berkumpul seluruh akhlak yang terpuji sehingga oleh Allah SWT beliau dikaruniai gelar sebagai uswatun hasanah atau suri tauladan yang baik.

Dikutip NU ONLINE
Terbitan (Jumat, 27/07/2012 05:35)

Al Kisah: Ketika Perut Rasulullah Berbunyi


Al Kisah: Ketika Perut Rasulullah Berbunyi

Suatu ketika Rasulullah SAW menjadi imam shalat. Para sahabat yang menjadi makmum di belakangnya mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh Rasulullah bergeser antara satu sama lain.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai sholat, ”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, apakah Anda sakit?” Namun Rasulullah menjawab, ”Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”

Mendengar jawaban ini Sahabat Umar melanjutkan pertanyaannya, ”Lalu mengapa setiap kali Anda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit…”

Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya, Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Ternyata perut Rasulullah yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Rasulullah bergerak.

Umar memberanikan diri berkata, ”Ya Rasulullah! Adakah bila Anda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, lalu kami hanya akan tinggal diam?”

Rasulullah menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu ini. Tetapi apakah yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya?”

Para sahabat hanya tertegun. Rasulullah melanjutkan, ”Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.” (Anam)

Dikutip NU ONLINE
Terbitan (Jumat, 21/12/2012 05:07)

Al Kisah: Peletakan Hajar Aswad

Al Kisah: Peletakan Hajar Aswad

Semasa Rasulullah Muhammad SAW belum diangkat sebagai Rasul bagi seluruh alam, Beliau telah terkenal sebagai seorang yang sangat jujur, berlatarbelakang keluarga terhormat dan memiliki kelebihan mampu meredam pertikaian antar suku (kampung). Sehingga beberapa kali Muhammad muda dipercayai memberikan keputusan-keputusan krusial menyangkut kepentingan bersama.

Salah satu contoh paling populer tentang keberhasilan Nabi SAW menyelesaikan sengketa di antara kaumnya sebelum Beliau dimusuhi karena menyebarkan ajaran Islam adalah ketika terjadi peristiwa renovasi Ka’bah.

Kala itu, masyarakat Makkah merenovasi Ka’bah setelah musibah banjir yang menenggelamkan kota, termasuk bangunan Ka’bah. Kondisi ini memanggil mengundang orang-orang Quraisy harus membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian situs peninggalan leluhur mereka, Ibrahim AS yang tetap dijaga kelestariannya.

Menurut riwayat yang paling shahih, ketika itu Nabi berusia 35 tahun. Aktif terlibat dalam pembangunan dari awal hingga akhir. Pada awalnya, mereka bersatu padu, saling bahu membahu di antara mereka. Namun ketika pembangunan memasuki tahap-tahap akhir, yakni prosesi peletakan Hajar Aswad.

Mereka mulai berselisih pendapat, Siapakah tokoh di antara mereka yang layak mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad sebagai tanda peresmian penyelesaian renovasi dan mulai dapat digunakan kembali. Banyak pendapat bermunculan dan saling simpang siur. Masing-masing saling ingin mengedepankan pemimpin kelompoknya sendiri.

Hingga akhirnya Muhammad, Suami Khadijah ini mengajukan usul, ”Siapa pun yang besok pagi datang paling awal ke tempat pembangunan (renovasi) maka dialah yang berhak atas kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad.” Masyarakat pun menyetujuinya, mereka yakin ini adalah jalan terbaik bagi mereka.

Keesokan harinya, ternyata yang datang paling pagi, paling awal adalah Muhammad sendiri, maka Beliaulah yang berhak meletakkan hajar aswad sebagai tanda peresmian Ka’bah kembali. Namun Rupanya Muhammad bukanlah seorang yang egois. Ia kemudian membentangkan sorbannya menaruh hajar aswad di atasnya dan mengajak beberapa tokoh lain untuk turut serta meletakkan hajar aswad bersama-sama. Maka puaslah mereka atas keputusan Muhammad tersebut. Demikian tersebut dalam kitab Nurul Yaqin fi Siroti Sayyidil Mursalin. (A. Khoirul Anam)

Dikutip NU ONLINE
Terbitan (Jumat, 05/10/2012 05:03)

Menggapai Surga

Menggapai Surga

Rasulullah SAW bersabda: Gapailah surga dengan kesungguhanmu, dan larilah dari siksa neraka dengan kesungguhanmu. Sesungguhnya surga itu tidak pernah tidur bagi siapapun yang bersungguh-sungguh mencarinya. Neraka juga tidak pernah tidur bagi setiap orang yang ingin lari dari siksa neraka. Dan sesungguhnya surga itu dikelilingi oleh sesuatu yang kita benci, sedangkan neraka dikelilingi oleh segala kenikmatan dan syahwat.

Diceritakan Nabi Musa AS bermunajat kepada Allah SWT, lalu beliau bertanya: "Wahai Tuhanku, Kau ciptakan makhluk dan juga kenikmatannya. Kau beri mereka rezeki, kau ciptakan kiamat, dan ada surga juga neraka. Kenapa tidak semuanya Kau masukkan ke dalam surga saja?. Kemudian Allah menjawab:

"Wahai Musa, bangkit dan tanamlah padi,kemudian sirami setelah itu panenlah." lalu akhirnya Nabi Musa mulai menanam dan menyirami padi hingga masuk masa panen. Setelah masuk masa panen, Allah SWT bertanya kepada Nabi Musa AS:

"Wahai Musa bagaimana hasil panennya?." Nabi Musa pun menjawab: "Wahai Tuhanku semua padi telah saya panen." lalu Allah SWT kembali bertanya: "Adakah diantara padi-padi yg kau panen itu kau tinggalkan?. Kemudian Nabi Musa menjawab:

"Tidak ada satupun yang kami tinggalkan kecuali beberapa padi yang memang tidak ada isinya." Lalu Allah pun menjawab: "Begitu pula Aku wahai Musa, Aku tidak akan pernah memasukkan ke dalam surga orang-orang yang tidak ada isinya."(Jimmy Mustahimbillah)

Sumber: NU ONLINE
Terbitan (Jumat, 12/10/2012 09:49)

Al Kisah: Nasihat Sayyidina Umar tentang Budaya Meniru

Al Kisah: Nasihat Sayyidina Umar tentang Budaya Meniru

Madinah merupakan jantung peradaban Islam ketika itu. Umat Islam relatif masih mempertahankan gaya hidup sederhana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Namun jauh di luar kota Madinah, keadaannya sedikit berbeda. Banyak kota-kota yang telah mengenal kebudayaan imperium Romawi atau Persia memiliki kebiasaan menempatkan para pemimpin mereka di gedung-gedung megah, berpakaian mewah serta kebiasaan-kebiasaan aristokrat lainnya.

Sebagai khalifah Umar merasa khawatir para penguasa akan terjangkiti penyakit individualistik (tak perduli terhadap kondisi umat), materialistik (menumpuk kekayaan pribadi) dan hedonisitik (memburu kesenangan sesaat) sebagaimana para penguasa Persia dan Romawi.

Ia khawatir kebudayaan asing yang negatif tersebut dapat menggerus nilai-nilai bersahaja agama Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah. Untuk itu Umar merasa perlu untuk mengirimkan sepucuk surat kepada wali kota Azerbaijan, Uthbah bin Farqad.

Dalam hikayat Abu Utsman An Nahdi, Umar pernah mengirim surat kepada Uthbah, sang walikota Azerbaijan. Surat tersebut berisi peringatan Umar yang berbunyi

”Wahai Utbah bin Farqad! Jabatan itu bukan hasil jerih payahmu dan bukan pula jerih payah ayah dan ibumu. Karena itu kenyangkanlah kaum muslimin di negeri mereka dengan apa yang mengenyangkan di rumahmu, hindari bermewah-mewah, hindari memakai pakaian ahli syirik dan hindarilah memakai sutera.”

Teguran Umar ini berdasarkan hadis Rasulullah, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum berarti dia bagian dari kaum itu."

Demikianlah umar memaknai peniruan (tasyabuh) atas budaya yang negatif sebagai sesuatu yang berbahaya. Sikap meniru juga menunjukkan lemahnya kepribadian yang menciptakan generasi bunglon yang gampang terombang-ambing dan kerjanya cuma mengekor.

Sementara budaya mengekor ini dibahasakan oleh Rasulullah dalam hadis: “Kamu telah mengikuti sunnah orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka.” (Anam)

Sumber NU ONLINE
Terbitan (Jumat, 30/11/2012 19:24)

29 Mahasiswi Al-Azhar Mesir Keracunan

29 Mahasiswi Al-Azhar Mesir Keracunan

Luxor ~ Sebanyak 29 mahasiswi Universitas Al-Azhar di Luxor, Mesir, keracunan makanan. Ini kasus keracunan ketiga dalam satu tahun terakhir yang menimpa universitas Islam tertua dan paling berpengaruh di Mesir itu.

Dikutip dari laman Ahram Online, Kamis, 24 April 2014, kasus ini terjadi lantaran buruknya penyimpanan makanan sehingga makanan menjadi tidak sehat. Para siswa yang keracunan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sebagian besar dari mereka langsung diperbolehkan pulang setelah mendapat pengobatan. Hanya sembilan siswa yang diminta menginap untuk perawatan lebih lanjut.

Tahun lalu, hampir 700 mahasiswa kampus utama Al-Azhar di Kairo menderita keracunan dalam dua insiden yang hanya berjarak kurang dari satu bulan.

Kejadian ini memicu demonstrasi besar yang dilakukan para mahasiswa. Mereka menuntut pihak universitas yang dianggap lalai dan meminta Imam Ahmed El-Tayyeb, pejabat yang mengawasi sistem pendidikan Al-Azhar, dipecat.  Kepala universitas itu akhirnya dipecat menyusul insiden ini.

Sumber : Ahram Online via Tempo
Photo from student protest at Al-Azhar University against first food poisoning case earlier in April (Photo: Azhar student union media center)

Dikutip Muslimmedianews.com

Al Kisah Mbah Kholil, Orang Arab, dan Macan Tutul

Al Kisah Mbah Kholil, Orang Arab, dan Macan Tutul

Alkisah, seseorang berkebangsaan Arab berkunjung ke Pesantren Kedemangan, Bangkalan, Jawa Timur. Masyarakat Madura menyebutnya habib. Kala itu, Syaikhona KH Muhammad Kholil sedang memimpin jamaah sembahyang maghrib bersama para santrinya.
Usai menunaikan shalat, Mbah Kholil pun menemui para tamunya, termasuk orang Arab ini. Dalam pembicaraan, tamu barunya ini menyampaikan sebuah teguran, “Tuan, bacaan al-Fatihah Antum (Anda) kurang fasih.” Rupanya, sebagai orang Arab, ia merasa berwenang mengoreksi bacaan shalat Mbah Kholil.

Setelah berbasa-basi sejenak, Mbah Kholil mempersilakan tamu Arab itu mengambil wudhu untuk melaksanakan sembahyang maghrib. “Silakan ambil wudhu di sana,” ucapnya sambil menunjuk arah tempat wudhu di sebelah masjid.

Baru saja selesai wudhu, si orang Arab tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya seekor macan tutul. Dengan bahasa Arab yang fasih, ia berteriak dengan maksud mengusir si macan. Kefasihan bahasa Arabnya tak memberi pengaruh apa-apa. Binatang buas itu justru kian mendekat.

Mendengar keributan di area tempat wudhu, Mbah Kholil datang menghampiri. Mbah Kholil paham, macan tutul itu lah sumber kegaduhan. Kiai keramat ini pun melontarkan sepatah dua patah kata kepada macan. Meski tak sefasih tamu Arabnya, anehnya, sang macan langsung bergegas pergi.

Orang Arab itu akhirnya mafhum, kiai penghafal al-Qur’an yang menguasai qiraat sab’ah (tujuh cara membaca al-Qur’an) ini sedang memberi pelajaran berharga untuk dirinya. Nilai ungkapan seseorang bukan terletak sebatas pada kefasihan kata-kata, melainkan sejauh mana penghayatan atas maknanya.

Mahbib Khoiron
Sumber: wiki.aswajanu.com

Dikutip NU Online
Terbitan (Jumat, 03/05/2013 14:01)

Dikutip: Muslimmedianews
By http://m.facebook.com/elang

Simak http://ellangbassasnawawi.blogspot.com
http://sendang-karangampel.blogspot.com
https://m.facebook.com/nahdlatululamaahlussunnahwaljamaah
https://m.facebook.com/Newsinformationindonesia
https://m.facebook.com/groups/732231473482366?ref=bookmark

Kronologi Taubatnya Ustadz Wahhabi Afrokhi Abdul Ghani di Bantul

Kronologi Taubatnya Ustadz Wahhabi Afrokhi Abdul Ghani di Bantul

Pada hari Kamis malam Jum’at, 24 April 2014 adalah hari bersejerah kisah tobatnya ustadz Wahabi. Saat itu, sekitar 500-an umat Islam dari berbagai elemen ormas Nahdlatul Ulama (NU) bersatu mendatangi pengajian yang diisi ustadz Wahabi di Masjid dekat Lapangan Sidomulyo Bambanglipuro Bantul. Ormas NU seperti PCNU, Gerakan Muda NU (GMNU), Pagar NUsa, GP Anshor dan Banser NU sengaja datang mengikuti pengajian dengan penceramah Ustadz Wahabi yang bernama Afrokhi Abdul Ghani.

Ormas NU itu hadir untuk melakukan tabayun/ klarifikasi karena disinyalir isi ceramah Ustadz Afrokhi yang telah meresahkan umat Islam sehingga bisa menimbulkan perpecahan umat. Dalam ceramahnya, Ustadz Afrokhi yang asal Kediri itu yang kerap mengisi pengajian di Bantul dinilai menyinggung perasaan umat Islam karena suka menuduh sesat dan bid’ah amaliah ahlussunnah wal jama’ah NU.

Ketua MWC NU Bambanglipuro yang ikut memantau bersama jama’ah lain pun mengikuti pengajian hingga selesai. Materi pengajian Ustadz Afrokhi saat itu dinilai standar.

Setelah pengajian usai, salah satu rombongan Banser dari Bantul mendatangi Ustadz Afrokhi dan minta dialog perihal pengajian sebelumnya yang diadakan di Gulon Pundong yang mana isi ceramahnya menjelek-jelekan dan menuduh bid’ah sesat amaliah ahlussunnah NU seperti Ziarah Kubur, Maulid Nabi, Dzikir, dan Mujahadah. Pada kajian sebelumnya di Pudong pun, ceramah Ustadz Afrokhi telah membuat resah dan sudah terlalu melenceng jauh dari nilai-nilai agama Islam sampai-sampai pihak panitia sendiri menghentikan acara tersebut.

Komandan Banser Bantul Khozen menyatakan sahabat Banser punya bukti-bukti rekaman kajian Ustadz Afrokhi waktu itu sehingga dirinya minta adanya dialog agar tidak sampai memecah belah umat Islam.

“Kebetulan kami memiliki rekaman semua pernyataan itu sewaktu memimpin pengajian sebelumnya. Kami ingin ada dialog agar materi ceramah tidak sampai memecah belah umat Islam,” kata Komandan Banser Bantul, Jumat (25/4/2014).

Karena suasana dinilai tidak dikondusif dengan semakin banyaknya massa Banser NU yang terus berdatangan, akhirnya diputuskan Ustadz Afrokhi dibawa ke Mapolsek Bambanglipuro untuk melakukan mediasi. Dalam proses mediasi yang difasilitasi oleh Polres dan MUI Kabupaten Bantul itu dihadiri Komandan Banser Bantul, Ketua GP Ansor Bantul, Habib Sayidi, Drs. Damanhuri dari PCNU Bantul, dan lain-lain.

Mediasi pun berjalan damai hingga selesai jam 00:30 WIB dini hari dengan menghasilkan keputusan terbaik pernyataan tertulis dari Ustadz Afrokhi Abdul Ghani yang dituangkan dalam surat bermaterai. Surat itu kemudian ia bacakan sendiri di depan para alim ulama dan kiai yang intinya ia mengakui kajiannya selama ini adalah salah, dan meminta maaf, serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya yang tidak benar itu. Ia pun siap menerima sanksi dalam bentuk apapun bila terbukti melanggar pernyataan yang ia tulis sendiri.

Ustadz Afrokhi Abdul Ghani juga mengakui bahwa dirinya adalah anggota Majelis Tafsir Alqur’an (MTA) tetapi dalam surat pernyataan yang ia tulis itu diakui ia tidak mewakili ormas apapun. Surat pernyataan itu disimpan di Polsek Bambanglipuro dan copy tembusan dibagikan pada anggota Banser. Para Banser dan crew media kemudian membubarkan diri pukul 01.20 WIB.

Pernyataan Lengkap Tobatnya Ustadz MTA Afrokhi Abdul Ghani:
Dengan ini menyatakan bahwa apa yang saya sampaikan di Bantul dalam forum-forum pengajian yang isinya membid’ahkan, mengkafirkan, mensyirikan amaliah NU adalah salah. Maka dengan ini, saya mohon maaf kepada bapak, ibu, para ulama, dan seluruh warga NU, dan saya berjanji tidak akan mengulangi lagi. Dan apabila di kemudian hari saya melanggar pernyataan ini, saya siap menerima sanksi dalam bentuk apapun dan sanksi hukum. Apa yang saya sampaikan dalam ceramah tidak mewakili ormas apapun. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguh-sungguhnya.

    Bantul, 25 April 2014

    Saya yang menyatakan,

    Afrokhi Abdul Ghoni
Video Ustadz MTA Afrokhi Abdul Ghani Tobat di Bantul:

Sumber : http://www.elhooda.net

Dikutip Muslimmedianews.com

Mahmoud Abbas : PLO-Hamas Akan Mengakui Israel

Mahmoud Abbas : PLO-Hamas Akan Mengakui Israel

Ramallah ~ Presiden Palestina Mahmoud Abbas mensinyalkan bahwa pemerintahan bersama akan mengakui Israel. Pemerintahan baru tersebut merupakan gabungan antara faksi Palestine Liberation Organization (PLO) dan Hamas.

"Pemerintahan baru akan berada di bawah perintah dan kebijakan saya. Saya mengakui Israel dan pemerintahan baru pun akan mengakui Israel. Saya menolak kekerasan dan terorisme," ujar Abbas pada para pemimpin senior PLO di Tepi Barat, Ramallah, Sabtu (26/4/2014).

Perjanjian antara Hamas dan Fatah, partai milik Abbas, adalah membentuk pemerintahan elite baru yang mandiri dalam lima pekan ke depan. Pemerintahan tersebut akan melaksanakan pemilu paling tidak enam bulan setelah dibentuk.

Pandangan Hamas yang menolak mengakui Israel tidak mempengaruhi Abbas. Karena kedua belah pihak sepakat pemerintahan baru tidak akan memasukan anggota Hamas.

Juru Bicara Hamas Sami Abu Zuhri mengatakan, pengakuan Israel oleh Mahmoud Abbas bukan hal yang baru. Tetapi Hamas tidak akan pernah mengakui Israel.

Sumber : Reuters via Republika Online/ROL

Dikutip Muslimmedianews.com

Mahfud MD: Hari Ini Dalam Olahraga Saya Pakai Sepatu Dahlan Iskan

Mahfud MD: Hari Ini Dalam Olahraga Saya Pakai Sepatu Dahlan Iskan

Calon Presiden dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) adalah satu dari sekian banyak politis yang aktif di media sosial seperti Twitter. Ia pun rajin membalas setiap pertanyaan followers-nya.

Seperti sesaat lalu, Mahfud melayani JOKOCBHTC. JOKOCBHTC dalam akun Twitternya @jp_4376 mengatakan, kalau Mahfud bisa berduet dengan Dahlan Iskan, duet ini adalah pasangan yang cocok dan tepat.

"Kalau Prof Mahfud duet sama pak @iskan_iskan untuk negeri ini pasti mantap, apa ya bisa?" tanya dia.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu langsung menjawabnya, ia mengatakan dengan siapa saja bisa, termasuk dengan Dahlan Iskan yang kini menjabat Menteri BUMN dan rangkin pertama dalam Konvensi Capres Partai Demokrat.

"Ya, hari ini dalam olahraga saya pakai sepatu DI," demikian lewat akun @mohmahfudmd, Minggu (27/4/2014).

JOKOCBHTC pun langsung menimpalnya. "Semoga duetnya bisa terjadi," demikian @jp_4376.

Menteri BUMN Dahlan Iskan sudah lama mempromosikan sepatu baru buatan dalam negeri dengan merek "DI 19". Sepatu kets ini pun sudah diproduksi secara massal.

Sumber: JPNN

Dikutip: Muslimmedianews
By http://m.facebook.com/elang

Simak http://ellangbassasnawawi.blogspot.com
http://sendang-karangampel.blogspot.com
https://m.facebook.com/nahdlatululamaahlussunnahwaljamaah
https://m.facebook.com/Newsinformationindonesia
https://m.facebook.com/groups/732231473482366?ref=bookmark

Alhamdulillah, Masjid Muhammad Ramadhan Bekasi Kembali Normal Seperti Dulu

Alhamdulillah, Masjid Muhammad Ramadhan Bekasi Kembali Normal Seperti Dulu

Bekasi ~ Majelis maulid menggema di seantero Masjid Muhammad Ramadhan Bekasi pada Kamis (24/04/2014) bakda 'Isya. Maulid sekaligus peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW bisa terselenggara setelah Masjid MMR diamankan Pemkot Bekasi. Sebelumnya, kegiatan seperti ini tidak diperbolehkan selama beberapa tahun. Saat itu, Masjid MMR Bekasi dipegang DKM lama yang akhirnya dimonopoli kelompok tertentu yang menganut paham Islam radikal.

Para jama'ah yang berbeda paham dengan DKM lama kesulitan menyelenggarakan aktivitas dan pengajian dalam masjid. Anehnya, kepengurusan DKM lama justru malah mengundang ustadz-ustadz radikal seperti Abu Bakar Ba'asyir, bahkan deklarasi teroris ISIS Indonesia yang berasal dari Suriah pun pernah diselenggarakan di Masjid MMR lama.

Jama'ah yang kesal dan tidak ingin masjidnya dijadikan ajang terorisme protes dan mengadu kepada Pemerintah Kota Bekasi Selatan. Pemkot menjawab aduan para jama'ah dengan mengamankan masjid dan mengganti kepengurusan DKM lama dengan yang baru yang terbebas dari paham radikal. Kini, suasana Masjid Muhammad Ramadhan kembali normal seperti dulu, yang menerima semua aliran madzhab.

Dalam sambutan peringatan Maulid dan Isra Mi'raj sekaligus tasyakuran atas terbentuknya kepengurusan DKM baru, Ketua DKM Sukandar Ghozali, yang juga anggota Pimpiman Daerah Muhammadiyah Bekasi mengatakan saat ini Masjid Ramadhan terbuka untuk semua mazhab dan aliran umat Islam. Semua ditampung dan boleh melakukan kegiatan di Masjid Ramadhan.

”Masjid Mohammad Ramadhan bukan milik satu golongan, tapi milik semua umat Islam”, ujarnya.

Sukandar Ghozali merupakan salah satu warga dan pendiri pendiri Masjid Mohammad Ramadhan. Dijelaskannya, sudah sejak 2009 dicoba melakukan regenerasi dan pergantian kepengurusan DKM, tetapi selalu gagal karena DKM yang lama tidak mau dicopot. DKM lama dibawah kepemimpinan Nanang beranggapan bahwa DKM Masjid statusnya otonom dan tidak berada dibawah Yayasan Al-Anshar.

Ketua DKM baru ini juga mengatakan Nanang belakangan berubah, terlalu dipengaruhi paham pemikiran Abu Bakar Ba’asyir (JAT). Sejak 2004-2009 perjalanan DKM itu normal. Tapi sejak 2009, perubahan wacana pemikiranNanang itu mempengaruhi program kegiatan di Masjid Ramadhan. Banyak kegiatan cenderung ekslusif, yang membuat warga sekitar resah.

“Kami sudah lama menasehati dan berkali-kali mengingatkan. Tapi tetap tak ada perubahan. Beberapa kali dicoba untuk melakukan pergantian DKM juga selalu ditentang. Ustadz Nanang beranggapan DKM Masjid tidak di bawah Yayasan Al-Anshar. Begitu terus berulang-ulang. Maka Pemkot mengambil alih DKM dan mengadakan pergantian DKM dan saya mendapat amanah menjadi Ketua DKM.”

Sebagai Ketua DKM MMR yang baru, ia pun sering mendapat ancaman fisik maupun non-fisik, tapi itu tidak membuatnya mundur, bahkan hampir dibacok. Ia pun menyatakan dirinya punya laskar yang siap membantu, melindungi, dan menjaganya.

“Sejak menjadi Ketua DKM berbagai ancaman fisik dan non fisik terus saja terjadi. Ancaman non fisik itu dilancarkan melalui sms, dan ancaman fisik langsung ditujukan kepada diri saya. Tapi saya tidak gentar dan tidak mundur walau hampir dibacok”, ujar Sukandar.

"Saya ini kan juga penasehat FBR. Jadi saya punya laskar, yang bisa membantu, menjaga dan melindungi saya. Menjadi Ketua DKM ini perjuangan hidup-mati, untuk mempersatukan umat. Dari kami nanti akan ada penjelasan resmi tentang fakta-fakta terkait Masjid Mohammad Ramadhan ini. Nanti akan disiarkan melalui Radio Dakta”, lanjut Sukandar Ghozali.

Berkat perjuangan orang-orang seperti Sukandar Ghozali inilah, sekarang para jama'ah merasakan manfaat masjid MMR seperti sedia kala. Para jama'ah kini dapat leluasa menggelar kajian Islam ahlussunnah yang sebelumnya tidak diperbolehkan. Majelis Maulid dan Isra Mi'raj adalah salah satu contoh nyata.  Acara itu dihadiri Camat Bekasi Selatan Abi Hurairah, para Lurah se-Bekasi Selatan, Ketua DKM baru Drs. H. Sukandar Ghozali, serta ustadz Zainal Arifin, serta ratusan hadirin lainnya dari warga sekitar masjid, serta dari tempat lainnya.

Acara diramaikan dengan alunan indah musik rebana sejak ba’da Maghrib disertai pembacaan tahlilan. Pembaca acara menyatakan bahwa acaranya pada malam itu adalah “Maulid di penghujung dan Isro’-Mi’raj di awalan”.

Camat Bekasi Selatan Abi Hurairah menegaskan bahwa baru sekarang bisa mengadakan pergantian DKM. Masyarakat pun senang karena status masjidnya ditingkatkan menjadi Masjid Raya Bekasi Selatan yang berarti Pemkot ikut bertanggung jawab dalam hal pendanaan masjid.

”Dan kini status Masjid Ramadhan ditingkatkan dari Masjid Jami’, menjadi Masjid Raya Bekasi Selatan”, kata Camat Bekasi Selatan.

Alhamdulillah, ketentraman Masjid Muhammad Ramadhan/ Masjid Raya Bekasi sudah kembali, tidak ada lagi paham-paham radikal yang bercokol di masjid ini.

Dikutip: Muslimmedianews
By http://m.facebook.com/elang

Simak http://ellangbassasnawawi.blogspot.com
http://sendang-karangampel.blogspot.com
https://m.facebook.com/nahdlatululamaahlussunnahwaljamaah
https://m.facebook.com/Newsinformationindonesia
https://m.facebook.com/groups/732231473482366?ref=bookmark

Lirboyo Bershalawat pada 24 Mei 2014

Lirboyo Bershalawat pada 24 Mei 2014

Lirboyo Bershalawat bersama Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dari Solo Jawa Tengah akan digelar pada Sabtu malam Minggu, 24 Mei 2014 atau 25 Rajab 1435 H, pada pukul 19.30 WIB sampai selesai.

Acara ini dalam rangka Haul dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur'an.

Bertempat di lapanga barat Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur.

Umat Islam dihimbau untuk mengenakan pakaian putih (*/)

Muhammad Mukhlas Noer via facebook
Dikutip: Muslimmedianews
By http://m.facebook.com/elang

Simak http://ellangbassasnawawi.blogspot.com
http://sendang-karangampel.blogspot.com
https://m.facebook.com/nahdlatululamaahlussunnahwaljamaah
https://m.facebook.com/Newsinformationindonesia
https://m.facebook.com/groups/732231473482366?ref=bookmark

Pesan Islami : 'Islamku Bukan Arab Saudi

Pesan Islami : 'Islamku Bukan Arab Saudi'

Elang: Banyak cara untuk menyebarkan pesan-pesan Islami dalam upaya menyampaikan pemahaman yang tepat soal Islam. Salah satunya melalui stiker berupa pesan singkat yang ditempel pada sebuah mobil.

Itulah yang terdapat pada sebuah mobil carry hitam berplat nomor BP 1558 DB (plat nomor Kepulauan Riau). Foto mobil carry tersebut tersebar di jejaring sosial facebook.

Dibagian belakang mobil terdapat tulisan "ISLAMku BUKAN arab saudi". Pesan singkat itu seolah ingin menyampaikan bahwa Islam tidak sama dengan negara yang bernama Saudi Arabia. Arab Saudi adalah sebuah negara berbentuk kerajaan yang didirikan oleh Bani Saud dengan sekutunya. Awalnya kawasan tersebut bukanlah Arab Saudi tapi bernama Hijaz. Bani Saud bersama sekutunya berhasil merebut kekuasaan setelah melakukan pemberontakan terhadap Khilafah Turki Utsmani.

Tidak sedikit dari umat Islam yang memiliki pemahaman tidak tepat terkait Islam dan Arab. Mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang berbau ke "arab-araban" adalah Islami. Mereka seolah merasa belum sempurna "Islam"-nya kalau tidak arab.

Padahal umat Islam Indonesia meskipun sama-sama beragama Islam seperti umat Islam di Arab, tetapi masing-masing dari keduanya memiliki kekhasan budaya.

Ketua Tanfidziyah PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab) pernah mengatakan orang Indonesia yang beragama Islam adalah orang muslim yang tinggal di Indonesia serta memahami sejarah bangsa, sejarah masuknya islam ke Indoneia, serta budaya Indonesia. Perilaku beragama mereka tidak bisa dipisahkan dari budaya Indonesia. Muslim yang seperti ini biasanya akan mampu menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil’alamin Islam yang damai dan moderat.

KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengatakan bahwa “Islam kita itu ya Islam Indonesia bukan Islam Saudi Arabia, bukan berarti kalau tidak pakai jubah dan sorban Islam kita tidak diterima".

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini berpesan kepada umat Islam di Indonesia untuk meneladani Nabi Muhammad SAW secara tepat. Menurut dia, Nabi termasuk pribadi yang menghargai tradisi setempat dan berperangai menyenangkan. “Rasulullah SAW memakai jubah, sorban dan berjenggot ya karena tradisi orang Arab seperti itu. Abu Jahal juga berpakaian yang sama, berjenggot pula. Bedanya kalau Rasul wajahnya mesem (sarat senyum) karena menghargai tradisi setempat. Nah, kalau Abu Jahal wajahnya kereng (pemarah). Silahkan mau pilih yang mana?”.
Oleh : Ibnu Manshur
Sumber foto : akun Wahhabi Parlindungan  dan Muhammad Syahid Al-Maduriy. Dikedua akun facebook pengikut wahhabi sesat tersebut, foto diatas menjadi bahan mengolok-ngolok "NU" dengan kedangkalan yang mereka memiliki.
Link Terkait:
Gus Aab : Orang Indonesia Yang Beragama Islam atau Orang Islam yang Tinggal di Indonesia?
Gus Mus : Islam Indonesia, Bukan Islam Saudi Arabia

Dikutip: Muslimmedianews
By http://m.facebook.com/elang

Simak http://ellangbassasnawawi.blogspot.com
http://sendang-karangampel.blogspot.com
https://m.facebook.com/nahdlatululamaahlussunnahwaljamaah
https://m.facebook.com/Newsinformationindonesia
https://m.facebook.com/groups/732231473482366?ref=bookmark