Senin, 28 April 2014

Kasih Sayang Rasulullah pada Fakir Miskin


Kasih Sayang Rasulullah pada Fakir Miskin

Salah satu yang menonjol dari Rasulullah SAW adalah sikap beliau yang lemah lembut dan sangat berempati dengan fakir miskin. Sebagai seorang pemimpin, beliau sendiri mengesankan diri sebagai orang miskin. Sehari-hari beliau memakai pakaian katun atau wol yang sederhana, tinggal di rumah yang sederhana dan makan minum dengan hidangan yang sederhana pula.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah SAW kedatangan seorang tamu yang sedang risau. Setelah berjumpa dengan Rasulullah, tamu tersebut pun berkata: "Wahai utusan Allah, celakalah aku!" Serunya.

Mendengar keluh kesah tamunya tersebut Rasulullah pun kemudian bertanya: "Apakah gerangan yang membuatmu celaka?”

Orang itu kemudian menjawab: "Aku berhubungan (intim) dengan istriku di (di siang hari) bulan Ramadhan".

Mendengar pengakuan sang tamu Rasulullah pun bersabda: "Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?"

Orang tersebut menjawab: "Tidak".

Rasulullah bersabda: "Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?"

Orang itu pun menjawab, "Tidak".

Kemudian Rasulullah memerintahkan si tamu tersebut untuk duduk dan beliau pun duduk

Tak berselang lama, seorang sahabat yang mengirim satu bungkus berisi korma kepada Nabi. Rasulullah kemudian memberikan satu bungkus korma itu kepada tamu yang sedang duduk seraya bersabda: "Bersedekahlah!".

Tanpa diduga orang itu berkata "Wahai Rasulullah, tidak ada di antara dua kampung ini keluarga yang lebih miskin dari kami.”

Mendengar pengakuan si tamu tersebut Rasulullah pun tertawa hingga terlihat gigi seri beliau. Kemudian beliau bersabada: "Ambillah korma ini, dan  berilah makan keluargamu."

Kisah ini menunjukkan betapa besar belas kasih Rasulullah kepada kaum fakir dan miskin. 

Rasulullah SAW merupakan figur pemimpin yang layak untuk diteladani oleh setiap umat Islam. Dalam diri beliau memang berkumpul seluruh akhlak yang terpuji sehingga oleh Allah SWT beliau dikaruniai gelar sebagai uswatun hasanah atau suri tauladan yang baik.

Dikutip NU ONLINE
Terbitan (Jumat, 27/07/2012 05:35)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar