Rabu, 30 April 2014

Al Mukhtar Ats Tsaqafi : Sejarah Singkat Seputar Syiah Rafidhah


Al Mukhtar Ats Tsaqafi : Sejarah Singkat Seputar Syiah Rafidhah

Rafidhah (Syi‘ah) : Kisah Al Mukhtar Ats Tsaqafi
Orang yang pertama kali menyerukan dakwah imamah kepada Muhammad bin Hanafiah dari kalangan Kaisaniyah adalah Al Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi. Hal yang me­nyebabkannya melakukan hal itu adalah berawal sebuah dendam pribadi kepada orang-orang yang memusuhinya. Kisah itu bermula setelah Ubaid bin Ziyad mem­bunuh Muslim bin Aqil, keponakan Imam Ali bin Abi Thalib, dan Imam Hu­sain bin Ali bin Abi Thalib. Dikabarkan kepadanya bahwa Al Mukhtar Ats Tsaqafi adalah salah seorang yang turut serta dalam rombongan Muslim bin Aqil yang kemudian melarikan diri dan sem­bunyi.

Sesungguhnya kita pasti membaiat Al-Mahdi. Akan tetapi sesungguhnya Al-Mahdi memiliki satu tanda, yaitu bila ditebas dengan sebilah pedang dan kulitnya tidak tersentuh olehnya, maka dialah Al-Mahdi yang sesungguhnya.
Kemudian Ubaid bin Ziyad pun me­merintahkan pasukannya untuk menang­kap Al Mukhtar Ats Tsaqafi dan menyerahkan ke­padanya. Ketika Al Mukhtar ditangkap dan dibawa ke hadapan Ubaid bin Ziyad, tiba-tiba Ubaid melempar Al Mukhtar dengan tongkat yang berada di tangan­nya, hingga melukai kedua matanya, lalu memenjarakannya.
Namun Al Mukhtar diselamatkan oleh sekelompok orang. Ia pun melari­kan diri menuju Makkah dan berbaiat ke­pada Abdullah bin Zubair. Al Mukhtar ma­sih tetap berada di barisan Ibnu Zubair pada saat memerangi pasukan Yazid bin Muawiyah, di bawah pimpinan Al-Hushain bin Namir Al-Kufi. Dalam pe­perangan itu, Al Mukhtar terlihat sangat berambisi untuk memuaskan dendam­nya terhadap pasukan Syam.
Ketika Yazid bin Mu‘awiyah terbu­nuh, pasukannya menarik diri dari Makkah dan kembali ke Syam, sehingga wi­la­yah Hijaz, Yaman, Iraq, dan Faris jatuh ke tangan Ibnu Zubair.
Selanjutnya Al Mukhtar Ats Tsaqafi melarikan diri ke Kufah, ketika terjadi selisih pen­dapat antara dirinya dengan Ibnu Zubair. Pada saat itu Kufah dipimpin oleh Abdul­lah bin Yazid Al-Anshari sebagai walinya dari kubu Abdullah bin Zubair. Setibanya di Kufah, Al-Mukhtar mengutus orang-orang kepercayaannya kepada para pengikut Syiah Kufah dan yang ada di se­kitarnya, sampai wilayah Madain un­tuk membaiat­nya. Ia berjanji kepada mereka bahwa ia keluar untuk menuntut balas terhadap kematian Imam Husain di Karbala, dan mengajak mereka ke­pada imamah Mu­hammad bin Hanafiyah.
Al Mukhtar Ats Tsaqafi mendakwakan bahwa Muhammad bin Hanafiyah telah meng­ang­katnya sebagai wakilnya, dan meme­rintahkan mereka untuk taat kepada diri­nya. Pada saat yang bersamaan Ibnu Zubair mencopot Abdullah bin Yazid Al-Anshari dan mengangkat Abdullah bin Muthi‘ sebagai penggantinya.
Berhimpunlah orang-orang yang mem­baiat Al Mukhtar Ats Tsaqafi secara sembunyi-sembunyi, hingga jumlah mereka men­ca­pai kurang lebih 17.000 orang. Di an­tara mereka terdapat pula Abdullah bin Al-Hurr, orang paling pemberani di za­mannya, dan Ibrahim bin Malik Al-Asytar, tokoh paling berpengaruh di kalangan Syiah Kufah yang paling gagah dan pa­ling banyak pengikutnya.
Ibrahim bin Malik Al-Asytar kemudian ditunjuk oleh Al Mukhtar Ats Tsaqafi untuk memim­pin 20.000 pasukan guna menghadapi pasukan Abdullah bin Muthi‘. Pepe­rang­an sengit dan panjang berkecamuk an­tara keduanya, dan berakhir dengan ke­kalahan pasukan kubu Ibnu Zubair. Al Mukhtar menguasai Kufah dan wilayah sekitarnya, dan membunuh mereka se­mua yang terlibat dalam pembunuhan Imam Husain di Karbala.
Al Mukhtar Ats Tsaqafi  pun mendatangi rumah Umar bin Sa‘ad, seorang bawahan Ubai­dillah bin Ziyad, yang diperintah memim­pin pasukan untuk memerangi keluarga Imam Husain di Karbala. Al Mukhtar me­menggal kepala Umar bin Sa‘ad dan juga puranya, Ja‘far bin Umar bin Sa‘ad. Pada saat itu Al Mukhtar berkata, “Ini untuk Imam Husain dan yang itu untuk put­ra Imam Husain.”
Selanjutnya Al Mukhtar Ats Tsaqafi mengirim Ibrahim Al-Asytar bersama 6000 pasuk­an untuk memerangi Ubaidillah bin Zi­yad. Kala itu Ubaidillah berada di Mushal bersama 80.000 pasukan Syam. Ubaidil­lah diangkat sebagai panglima pasukan Mushal oleh Abdul Malik bin Marwan. Ke­tika kedua pasukan bertemu di ger­bang Mushal, pasukan Syam pun porak poranda, dan yang terbunuh dari mereka di medan perang, berjumlah 70.000 orang. Dalam peretempuran itu tewas pula Ubaidillah bin Ziyad dan Hushain bin Numair As-Sukuni. Ibrahim Al-Asyar lalu membawa kepala-kepala mereka kepada Al Mukhtar.
Setelah berhasil menguasai Kufah, Jazirah, Iraq, Syam, sampai perbatasan Armenia, Al Mukhtar pun banyak meng­ungkapkan ramalan-ramalan seperti hal­nya para tukang tenung, dan bertutur de­ngan bahasa sajak.
Berita ini pun sampai kepada Imam Muhammad bin Hanafiah. Beliaupun merasa takut terhadap akan terjadinya fitnah agama dari sisi Al Mukhtar. Imam Muhammad pun bermaksud ke Iraq, agar bisa menemui orang-orang yang meyakini imamah atas dirinya, mengajak mereka kembali kepada jalan yang be­nar. Mengetahui hal itu, Al Mukhtar Ats Tsaqafi pun menjadi resah. Ia takut, kedatangan Imam Muhammad akan menyebabkan hilangnya kekuasaan yang kini dipe­gang­nya. Maka Al Mukhtar pun berkata kepada pasukannya, “Sesungguhnya kita pasti membaiat Al-Mahdi. Akan te­tapi sesungguhnya Al-Mahdi memiliki satu tanda, yaitu bila ditebas dengan sebilah pedang dan kulitnya tidak ter­sentuh olehnya, maka dialah Al-Mahdi yang sesungguhnya.” Dan ucapan ini diarahkannya kepada Imam Muhammad bin Hanafiyah. Itulah sebabnya Imam Muhammad bin Hanafiyah tetap berdiam di Makkah karena khawatir ia akan di­bunuh oleh Al Mukhtar di Kufah.
Kemudian Al Mukhtar Ats Tsaqafi diperdaya oleh para pengikut Sabaiyah dari kalangan Ghulath Rafidhah. Mereka berkata ke­padanya, “Engkau adalah Hujjah pada zaman ini.” Mereka membawanya untuk mendakwakan kenabian. Al Mukhtar pun akhirnya mendakwakan kenabian di antara para pengikut pilihannya, dan mendakwakan bahwa ia telah men­da­patkan wahyu dari Allah SWT.
Inilah sebab-sebab yang mendorong Al Mukhtar Ats Tsaqafi untuk melakukan aktifitas tukang tenung, dan mendakwakan ke­nabian. Adapun sebab-sebab yang mem­buatnya berpendapat bolehnya ber­ubah pikiran (al-bada’) bagi Allah SWT adalah bahwa setelah Al Mukhtar melakukan ramalan-ramalan seperti hal­nya para tukang tenung dan mendak­wa­kan turunnya wahyu kepadanya, Ibrahim Al-Asytar, panglima utamanya, berbalik darinya dan tidak lagi berada di tengah pasukannya. Ibrahim Al-Asytar kemudi­an mengangkat dirinya sendiri sebagai penguasa negeri Jazirah.
Di lain pihak, Mush‘ab bin Zubair bin Awwam, penguasa Iraq dari kubu Abdul­lah bin Zubair bin Awwam, telah menge­tahui berpalingnya Ibrahim bin Asytar dari Al Mukhtar Ats Tsaqafi,  yang diikuti pula oleh banyak panglima-panglima pilihan Al Mukhtar, seperti Ubaidillah bin Al-Hurr Al-Ju‘fi, Muhammad bin Al-Asy‘ats Al-Kindi, dan banyak lagi dari para pembe­sar Kufah yang marah besar kepada Al Mukhtar karena telah menguasai harta benda dan budak-budak mereka.
Mengetahui Al Mukhtar Ats Tsaqafi sudah tidak lagi didukung oleh banyak panglima pi­lihannya, Mush‘ab bin Zubair pun sangat berhasrat untuk segera menumpas ke­kuatan Al Mukhtar , dan merebut kem­bali Kufah dari tangan Al-Mukhtar de­ngan jalan paksa.
Mush‘ab pun keluar bersama 7000 pasukannya, di samping para pembesar Kufah yang ikut bergabung dengannya, dari Bashrah menuju Kufah. Mus‘ab me­nunjuk Al-Muhallab bin Abi Shufrah dan para pengikutnya sebagai pasukan sa­yap depan dan Ubaidillah bin Ma‘mar sebagai pemimpin pasukan berkuda.
Setelah mendengar berita ini, Al Mukhtar Ats Tsaqafi memerintahkan sahabatnya, Ahmad bin Syumaith, untuk keluar ber­sama 3000 pasukan pilihan untuk meng­hadapi pasukan Mush‘ab bin Zubair, dan ia pun mengkabarkan kepada para pengikutnya bahwa kemenangan akan berada di pihaknya, dengan wahyu yang turun kepadanya.
Dua pasukan pun bertemu dan ter­jadi per­tempuran sengit antara kedua­nya. Namun, pada kenyataanya justru pasukan Al Mukhtar lah yang porak po­randa dan terkalahkan. Ahmad bin Syu­maith pun te­was terbunuh pada pepe­rangan itu ber­sama para pasukan pilihan Al Mukhtar.
Sebagian tentara Al Mukhtar Ats Tsaqafi yang berhasil melarikan diri dan kembali ke­padanya berkata, “Mengapa engkau men­janjikan kemenangan kepada kami?” Al Mukhtar pun berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan itu kepadaku, akan tetapi muncul pemikiran baru bagi-Nya.” Al Mukhtar pun mengutip firman Allah SWT, yang artinya, “Dan Allah menghapus apa-apa yang dikehen­daki­nya dan mene­tapkannya.” __ QS. Ar-Ra`d: 39.
Inilah yang kemudian menjadi dasar bagi kalangan Kaisaniyah yang berpen­dapat bahwa boleh bagi Allah SWT ber­ubah pikiran dalam janji dan ketetapan-Nya.
Kemudian Al Mukhtar Ats Tsaqafi pun memberi­kan kabar gembira kepada para pengi­kutnya, bahwa Mush‘ab bin Zubair akan terbunuh di tangannya. Akan tetapi dalam kenyataannya pasukan Al Mukh­tar lah yang porak poranda. Al Mukhtar bersama tak kurang dari empat ratus pengikut setianya yang tersisa  melari­kan diri dan berlindung di sebuah tempat bernama Darul Imamah di Kufah. Mush‘ab dan pasukannya mengepung Al Mukhtar selama tiga hari berturut-turut hingga me­reka didera kelaparan. Pada hari keempat mereka pun terpaksa keluar menghadapi pasukan Mush‘ab. Dalam pertempuran itu tewaslah Al Mukhtar Ats Tsaqafi bersama para pengikut-pengi­kutnya. (Islam Institute – MS – Majalah Alkisah)

Dikutip: Islaminstitute.com
By http://m.facebook.com/elang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar