Selasa, 29 April 2014

Kesaksian Non Muslim Soal Kewalian Gus Dur

Kesaksian Non Muslim Soal Kewalian Gus Dur

Gus Dur tokoh pluralis yang menjadi pembela kelompok minoritas. Tak heran ia memiliki banyak teman dari kalangan non Muslim yang merasa nyaman dan terlindungi oleh Gus Dur.

Beberapa teman dekatnya dari non muslim menyaksikan fenomena kewalian yang dimiliki oleh Gus Dur, seperti Marsilam Simanjuntak dan Irwan David Hadinata, sebagaimana dituturkan oleh Mahfud MD dalam bukunya “Setahun bersama Gus Dur: Kenangan menjadi Menteri di saat Sulit”

Catatan Mahfud MD menyebutkan suatu ketika ia bertanya kepada Marsilam Simanjuntak- seorang yang dikenal dekat dengan Gus Dur, sekalipun ia seorang non Muslim.

“Sebagai kawan lama Gus Dur, apakah Pak Marsilam mempercayai kegaiban,” tanya Pak Mahfud.

Jawaban Marsilam cukup mengherankan Pak Mahfud. Marsilam mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak percaya pada hal-hal seperti itu.

“Tetapi saya memang punya pengalaman aneh dengan Gus Dur,” ungkap Marsilam dengan mimik serius yang kemudian bercerita tentang kejadian pada 1999.

Pada pertengahan 1999, kelompok Forum Demokrasi (Fordem) mengadakan rapat untuk menggeser Gus Dur dari jabatan ketua. Menurut Marsilam, teman-temannya di Fordem banyak mengeluh karena Gus Dur telah lupa pada Fordem dan lebih banyak mengurus  Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Untuk itu, Gus Dur akan diminta mundur dari jabatannya sebagai ketua Fordem. Yang menarik, pada pertemuan itu, sebelum diminta oleh forum, Gus Dur langsung menyatakan akan berhenti karena merasa dirinya memang tidak tepat lagi memimpin Fordem.

Gus Dur mengaku sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk terus memimpin Fordem. Gus Dur juga mengatakan bahwa ia tidak seterampil serte teliti seperti Marsilam.

“Lagi pula, kemarin saya didatangi oleh Mbah Hasyim yang memberitahu bahwa bulan Oktober ini saya akan jadi Presiden. Jadi, saya tidak bisa terus di Fordem,” demikian Gus Dur menceritakan adanya berita gaib dari Kiai Hasyim Asy’ari.

Padahal, pada saat itu, nama Gus Dur belum muncul sebagai calon presiden yang signifikan. Poros Tengah yang kemudian mengusung nama Gus Dur saja ketika itu belum lahir.

Tidak aneh, kata Marsilam, banyak diantara orang Fordem yang mendengan pidato Gus Dur itu menanggapinya dengan sikap berbeda-beda. Ada yang tertawa karena menganggap Gus Dur melakukan improvisasi atas pengunduran dirinya, ada yang seperti sedih karena menganggap Gus Dur sudah tidak normal, tetapi ada juga yang heran karena ekspresi Gus Dur yang cukup serius ketika mengatakan itu. Dan ternyata, pada Oktober menjadi Presiden sesuai dengan pesan gaib yang –kata Gus Dur sendiri- diterima dari Kiai Hasyim Asy’ari.

Irwan David Hadinata, seorang mantan tentara dan alumus ITB yang kini bergerak dalam dunia bisnis, pernah menyampaikan cerita yang sama dengan cerita Marsilam kepada Mahfud MD. Menjelang Pemilu tahun 1999, kira-kira delapan bulan sebelum menjadi Presiden, Gus Dur memberitahu kepada Irwan bahwa dia akan menjadi Presiden. Dua bulan sebelum terpilih menjadi Presiden, Gus Dur kembali memberitahu bahwa pada bulan Oktober dia akan menjadi Presiden. Semula Irwan tidak terlalu serius menanggapi pemberitahuan itu dan untuk sekedar berbasa-basi saja kalau saat itu dia menjawab

“Mudah-mudahan Pak Abdurrahman Wahid benar-benar menjadi presiden.” Irwan menjadi sangat kaget ketika pada bulan Oktober 1999 Gus Dur benar-benar menjadi presiden.

“Di kalangan teman-teman pemuluk agama Katolik, Gus Dur itu disamakan dengan ‘Santo’ yakni orang suci yang dikalangan orang Islam disebut ‘wali’,” kata Irwan.

Penulis: Mukafi Niam

By NU ONLINE
Terbitan (Selasa, 10/04/2012 11:50)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar