Selasa, 29 April 2014

Gus Dur Lebih Istiqomah daripada Santri

Gus Dur Lebih Istiqomah daripada Santri

Semenjak Bulan September 2003 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membuka pengajian kitab Kuning di Masjid al-Munawwaroh Komplek Yayasan Wahid Hasyim, Jl. Warung Silah No. 10 Jakarta. Dan sejak saat itu, pengajian yang kemudian menjadi embrio kegiatan Pondok Pesantren Ciganjur hingga saat ini terus berlangsung dengan konsekwen sepanjang akhir masa hidup Gus Dur.

Pengajian yang semula hanya berlangsung pada bulan Ramadhan saja ini kemudian terus berkembang menjadi pengajian bulanan dan mingguan. Pengajian ini terus berlangsung dengan ajek dan istiqomah dalam asuhan Gus Dur meskipun jadwal Gus Dur sendiri sangat padat.
>
"Beberapa santri bahkan tetap melanjutkan tidurnya, meski Gus Dur sudang menyatakan akan mengaji suatu pagi. Gus Dur tidak pernah marah, meskipun beberapa santrinya pemalas," kenang Yunus, salah seorang santri senior.

Kelak ketika kemudian Gus Dur wafat, para santri membuat buku peryataan. Yunus yang merasa sebagai pemalas ini membuat tulisan dengan judul Menebus Dosa Sabtu Pagi. Tulisan ini merupakan refleksi dan apresiasi atas kesabaran dan keistiqomahan Gus Dur dalam menjaga nilai-nilai tradisi pesantren. Sabtu pagi adalah jadwal pengajian Gus Dur bersama para santrinya.

"Di tengah berbagai kesibukan tingkat tingginya sehari-hari, Gus Dur tetap menjaga tradisi dan identitas kearifan tradisionalnya. Gus Dur tetap mengaji dengan mengenakan baju batik rapi, meski beberapa santrinya belum mandi saat mengaji," tutur icank, salah seorang santri lain sembari berkelakar.

lebih lanjut icank menjelaskan, salah satu tanda kewalian adalah keimanan yang kuat beristiqomah dalam kebaikan. Para wali tidak memiliki kegundahan atas hal-hal yang menimpanya dan tidak pernah bersedih atas musibah-musibah yang dialami.

"Begitu pun Gus Dur yang selalu bisa melontarkan humor, meski kondisi sedang genting," tandasnya. (min)

Dikutip; NU ONLINE
Terbitan: (Ahad, 06/03/2011 15:16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar